Part 2: Bumi bergemintang

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Desember 2016
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

1.6 K
Part 2: Bumi bergemintang

By Desy Febrianti

Awan mulai menitikkan  rinainya satu persatu, mencoba menyapa rerumputan yang sebagian terlihat mengering. Gerimis. Aku selalu suka gerimis, sebagaimana engkaupun menyukainya. Kita pernah berlama-lama duduk menikmati tetesan gerimis, bermain-main dengan basah dan dinginnya.

Aku beranjak dari dudukku. Namun tak juga ingin aku pergi dari bukit ini. Harapan bahwa kau akan datang menemuiku terus saja aku pupuk di dalam keyakinanku. Meski nyatanya, sore sudah berlalu sedari tadi. Dan tak ada cerita apapun sore ini darimu, tidak juga ada kabar bahwa kau tak kan datang.

Aku sedikit menggigil kedinginan. Udara perbukitan, gerimis, kaki yang telanjang serta baju dan selendang tipis seadanya merupakan perpaduan apik yang tak mampu melindungi kulitku dari dinginnya udara sore ini. Mengingat senyum dan cerita-ceritamu adalah hal yang mampu membuat hatiku hangat. Aku tersenyum.

Aku bermain-main dengan gerimis, dengan tanah, dengan dingin saat tiba-tiba sebuah suara menyebut namaku.

“Sekar”

Aku menoleh ke arah suara. Lalu terpaku diam menatap wajahmu yang basah oleh air hujan. Aku tersenyum mendapatimu datang memenuhi janjimu.

“Kenapa baru datang sekarang? Aku sudah menunggumu disini sejak beberapa hari yang lalu.”

Aku terkejut, berharap kau akan memberi penjelasan lanjutan.

“Tidur panjangmu.”

Pandanganmu menatap jauh ke hamparan pepohanan yang berada di dataran rendah di muka bukit.

“Maafkan aku telah membuatmu menunggu. Apa kau menyesal?”

Aku berdiri di sebelahmu, mengamati ceruk pipimu yang basah. Kau menoleh ke arahku, meraih tanganku dan mengajakku pergi dari ujung bukit ini. Aku mengikutimu tanpa bertanya. Tanah yang licin membuatku berkali-kali harus menguatkan pijakanku untuk terus melangkah tanpa terjatuh.

Gerimis masih saja turun satu persatu, tidak seperti tadi, kali ini alirannya lebih mereda. Kita menyusuri jajaran pinus, hutan kali ini sedikit terasa gelap namun gaduh. Suara rinai yang jatuh pada dedaunan menimbulkan gemerisik yang syahdu, berpadu dengan sura derik serangga hutan yang seolah bahagia menyambut gerimis. Kita menapaki jalan yang sedikit menanjak dan berkelok.

Dan disinilah kita sampai, pada sebuah hamparan di ujung bukit yang lain. Sama indahnya dengan ujung bukit sebelumnya. Namun dari sini, aku bisa melihat dataran yang lebih rendah dan nampak bergemintang. Langit memang sudah petang, namun hujan membuat bintang luruh dari langit dan berpindah ke bumi.

“Disanalah selama ini aku tinggal. Hidupku ada disana.”

Kau menunjuk bagian bumi yang bergemintang itu. Indah berkerlipan. Ah, dunia mu memang indah. Persis seperti cerita-cerita mu yang slalu kau bagi untukku. Namun tiba-tiba hatiku merasa dingin dan menciut. Aku menunduk, apalah aku, apalah dusun ini yang tiada bandingannya dengan duniamu.

“Aku harus segera pulang kesana.”

Kau berkata lirih, menoleh ke arahku. Aku bersyukur petang ini gerimis, hingga kau tak perlu tau ada air mata yang sudah sejak tadi terjatuh. Aku tersenyum, mencoba ikut berbahagia bersamamu. Tak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku hanya ingin menatapmu lebih lama dan terus tersenyum agar nanti kau mengingatku dalam senyumku.

“Aku sedih, karena itu artinya aku harus meninggalkan bukit ini. Meninggalkan batu tempat kita bisa menulis. Meninggalkan ilalang. Dan..kamu.”

Aku menarik nafas panjang. Dan sebisa mungkin menahan agar tidak terisak. Aku mengangguk, berkali-kali. Hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku rela dengan semua ini.

“Aku pasti akan kembali kesini, untuk mengunjungimu. Lalu nanti, aku akan membawakanmu cerita lebih banyak lagi. Apa kau ingin aku membawakanmu sesuatu dari sana?”

Aku menggeleng. Bagiku kunjunganmu nanti, akan menjadi hal yang paling aku tunggu. Entah kau akan membawa cerita atau apapun, kedatanganmu saja sudah pasti akan sangat membahagiakan aku.

“Aku pasti akan rindu berada disini, rindu dengan udaranya, dinginya.”

“Kau tidak akan merindukanku?” aku menyela. Kau tersenyum, mengacak-ngacak rambutku yang basah.

“Iya, aku pasti akan merindukanmu. Hey, kenapa kau tiba-tiba jadi pendiam? Ayo bicaralah, aku lebih suka Sekar yang banyak bicara, ceria..ayo bicara.”

Matamu berbinar-binar menggodaku dan tanganmu mengguncang-guncang bahuku. Kau tersenyum, manis sekali. Lalu kemudian, hatiku tiba-tiba diliputi kedinginan yang menusuk. Aku tersenyum, namun kali ini tak mampu lagi menahan isak tangisnya.

“Aku takut, kehidupan indahmu disana pasti akan membuatmu lupa kepadaku. Tak ada apapun di sini, kita hanya menikmati hari-hari yang pendek. Baru beberapa saja. Sedangkan disana, kau memiliki hidup yang utuh dengan cerita yang panjang.”

Aku menjauhimu, melangkah menuju batu yang tepat berada disamping tempat kita berdiri. Kita duduk di atas batu, dekat bersisian. Kau meraih kepalaku untuk meletakkannya pada bahumu.

“Aku pasti mengingatmu dan aku pasti akan kembali ke bukit ini untuk menemuimu.”

Gerimis sudah reda sedari tadi. Ia memberikan kesempatan kepadamu untuk melihat buliran airmataku. Dan aku juga tidak mungkin lagi berpura-pura tersenyum sedangkan aku bersedih karena kau akan pergi. Kau akan mengunjungiku disini. Meski aku tak akan pernah berani menanyakan kapan. Tapi aku yakin, kau pasti akan datang. Dan aku, telah siap merelakan waktu untuk menunggumu. Meski itu artinya, akan ada banyak hari yang aku habiskan dengan menikam hati sendiri hanya untuk membunuh rindu.

 

 

 

 

  • view 264

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    8 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang sangat 'manis' sebab menuangkan kisah romansa pria dan wanita dalam balutan penuturan cerita yang mengalir asyik dan puitis. Teknis penceritaan yang memainkan pengamatan obyek, alam dan gerakan tokoh utamanya menjadikan karya Desy Febrianti ini mendayu romantis. Pembaca akan sangat terhibur dengan alur yang pelan sekaligus menikmati pilihan kata yang indah. Kisah ini sendiri mengenai dua insan saling suka yang terpaksa harus terpisah karena keadaan. Bagaimana keduanya menikmati waktu kebersamaan yang singkat itulah yang membuat cerita ini mungkin bisa mewakili perasaan banyak orang. Teruslah berkarya, Desy!