Part 1: Pada ujung bukit

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 November 2016
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

1.7 K
Part 1: Pada ujung bukit

Oleh Desy Febrianti

Aku melangkahkan kaki menyusuri jalan tanah merah yang basah. Sedikit licin sehingga aku butuh berpegangan untuk menahan langkah kakiku yang sedikit tergelincir. Jemari kakiku bisa merasakan halusnya tanah pegunungan yang terbentuk dari endapan abu vulkanis yang telah mengalami pelapukan ini. Menyusuri hutan pinus yang basah dengan sisa hujan semalam.

Perbukitan masih diselimuti kabut dengan semerbak udara sejuknya yang menelusup hingga ke kulit lapisan dalam. Aku mempercepat langkahku, sedikit menarik kain panjangku hingga mencapai lutut agar mempermudah langkahku. Hamparan ilalang yang berada di ujung bukit, dengan jurang curam dibawahnya memberi ruang kepada sesiapa yang ada disana untuk leluasa memandang hamparan dataran yang lebih rendah di depannya.

Matahari baru saja setinggi tombak dan nampaknya belum rela mengusir kabut untuk menjauh dari perbukitan ini. Aku menarik nafas dalam, membiarkan udara sejuknya mengisi rongga dadaku. Rasanya sudah terlalu lama aku tak menghirup udara di bukit ini. Ilalang yang ada di bukit ini pun tak serimbun biasanya, beberapa sudah menguning dan kering. Apa memang sudah terlalu lama aku tidak menjejak di sini?

Ku alihkan pandangku pada batu besar di ujung selatan, tempat biasanya aku menuliskan sapaanku pada dia, lelaki dari negri di atas awan. Beberapa masih terbaca dengan jelas, namun lainnya sudah mulai kabur dan berlumut. Aku tersenyum mengingat bagaimana aku bisa mengenalnya.

Sore itu, dengan terburu-buru aku menuruni rumah pohon di sisi utara bukit ini. Aku tiba-tiba merasa takut, karena aku mendengar beberapa orang pemuda yang berbincang dan sesekali tertawa. Entah dimana. Angin membawa suaranya hingga terdengar sampai ke rumah pohon ini. Tiba-tiba aku merinding, ditengah hutan begini darimana mereka datang. Aku bergegas turun dan mempercepat langkahku untuk pulang ke rumahku. Dengan mendekap kendi yang seharusnya aku isi dengan air sesuai pesanan nenek. Aku harus ke sungai dulu rupanya sebelum pulang. Tapi sial bagiku, karena ternyata justru aku mendekati asal suara tadi. Denyut nadiku tiba-tiba melemah. Aku berdiri kaku demi mendapati tiga orang pemuda yang sedang duduk melepas lelah pada batu di pinggir sungai tempat biasanya aku mengambil air.

Mereka juga terlihat terkejut dan menatapku bingung. Aku membalikkan badanku dan bergegas melangkah. Namun langkahku terhenti karena seseorang menarik tanganku. Rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku bertemu mereka. Tubuhku menggigil ketakutan.

“Hai, tunggu. Apakah kau bisa membantu kami? Kami mencari dusun sumberejo, katanya letaknya di balik Gunung Anjasmara ini. Apakah kau tau?”

Aku menoleh, memperhatikan orang yang meraih tanganku. Dia melepaskan genggaman tangannya pada lenganku. Agak takut aku mengangguk.

“Kau bisa membantu kami?Ah syukurlah. ”

Awal perkenalanku dengan lelaki dari negri di atas awan. Aku menyebutnya begitu, karena banyak hal yang dia ceritakan kepadaku sungguh tak pernah ada di dusun kami. Cara berpakaiannya, alas kakinya, ikat kepalanya dan semua hal yang dia tunjukkan padaku. Aku sungguh ingin berada disana, rasanya dunianya begitu indah dengan segala sesuatu seperti mudah. Berbeda dengan dusun kami, yang letaknya ditengah hutan di balik bukit.

Sejak saat itu, aku sering menemaninya berkeliling hutan untuk mencari beberapa tanaman yang dia perlukan. Aku melihatnya, memperhatikan dia yang dengan teliti mengamati tanaman-tanaman itu dengan detail kemudian menyimpannya dan menuliskan beberapa hal pada buku yang selalu dia bawa di tas hitam yang melingkar di pinggangnya. Setelah berkeliling hutan, kami biasa menghabiskan sore hari di hamparan ilalang di ujung bukit. Hanya untuk menyaksikan kabut yang mulai turun berarak menyelimuti kaki Gunung Anjasmara.

Dan saat sore, adalah saat dia mulai mengisahkan banyak hal. Tentang cerita-cerita keagungan Wilwatikta, Ramayana ataupun kisah Arok Dedes seperti yang dikisahkan oleh para tetua di dusun ini. Tapi entah kenapa, meski beberapa kisah itu sudah pernah aku ketahui terasa lebih menarik jika lelaki dari negri di awan ini yang bercerita. Aku mulai suka mendengar kisah-kisahnya. Kami juga terbiasa menuliskan apa saja yang kami rasakan pada batu besar yang ada dibukit ini, memahatnya pada batu berharap suatu kali nanti akan bisa kami baca kembali. Dan tentu saja, yang aku tuliskan adalah tentang bahagianya aku bisa menikmati hari-hariku bersamanya. Meskipun, dia hanya membalas dengan senyum membaca tulisanku itu dan sesekali mengacak-ngacak rambutku. Aku tidak benar-benar bisa tau, apakah dia juga merasakan kebahagian yang sama saat bersamaku. Ataukah ini hanya menjadi bagian pengisi kekosongan hari-harinya selama ada di hutan sepi ini?Entahlah, aku tak pernah memiliki keberanian untuk menanyakannya.

Sesekali, kami juga duduk di bukit ini dengan melawan dingin dan kabut malam hanya untuk melihat bintang-bintang yang bertaburan indah pada langit. Malam tak pernah menjadi seindah saat kami berdua duduk berbincang dibawah hamparan langit biru. Dan kami pun, menjadi terbiasa bersama untuk saling berkisah dan tertawa.

Dan hari ini, aku kembali ke bukit ini untuk menemuinya. Untuk kembali mendengarkan kisah-kisahnya tentang Raja Malaka, Goa atau bahkan Mahabarata. Matahari sudah meninggi sejak tadi. Kabut sudah tak lagi menyelimuti bukit ini. Aku membiarkan kakiku menikmati rerumputan yang tak lagi terasa basah oleh embun pagi. Berharap dia akan mengingat bahwa sore hari adalah saat bagi kami menikmati udara sejuk perbukitan sambil berbagi kisah hingga malam menjelang. Ah, aku tak sabar menunggunya, adakah kisah baru yang akan dia hadirkan sore ini?

 

  • view 181