Part 3: Menyentuh Awan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

1.6 K
Part 3: Menyentuh Awan

Oleh Desy Febrianti

Ini purnama ke delapan, dan aku tak lagi mencari titik kerinduan pada hamparan bumi bergemintang itu. Mencari terang pada hamparan yang selalu aku tatap dari ujung bukit di dekat dusun ku. Berkali-kali aku mencoba menitipkan rinduku pada awan, pada bintang, pada semesta dan berharap semesta rela untuk sekedar membisikimu tentang rindu ku itu. Namun sampai purnama ke delapan, kau tak jua menyadari ada rindu tertinggal pada ujung bukit ini.

Tak lagi menatap bintang bukan karena aku lelah menunggumu. Namun aku telah memutuskan untuk menemuimu. Yah, aku sudah memutuskan untuk datang dan melihat hamparan bumi bergemintang itu dari dekat. Meski itu artinya akan ada ribuan tapak yang harus ku lalui. Aku hanya perempuan dusun pada gunung anjasmara, yang tak pernah melihat jalan negri apalagi jalan kota. Ooh, sejauh itukah jarak yang terbentang diantara aku dan kau? Perjalanan panjang, dua hari harus aku lalui untuk bisa kembali menatapmu. Bagiku itu pengorbanan, dengan tekat dan kemauan untuk dapat kembali berjumpa dan tertawa bersamamu seperti sore dulu di ujung bukit.

Dan kini, pengorbanan itu terasa sia-sia dan terhempas. Aku diam terpaku melihatmu di balik jendela kayu itu. Lamat-lamat aku mendengar suaramu dan seorang perempuan berdebat. Kau terduduk diam pada sebuah kursi kayu panjang, sedangkan perempuan itu berdiri di hadapanmu dengan telunjuknya melampiaskan kemarahan kepadamu. Ada namaku disebut-sebut disana. Perempuan itu berkali menyebut namaku, dengan amarah dan aku merasakan ada rona cemburu disana. Ah, siapa perempuan itu yang begitu marah dan cemburu padaku?pada kebersamaan kita? Dan kau, hanya terpekur seolah tak ada daya menyela apalagi membela. Membela? Apa yang mesti dibela, hubungan singkat kita? Ah, Sekar..sebegitu naif nya dirimu hingga harus merasa perlu dibela. Aku menghela nafas, pedih.

Aku menunduk dan melangkah menjauhi jendela kayu itu.

“Sekar” Terdengar suaramu menyebutku. Lalu diiringi suara derit pintu kayu terbuka. “Sekar, tunggu” suaramu memanggil.

Aku menoleh. Kau dan perempuan itu kini berada di hadapanku. Perempuan dengan rambut hitam terurai sebahu, wajah yang ayu serta pakaian yang anggun membalut menambah pesona dirinya. Berbeda denganku, perempuan dusun dengan rambut sebahu yang kusut diikat seadanya, pakaian tenun desa, tanpa alas kaki. Aku menggigiti bibirku, menahan malu. Kau tersenyum, mendekat kearahku.

“Kau ada disini? Bagaimana kau bisa sampai disini?” Kau bertanya kepadaku dengan berbinar. Aku membisu menyadari kebodohanku sendiri. Mungkin memang bukan disini tempatku. Ini rumahmu, ini duniamu tak seharusnya aku datang. Seharusnya aku tau, bumi bergemintang hanya indah dilihat dari ujung bukit tidak dari jarak sedekat ini. Bagaimana mungkin aku hadir diantara kau dan perempuan itu.

 

Aku beringsut menjauh. Ku dengar suara perempuan itu yang mencegahmu mengejarku. Aku mendengar kalian kembali berdebat. Perempuan itu terdengar semakin marah saat kau katakan bahwa Sekar datang untuk menemuiku. Yah, aku memang datang untuk menemuimu. Berharap bisa saling menatap lantas saling tersenyum berbagi kisah.

Aku semakin melangkah menjauh. Dan tak lagi kudengar suara mu, karena jarak telah cukup membuat suara pertengakaran kalian tak mencapai genderang telingaku. Aku rasakan bumi tempatku berpijak tak seperti biasanya. Terasa sedikit bergetar dan membuatku tak menemukan langkah kokoh untuk terus berjalan. Aku sedikit terhuyung menggapai apa saja yang bisa aku jadikan penguat langkahku. Tak usahlah bertanya apa aku menangis. Tidak, aku tidak menangis nampaknya tapi mataku tiba-tiba terasa pedih dengan air mata yang tak lagi kurasa apakah mengalir atau menggenang.

Aku, perempuan dusun, yang berharap dapat melihat terang pada sosok yang dirindukan. Meski nyatanya, dia hanya nampak seperti awan yang tak bisa tersentuh.

“Mungkin kau tidak menyadari bahwa kau sudah menyentuh awan”

Teringat kata-katamu, ketika dulu ku sampaikan padamu bahwa aku ingin menyentuh awan. Ternyata tidak semudah itu menyentuh awan. Dan aku mendekap harapanku membawanya pulang untuk ku semaikan pada padang ilalang di ujung bukit sana. Bukan di sini, bukan dibumi bergemintang, bukan di duniamu.