Karena Dunia adalah Tempat Bersabar

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Desember 2016
Karena Dunia adalah Tempat Bersabar

 

Oleh Desy Febrianti

“Karena padanya ada suri tauladan terbaik, dialah Uswatun Hasanah”

 

“Dunia adalah tempat bersabar bagi orang-orang mukmin, biarlah kebahagiaan akan utuh kita raih di surga Nya kelak..” setidaknya demikian hikmah yang aku dapat di malam pengajian dan sholawat bersama yang aku ikuti di sebuah pesantren tak jauh dari rumahku. Ustadzah Halimah Alaydrus yang menjadi pengulas mutiara hikmah menguraikan bagaimana kita umat islam seharusnya bersabar atas setiap ujian di atas bumi ini, sebagaimana yang telah Baginda Rosullah Muhammad ajarkan kepada kita.

  1. Sabar ketika ditinggal orang-orang tercinta

Sejak lahir, Nabi Muhammad adalah anak yatim dan pada usia 5 tahun Ibunda tercinta juga meninggal. Ketika menikah dengan Siti Khadijah, beliau di karunia beberapa anak laki-laki namun semua anak laki-lakinya meninggal di usia yang masih sangat belia. Hingga di akhir masa hidupnya, beliau hanya memiliki satu orang anak perempuan yaitu Siti Fatimah yang sangat di cintainya. Selama hidupnya, Beliau harus pula menghadapi kematian-putri-putrinya yang lain. Dalam hal ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa Rosulullah saja mendapatkan ujian berupa ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya dan beliau memilih untuk tetap bersabar atas ujian tersebut.

  1. Sabar ketika dihinakan

Melalui perjalanan Isra’ Mi’raj, Rosulullah menjadi manusia satu-satunya yang yang dengan ijin Allah telah melintasi langit ke tujuh untuk melihat surga dan neraka. Beliau juga mendapat ijin untuk bertemu langsung dan melihat wajah Allah semasa hidupnya. Sungguh, beliau adalah manusia pilihan yang dimuliakan oleh Allah. Namun taukah, manusia pilihan Allah itu mendapatkan hinaan yang luar biasa dari kaum Quraisy. Sampai keluarga beliau selalu cemas dan ketakutan menunggu Sang Rosul pulang ke rumah. Karena sering kali beliau pulang dengan tubuh penuh lumpur, kotoran yang baunya luar biasa, memar dan luka sekujur badan.

Ada sebuah kisah yang menyebutkan bahwa ketika Rosul solat dalam keadaan bersujud, seorang Quraisy menumpahkan isi perut unta yang sudah di sembelih tiga hari lalu yang sudah busuk dengan bau sangat menyengat hidung. Dan kotoran itu ditumpahkan tepat di punggung beliau hingga semua badan serta muka beliau berlumur kotoran menjijikkan itu. Tapi apakah Rosululloh membalas atau bahkan mendoakan hal yang buruk? Tidak, beliau lebih memilih bersabar atas semua perlakuan orang-orang Quraisy terhadapnya.

  1. Sabar ketika mendapat penolakan dari kaumnya

Pada masa awal kenabian dengan bagitu banyaknya tekanan dikota Mekkah, Rosululloh mengajak salah seorang sahabat untuk menemaninya ke kota Thaif. Dikota itu Rosulullah pernah tinggal dan memiliki banyak sahabat serta keluarga. Kota Thaif terletak sangat jauh dari Mekkah, namun harapan akan mendapatkan penerimaan dan perlindungan oleh orang-orang yang pernah dekat dengannya telah menumbuhkan semangat di hati Rosulullah sehingga beliau tidak menghiraukan segala kepayahan menuju kota tersebut. Sesampainya disana, bertemu lah Rosulullah dengan pemuka-pemuka Thaif yang pernah dikenalnya. Namun, bukannya penerimaan dan perlindungan yang didapatkan pemuka Thaif mentertawakan semua penjelasan Rosulullah terkait kenabiannya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai menahan perutnya sambil mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila. Nabi bersabar dan segera pamit pulang. Semua harapan akhirnya pupus sudah. Namun, penderitaan belum berakhir disitu. Para pemuka Thaif menyuruh anak-anak kecil yang lewat untuk mengolok-ngolok Nabi dengan sebutan orang gila serta melemparinya dengan batu. Seorang sahabat yang mengiringkan beliau ke Thaif tidak mampu melindungi Rasul dari lemparan batu, sehingga seluruh tubuh dan kaki Rosulullah terluka dan berdarah. Sahabat tersebut hanya bisa menangis melihat kondisi Rosulullah yang sangat memprihatinkan. Luka di tubuh di tambah dengan luka hati atas pupusnya semua harapan. Pada saat itu, Jibril menawarkan tawaran untuk menghancurkan kota tersebut. Namun Rosulullah menolak dan lebih memilih bersabar.

