Part 5: Pada Dahan Kokoh Aku Berharap

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Januari 2017
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

1.7 K
Part 5: Pada Dahan Kokoh Aku Berharap

oleh: Desy Febrianti

“Aku tidak tau kenapa aku masih saja bertahan dengan hubungan ini”

Kau menerawang mengalihkan pandanganmu jauh ke bawah bukit, berusaha menembusi kabut yang menghalangi pandanganmu. Aku masih membisu, menatap semua gerak laku mu. Lantas sesaat kau berpaling kepadaku.

“Dia begitu menjengkelkan, Sekar. Sangat menjengkelkan.”

Kau menggelengkan kepalamu, seolah tak bisa menerima keadaan dia yang tak lagi sesuai dengan imajinasimu. Aku menghela nafas. Rambut sebahumu nampak kusut dan semakin berantakan terkena angin perbukitan.

“Ah, sudahlah. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa berbuat se menjengkelkan itu.”

Kamu melanjutkan keresahanmu. Aku mendekatimu, berdiri disampingmu. Ku raih tanganmu, kuciumi telapak punggung tanganmu.

“Kamu baik-baik saja?” tanyaku.

Kau melirikku, sedetik kemudian kau tersenyum kecil dan mengacak-ngacak rambutku.

“Tentu saja, aku baik-baik saja.”

Katamu sambil  melingkarkan tanganmu di bahuku. Lalu kita berdua pun terdiam seolah hanyut dengan pikiran kita masing-masing. Aku menikmati dinginnya angin sore ini yang membelai pipiku dengan lembut. Akupun memejamkan mataku, berharap dapat mencecapi teduhnya suasana sore ini hingga ke hatiku.

“Kenapa dia berbuat seperti itu, Sekar? Kenapa seolah dia begitu membenciku?Kenapa seolah aku yang selalu menyakitinya?”

Suaramu membuyarkan semua keteduhan yang aku coba rangkai dalam jiwaku. Aku menarik nafas berat dan membuka mataku. Ku palingkan wajahku menghadap tepat di wajahmu. Matamu memerah, entah menahan kemarahan atau menahan kekecewaan yang mendalam.

“Ternyata kau tidak sedang baik-baik saja. Kau masih saja sibuk melukai dirimu sendiri. Kau masih saja suka menyiksa batinmu sendiri.”

Kataku sambil melepaskan pelukanmu pada bahuku dan melangkah menjauhimu yang masih terdiam menatapku.

“Hendak kemana, Sekar?” Kau melangkah mengikutiku.

“Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin duduk di batu itu.”

Jawabku perlahan, seraya meninggalkanmu berlari mengahampiri sebuah batu besar yang ada sekira lima depa di samping kita.

 “Tapi aku akan benar-benar pergi, jika kau masih saja mengulangi kebodohanmu itu berkali-kali.”

Kataku melanjutkan, sambil berusaha naik ke batu yang tertinggi. Kau berusaha membantuku naik.

“Maksudmu, kau tak lagi ingin menemaniku di bukit ini? Kau tak lagi mau mengenalku?”

Kau duduk tepat di sebelahku, bahu kita bersentuhan namun dengan arah pandang berbeda. Aku lebih memilih menatapi jejeran pohon pinus yang membentag di belakang bukit. Dan dirimu, masih saja suka menatap lereng bukit dan kabut.

“Untuk saat ini ranting sabarku masih banyak kok, tenang saja. Patah kan saja lagi.”

Jawabku sambil menyandarkan kepalaku pada bahumu. Aku tersenyum kecut.

“Terima kasih.”

Kau menghembuskan nafas, berat. Lalu kitapun kembali terdiam.

 

Jika aku harus pergi, semoga bukan karena senja atau gelap yang mengusirku dari sampingmu. Tapi karena memang dirimu yang tak lagi membutuhkan aku untuk ada di sebelahmu. Dan jika esok hari kau akan kembali mematahkan ranting sabarku, aku harap akan ada banyak ranting sabar yang tumbuh dari cabang yang lain. Dan apabila ranting sabar itu telah habis, aku masih berharap pada dahan yang lebih kokoh untuk tetap menyediakan tempat ternyaman bagimu bersandar.

Aku masih selalu berharap untuk bisa sabar dan memahamimu sebaik mungkin, jika engkau masih membutuhkan dan menganggap aku berarti.

 

 

 

  • view 138