Hanya seikat ilalang

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 November 2016
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

2 K
Hanya seikat ilalang

By Desy Febrianti

Aku melihat tubuhku sendiri melemah. Rambut hitamku tergerai disamping bantal putih. Sukmaku terduduk diujung dipan, menyaksikan tubuh yang terbujur kaku dan tak berdaya. Tanganku berusaha menggenggam ujung kakiku sendiri yang terasa amat dingin. Apakah aku mati? Lilin-lilin pendek yang diletakkan di sekitar dipan tempat tubuhku terbujur nampak memantulkan kemilau berpadu dengan tubuhku yang pucat.

Lalu, kau datang mendekat. Lelaki yang beberapa hari ini menemaniku menikmati angin perbukitan. Kau yang datang dari negeri di atas awan, kini terduduk di sebelah tubuhku yang terbaring. Tak ada kata, kau hanya menatap wajahku dan sesekali membelai punggung tanganku. Ayo bicaralah, aku menunggu. Ingin rasanya aku meraih tanganmu dan meletakkan pada pipiku agar aku mendapatkan sedikit kehangatan pada wajahku. Tapi aku tak mampu, aku hanyalah bayang sedangkan ragaku terbaring tak berdaya disampingmu.

“Bangunlah Sekar, aku masih punya banyak cerita untukmu. Bukankah kisah Idayu dan Galeng pun belum tuntas aku ceritakan? Masih akan ada hari-hari lain yang bisa kita lalui untuk menikmati angin sejuk perbukitan, bintang-bintang pun belum selesai kita beri nama.”

Aku berdiri, berusaha mendekat kearahmu. Engkau masih menatapi wajahku yang pias.

“Aku tak punya apapun untuk aku berikan padamu, bunga ini aku petik di hamparan ilalang tempat kita biasa bertukar cerita setiap sore. Hanya bunga ilalang ini. Tak berharga, namun aku harap kau suka menyimpannya.”

Kau meletakkan bunga-bunga ilalang yang sudah kau ikat dengan ilalang itu sendiri. Meletakkannya pada dadaku, dan kau pun meraih tanganku untuk diletakkan menggenggam bunga ilalang itu.

“Bangunlah Sekar, aku ingin menikmati lagi kenyamanan hubungan kita seperti kemarin. Aku ingin kita masih punya banyak waktu untuk kembali berbicara dan bersenda gurau.”

Airmataku sudah sejak tadi tumpah, menuruni ceruk pipiku yang beku. Aku terisak mendengar setiap kata yang kau ucapkan. Aku berharap ada kau cerita tentang harapanmu terhadapku, tentang istimewanya aku untukmu. Tapi ternyata tak ada. Aku memelukmu, menyandarkan kepalaku di punggungmu. Sementara kau, hanya berulang kali membelai punggung tanganku yang kini menggenggam seikat bunga ilalang. Andai engkau mampu merasakan sukmaku yang menangis dipunggungmu.

“Aku tak ingin pergi Sekar, karena aku masih ingin menemanimu. Masih banyak hal yang ingin ku bagi denganmu. Bangunlah dan temuilah aku di tempat biasanya.”

Kau mengusap pipiku, beku dan dingin. Kau mengusapnya berulang kali seolah ingin memindahkan hangatmu pada tubuhku yang pucat. Aku sudah tergugu pilu di bawah kakimu. Tak lagi kuasa memeluk ragamu yang ternyata tak menyadari keberadaanku di sampingmu. Kau beranjak menjauhi ragaku yang masih terbaring lemah. Sukmaku ingin sekali menahan kepergianmu, tapi aku tak mampu karena meraih ragamu adalah hal yang sangat tak mungkin aku lakukan saat ini.