Melepaskan rasa

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Melepaskan rasa

By: Desy Febrianti

Untukmu rasa..yang ternyata masih bersenyam lekat dalam hati

Bukan aku tak merasakan hadirmu, aku hanya ingin memastikan keberadaanmu

Apakah masih disana atau hanya meninggalkan sisa.

 

Aku sempat berpikir bahwa hubungan kita telah benar-benar berakhir.  Sedikit lega meski terpaksa, karena pada akhirnya kita bisa memutuskan untuk tak lagi melanjutkan perasaan kita. Rasa yang terkadang sangat menyiksa dan seringkali menimbulkan gelisah dan rasa sakit yang mendera. Hari yang berlalu tanpa ada kamu beberapa kali menyeretku pada perasaan rindu yang membiru namun aku selalu mampu menyimpannya sendiri. Meski ada banyak tanda tanya apakah kau disana juga merasa rindu, tapi tak ada kata dan suara yang aku ajukan untuk mengetahuinya. Biarlah, karena aku mau ini benar-benar hanya menjadi gemuruh dalam dada tanpa muara.

Memendam keinginan untuk meringankan penderitaan, begitulah kita. Bukan rasa yang menghadirkan derita, tapi kita, yang sering tak mampu menyadari bahwa kita ada pada takdir yang berbeda. Dan pada akhirnya, kita memilih untuk diam dan mengubur semua kenangan dengan cara masing-masing. Meredakan begitu banyak amarah dan juga harapan yang mungkin sempat berkecamuk dalam hubungan kita. Mengontrol rasa, begitu yang sering kau katakan. Yah, kita memang harus mengontrol rasa. Mungkin juga harus berjalan mundur perlahan.

Ada banyak bahagia pada takdir kita. Bukankah sebaiknya kita kembali? Memeluk takdir kita masing-masing, dan menikmati bahagia seutuhnya bersama takdir kita. Ah..bukan aku naif. Tapi aku dan kau, mungkin hanya terseret perasaan semata hingga abai pada bahagia yang telah lama dimiliki.