Cinta Dalam Batasan Wangsa

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Januari 2017
Cinta Dalam Batasan Wangsa

Aku melihat wanita itu menangis, memeluk kaki Ayahnya yang kokoh berdiri dihadapannya. Dia tersedu sedan memohon ampun, menciumi kaki Ayahnya berharap akan ada belas kasih Ayahnya mengampuninya. Namun yang diharapkan tetap diam tak bergerak. Aku rasakan gemuruh hati Sang Ayah, Patih Kudanawarsa, menggelora tertekan namun tak berdaya. Ia mengepalkan tangannya menahan keinginan untuk memeluk putri cantiknya, Dewi Anggraini.

Sang Putri menggelesot ketanah, menciumi kaki Sang Patih dengan ketundukan yang sepenuh hatinya. Dari mulutnya masih tak henti-henti berucap ampun dengan lirih. Aku mendekati mereka. Kulihat kepasrahan yang memikat dari Dewi Anggraini untuk menerima hukuman dari Sang Ayah dan aku lihat keteguhan dan kepatuhan yang bulat dari Sang Patih untuk menjatuhkan hukuman pada Putri Cantiknya atas titah Raja Sri Jayantaka.

Aku beringsut, bergidik. Akankah seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri  demi menjalankan perintah Raja junjungannya, hanya untuk sebuah alasan sepele. Sang Patih menoleh kearahku, melirikku dengan tajam seolah bisa tau suara hatiku. Bulu kudukku berdiri, aku menundukkan pandang.

“Yang Mulia Sri Jayantaka memerintahkan agar aku membunuhmu, Putriku. Karena kau telah mengancam penyatuan dua kerajaan, Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Penyatuan dua kerajaan bisa gagal karena mu. Maka kau dianggap sebagai penghambat kejayaan.”

“Ampuni sahaya Ayahanda, ampuni sahaya. Mengapa harus menjadi ancaman?”

“Penyatuan dua kerajaan harus terjadi tanpa darah menetes. Dan itu dapat diwujudkan dengan perkawinan Dewi Sekartaji Candrakirana dan Purta Mahkota Inu Kretapati. Dan kau, telah lancang mencintai Sang Pangeran tanpa tau posisimu.”

“Ampuni sahaya Ayahanda, ampuni atas ketidaktahuan sahaya atas upaya penyatuan itu. Ampuni kelancangan saya atas perasaan terhadap Pangeran yang memang bukan selayaknya.”

“Bukankah masih banyak lelaki yang bisa kau pilih, yang sederajat dengan kita. Kenapa harus Pangeran?”

“Ampun Ayahanda, jika saya bisa memilih untuk mencintai. Tapi bukankah perasaan tak bisa memilih?”

“Tapi wangsa memilih, Putriku. Kau harus sadar, bahwa dia adalah Pangeran dari keturunan Sri Erlangga. Dan lihat kita, siapa kita? Aku hanya sudra yang ditinggikan oleh Sri Jayantaka, itu juga karena peran Sri Erlangga yang tidak mengakui Tri wangsa dan menganggap siapapun bisa berpindah kasta. Tidak kah kau sadar itu?”

“Ampuni Sahaya, Ayahanda. Sahaya telah hinakan Ayahanda dengan perasaan cinta sahaya. Sahaya serahkan hidup dan mati sahaya dihadapan Ayahanda.”

Dewi Anggraini memeluk kaki Sang Patih dengan pasrah dan tunduk yang dalam. Aku melihat Patih Kudanawarsa menarik kerisnya. Aku berlari menghampirinya berusaha mencegah Sang Patih dengan kerisnya. Tapi lengan itu terlalu kokoh dan kuat. Tarikanku tak berarti apapun. Sang Patih mengayunkan kerisnya pada dada Dewi Anggraini. Keris itupun menancap tertembus hingga kepunggungnya. Darah bercucuran, begitupun air mata Sang Putri. Di sela kematiannya, dia masih mencium kaki Sang Patih dan memohon ampun atas ketidak tahuan dirinya. Sang Patih memejamkan matanya, bergolak hatinya seiring dengan deru nafasnya yang berat.

Dan aku limbung, kurasai keris itu menancap tepat di ulu hatiku. Badanku basah, merah. Nafasku tersengal dan penglihatanku mulai terasa gelap. Antara sadar dan tidak aku mendapati tubuhku tersungkur, jatuh mencium tanah. Kurasakan darahku membasahi wajahku dan semua terasa dingin pengap.

Aku terhenyak, mataku mengerjap. Ku usap wajahku yang basah oleh keringat. Pada tanganku masih menggenggam buku yang aku baca menjelang tidur. Ku raih handphone yanga da di tanganku, jam menunjukkan pukul 4 dini hari. Ada pesan mu, singkat saja “Iya”..ah, kau terlambat Mas.

Aku meraba dadaku, tak ada bekas tusukan keris itu. Tapi ngilu masih aku rasakan di hatiku atas kematian Dewi Anggraini. Kematian cinta yang berbeda wangsa. Apakah memang harus berakhir begitu? Ketika Dewi Anggraini memiliki perasaan cinta terhadap seorang Putra Mahkota yang akan menjadi pewaris Kerajaan Jenggala dan Panjalu dan mengganggu eksistensi seorang Putri Dewi Sekartaji Candrakirana, mestikah harus dibayar dengan nyawanya kesalahannya itu?

Aku menarik nafas berat, pedih. Tidak ada wangsa dalam kepercayaanku. Tapi mengetahui bahwa aku bukanlah saingan dan dianggap tidak setara oleh dia, adalah kepedihan tersendiri. Siapakah engkau Dewi, yang menganggapku lebih rendah? Apakah aku memang menjadi pengganggu eksistensimu? Apakah aku mengurangi superioritasmu?

Dan siapakah engkau, orang yang kerap merasuk dalam pikirku saat ini? Adakah engku seorang Sudra, Ksatria atau Brahmana? Adakah engkau seorang Putra Mahkota atau kah sudah menjadi Raja?Apakah aku terlalu hina untuk berada di dekatmu?

Jika Dewi Anggraini harus menebus kesalahannya mencintai Inu Kretapati dengan nyawanya. Maka dengan apakah aku harus menebusnya? Jika aku bukanlah dari wangsamu, duhai Lelaki, dan aku dianggap tak layak untuk ada di dekatmu, maka berilah ampunmu padaku. Karena aku pun tak bisa memilih kepada siapa harus aku jatuhkan perasaanku. Bukankah ada hikmah atas setiap pertemuan? Dan aku bersyukur, mendapatkan engkau hadir dalam hari-hariku, setidaknya aku tau bahwa untuk melihat edelweiss membutuhkan perjuangan mendaki bukit.

 

 

 

  • view 123