  1. Sabar ketika berada dalam kemiskinan yang papa

Ketika memuncaknya kebencian Bangsa Quraisy terhadap Nabi serta keluarganya, Abu Thalib menyuruh Rasul serta keluarganya untuk tinggal di sebuah lembah di luar kota Mekkah. Lembah tersebut saat ini dikenal sebagai lembah Thalib. Paman Nabi membangunkan rumah yang sedehana. Ketika kaum quraisy mengetahu lokasi pengasingan nabi, mereka melakukan boikot terhadap nabi. Mereka mengeluarkan aturan untuk tidak melakukan jual beli kepada nabi dan keluarganya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari nabi serta istrinya hanya bisa mengharapkan kiriman makanan dari orang-orang mekkah. Lapar yang sering melanda hingga menyebabkan nabi mengganjal perutnya dengan batu kerikil untuk sekedar menjadi pengganjal perutnya. Bahkan Siti Khadijah sering kali mencari-cari rumput untuk di makan manakala lapar sudah terasa tak terhankan.  

Tempat tinggal nabi juga sangat sederhana dan kecil dengan alas tidur hanya pelepah kurma yang ketika nabi tidur meninggalkan bekas pada wajah dan seluruh badannya. Hal ini sangat berbeda dengan raja atau pemimpin yang lain yang tinggal di sebuah istana dengan tempat tidur yang empuk dan nyaman. Dan Nabi Muhammad lebih memilih bersabar atas ujian kemiskinan tersebut.

  1. Sabar ketika menghadapi sakit

Sebagimana manusia yang lain, Nabi Muhammad juga seringkali mengalami sakit. Dan sakit yang paling beliau sukai adalah sakit panas, karena suhu badan yang panas dari ujung rambut sampai ujung kaki akan menyebabkan gugurnya dosa-dosa. Pada suatu kali, Rosulullah menderita panas selama 40 hari. Suhu yang tinggi menyebabkan kesakitan dan badannya melemah. Rasul hanya bangkit ketika mendengar Bilal adzan untuk memimpin solat berjamaah, setelah itu Beliau kembali berbaring menahan panas.

Penderitaan sakit yang dialami Rasulullah juga terjadi ketika orang-orang kaum Quraisy mengirim sihir melalui bantuan para wanita yang kekuatan sihirnya terkenal sangat kuat di seantero jazirah arab. Nabi terkulai lemah tak berdaya oleh sihir tersebut. Hingga turunlah surat An-nas dan Al Falaq, yang di firmankan Allah untuk membantu nabi terlepas dari Sihir tersebut. Nabi meminta Ali untuk turun ke sebuah sumur, dan mencari ikatan rambut Beliau yang diikatkan kepada sihir-sihir perempuan penyihir. Sumur yang dalam dengan bau busuk itu di kuras oleh Ali untuk mendapatkan ikatan tersebut, kemudian dengan petunjuk Nabi, Ali melepaskan sebelas ikatan tersebut sambil membaca surat Annas dan Al Falaq. Fatimah mengisahkan, setiap satu ikatan terlepas Nabi merasakan kesakitan luar biasa hingga seperti dadanya seperti ditekan oleh beban yang kuat. Dan Nabi, lebih memilih bersabar dan tidak membalas perbuatan orang-orang Quraisy tersebut.

 Lalu, pantas kah kita merasa ujian yang menimpa kita adalah seberat-beratnya ujian hidup? Bukankah Nabi, manusia pilihan Allah, kekasih Allah, justru mendapatkan ujian yang jauh lebih besar dan tetap saja bersabar? Jika Rasululloh mau, maka Beliau bisa saja berdoa dan meminta kepada Allah untuk diberi kebahagiaan di dunia dilepaskan dari semua ujian dan agar Allah mau memberi balasan setimpal bagi orang-orang yang memusuhinya. Namun Rasulullah tidak melakukan itu dan justru memilih bersabar. Inilah pelajaran bagi kita ummatnya, agar kita mau tetap bersabar atas semua ujian hidup yang terjadi. Karena dunia adalah tempat bersabar, dan biarlah kebahagiaan menjadi milik kita yang utuh di surga kelak bersama dengan manusia paling sabar di bumi ini.

 

“ Assalamualika ya Rosululloh.. Assalamualika ya Habibulloh.. 
Pandanglah kami ya Rosul, kami adalah ummat mu.. Ijinkan kami minum dari telaga mu di akhirat kelak, hadirlah saat timbangan amal kami di padang masyar, tunggu dan selamat kami di sidrotul muntaha.. 
Meski kami adalah umat yang kesabarannya tak sebanding dengan kesabaranmu, meski kami tertatih2 menggenggam ajaranmu, meski kami kadang lalai dari menjalankan sunnahmu, meski kami masih saja suka melakukan aib yang akan membuatmu malu atas perbuatan kami.. Akuilah kami sebagai ummat mu wahai Nabi Allah..
Karena kami, membutuhkan syafaatmu di akhirat kelak sebagai pemberat timbangan amal kebaikan kami..”

Allohummasholli ala Muhammad..

 

#Disarikan dari hikamah Pengajian dan Sholawat Bersama di Ponpes Walisongo Situbondo bersama Ustadzah Halimah Alaydrus, tanggal 12 Robiul Awal 1438H)

Dilihat 232