Part 4: Memeluk kerapuhan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Desember 2016
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

1.9 K
Part 4: Memeluk kerapuhan

Oleh Desy Febrianti

Aku masih saja selalu mengunjungi bukit ini, menyaksikan bagaimana awan berarak yang menutupi hamparan ilalang dan pohon-pohon pinus. Sepertipun sore ini, meski aku tau tak akan ada engkau akan datang. Aku tetap datang ke bukit ini. Hanya untuk menyadarkan hatiku sendiri yang sudah berbulan-bulan terlelap mengagumimu.

Angin semilir berhembus, dingin menusuk tulangku. Aku merapatkan selendang lusuh yang membalut tubuhku. Kaki telanjangku, ku biarkan bermain-main dengan batang ilalang patah, terasa sedikit perih dan gatal namun aku abaikan. Aku masih saja menatapi awan, menggambarkan sosokmu yang masih lekat dalam ingatan.

“Nduk, masih disini?” suara nenekku mengagetkanku. Ku seka airmataku yang ada di sudut mataku. Aku mengangguk.

“Pulanglah Sekar, dia tak akan datang. Jangan sia-siakan waktu mu untuk menunggunya.” Nenek membelai punggung tanganku dan duduk di sebelahku.

“Apa yang kau harapkan dari seorang yang hanya datang berkunjung tanpa keinginan tinggal? Dia hanya berkunjung Sekar, dan memang seharusnya pulang. Bukankah nenek sudah melarangmu menemuinya. Disana bukan tempatmu, nduk. Hidup dan bahagiamu di bukit ini.” Nenek meraih tanganku, menggenggamnya erat.

“Aku hanya merindukannya nek, aku pikir dia juga merindukanku.” Suaraku tercekat. Aku menahan airmataku, namun tak kuasa karena airmata itu terus saja menuruni tebing pipiku.

“Tidak sepatutnya Sekar kau menempuh perjalanan sejauh itu, karena kenyataan yang kau dapati dia sudah memiliki perempuan lain untuk dirindukan bukan?” Nenek menatapku, meraih daguku untuk melihat air mataku.

“Usaplah airmatamu, lupakan dia. Anggap semua kisah mu dan dia sebagai hadiah yang diberikan Tuhan kepadamu. Dan sekarang hadiah itu sudah selesai. Hiduplah seperti dulu. Bukit ini, dusun ini masih cukup indah bukan untuk bisa membuatmu tersenyum?” Nenek tersenyum mengusap airmataku.

“Apakah ini artinya aku mencintai dia Nek?” Aku bertanya dan menggit bibirku menahan pedih. Nenek kembali tersenyum.

“Apapun yang kau rasakan terhadap lelaki itu, simpan saja sebagai sebuah kisah lalu. Tutup dalam hatimu dan lupakan. Tidak perlu memberinya nama, karena wujudnya juga belum nyata.” Nenek memelukku. Dia membiarkan aku menumpahkan laraku didadanya yang rapuh diusia senjanya.

“Kenapa harus ada yang datang kalau akhirnya hanya akan pergi nek?Kenapa harus aku?” Aku tergugu dalam dekapan nenek.

“Karena hidup bukan hanya tentang keinginanmu, Nduk. Jalani saja semuanya, jalani kehidupan ini dengan lapang dada. Lapangkan hatimu. Sesakit apapun hatimu sekarang, semua pasti akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu.” Aku memeluk nenekku erat, berharap akan mendapatkan kekuatan dari tubuhnya yang ringkih.

“Nek, apa benar dia memang tidak merindukanku?”

“Tidak semua tanya bisa berjawab, Sekar. Tak perlu menanyakan hal yang tak perlu. Misalpun dia juga merindukanmu, kenyataannya tak ada dia datang menemuimu seperti janjinya bukan? Dan tak ada dia mengejarmu kemarin bukan? Hadapilah kenyataan, dunianya memang bukan untukmu.” Nenek mendekapku dan membelai punggungku.

Dan aku, memang hanya perempuan dusun yang tak punya apapun kecuali ilalang dan bukit ini. Aku tak bisa memberimu apapun, hanya sebuah kisah pendek tentang kebersamaan kita saat menikmati sore di ujung bukit ini. Jika memang tak ada lagi harapan bagiku untuk menunggumu, ada baiknya aku menata hati dan berkemas. Sore di ujung bukit akan tetap menjadi kisah yang aku simpan menjadi kenangan. Aku memejamkan mataku menikmati kepedihan yang kau hadirkan. 

"Awan, ku titipkan dia kepadamu. Katakan padanya, bahwa semua kisah yang pernah dia hadirkan masih aku peluk erat. Jika memang semua ini tidak cukup berharga baginya, maka hapuslah semua dari hatiku"

 

 

  • view 243