Maafkan aku yang telah memulai..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Maafkan aku yang telah memulai..

Oleh : Desy Febrianti

“Aku bukan tidak ingin memperjuangkanmu..
Tapi aku harus bijaksana untuk tak melanjutkan kisah ini..
Bukan karena menyerah..
Tapi aku tak bisa menunggu kisah manis berganti duka lara..
Dan kuputuskan, sudahi saja..”

Aku membaca untaian kata-katamu yang kau tuliskan pada media sosial milikmu pagi ini. Ada apa sayang? Apa ini tentang hubungan kita? Atau kau sekedar saja menulis? Aku menghela nafas. Kembali terbayang pertemuan terakhir kita dua bulan lalu.

***

“Aku takut, kita tidak perlu bertemu lagi ya. Sudah cukup. Kita sudah cukup bersenang-senang. Sudah cukup.” Kataku pagi itu. Aku menyandarkan kepalaku pada tiang kokoh diteras rumahmu. Kau diam tak bicara, hanya menatapku dengan tatapanmu yang sulit aku mengerti. Aku menoleh kearahmu, kau menghela nafas. Berat.

“Kau akan pergi lagi?” Katamu dengan tatapan sedih.

Ingin rasanya aku mendekap dan membiarkanmu merebahkan kepalamu didadaku. Tapi aku harus menahan diri, kita tak mungkin selamanya menjalani hubungan ini. Dan saat ini, aku ingin menata hati dan berangsur mundur.

“Mau dibawa kemana hubungan kita? Aku harus menata hati, kamu sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatiku. Dan ini tidak baik. Kita harus kembali ke kehidupan kita masing-masing.” Aku menoleh kearahmu dengan perasaan tak menentu. Ini menyiksaku sayang, menyiksa hatiku. Bukan hal yang mudah bagiku untuk beranjak menjauh dari dirimu yang telah terbiasa ada.

“Maafkan aku yang sudah memulai. Maafkan aku yang mengganggu ketentraman hidupmu. Tolong, maafkan atas semua salahku padamu ya. Aku tidak bermaksud menyakiti dan mempermainkanmu, aku hanya tidak sanggup menahan diri untuk memendam perasaanku terhadapmu. Aku pulang, aku harus segera pulang.” Kataku sambil mengambil kunci mobil yang ada di meja didepanku. Kau masih diam tak bergeming, matamu dipenuhi airmata yang masih menggenang. Dan perlahan airmata itu menuruni tebing pipimu dengan perlahan.

Aku berpaling menghindari tatapan matamu. Aku mendengar kau menghela nafas menahan tangis. Aku melangkah meninggalkanmu yang masih terpaku diteras rumahmu. Baru lima langkah meninggalkanmu, hatiku sudah remuk redam. Aku menoleh kearahmu. “Masikah kau mau menungguku, seperti sebelumnya? Ah tidak, kau tak perlu menungguku kali ini. Karena mungkin kali ini aku akan pergi lama.” Kataku sambil menggelengkan kepalaku sendiri.

“Seberapa lama?” Suaramu tercekat diujung tenggorokan.

“Entah.” Kata terakhir yang sempat terucap. Dan akupun melangkah tanpa menoleh kepadamu lagi.

***

Sudah dua bulan aku tak menghubungimu, bahkan sekedar untuk bertanya kabarmu pun tak aku lakukan. Aku sengaja menjaga jarak, agar ku bisa menata hatiku. Karena aku tau hubungan kita tak akan berhasil sayang, aku hanya tidak siap harus menanggung banyak derita karena terlalu menginginkanmu. Kau pasti masih ingat, berapa kali aku pamit untuk pergi. Meski akhirnya aku datang kembali karena nyatanya aku tak ingin benar-benar pergi.

Dan kini, apakah engkau telah benar-benar tak ingin menungguku lagi? Apakah engkau telah lelah dengan semua ketidakjelasanku? Apakah engkau sudah tak mencintaiku? Kenapa sayang?

Ah, egoisnya aku. Aku yang meninggalkanmu. Aku yang pergi tapi mengapa aku masih berharap kau menunggu? Aku yang sering menghilang tanpa kabar tapi aku pula yang tak mau diabaikan. Aku yang punya perasaan rindu tapi akupula yang memintamu tak mencariku.

Apakah kau sudah tak mampu mengerti aku sekarang? Bukankah bukan kali ini saja aku begini, sayang? Bukankah kau tau bahwa aku pasti mencarimu dan mendatangimu lagi?

Jika aku bisa memohan, tinggallah lebih lama. Jika itu tak membuatmu sakit, maka bertahanlah. Karena sejujurnya, aku tak rela melepaskanmu. Aku masih mencintaimu, meski kita sama-sama tau bahwa cinta ini tidak mampu meyakinkanmu bahwa aku adalah lelaki yang layak kau perjuangkan.

***

“Sayang, tetaplah bertahan.

Tetaplah menungguku, tetaplah miliki hati yang seluas samudra untukku.

Sebagaimana yang biasa engkau berikan padaku.

Jika itu masih mungkin, karena kamu masih ada dalam hatiku”

 

  • view 398