Sepatuku..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Oktober 2016
Sepatuku..

Aku berjalan tergesa, menapaki pematang sawah yang sedikit licin karena bekas hujan semalam. Kulihat matahari telah semakin meninggi. Ku buka sandalku, untuk mempercepat langkahku. Sandal usang ini sedikit mengganggu langkah kakiku diatas tanah pematang yang berlumpur.

Ah, akhirnya aku tiba disini. Halaman luar sudah sepi. Ku basuh kakiku pada air bekas hujan yang ada di ember di dekat bunga yang ada didepan ruangan ini. Kuketuk pintu dengan perlahan, sedikit menelan ludah pahit karena aku tahu aku telat lagi kali ini. Tidak ada jawaban, dan tak terdengar sedikitpun suara. Senyap.

Aku dorong pintu perlahan. Melongokkan sedikit kepalaku ke dalam ruangan. Tiba-tiba pintu di buka lebar. Ibu guru beserta teman-temanku menghambur mengerumuniku. Dan merekapun menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang ku ingat dulu pernah di nyanyikan sewaktu Mira, anak Pak Kades, merayakan ulang tahunnya di kelas. Aku bingung harus bagaimana, antara tertawa, sedih sekaligus terharu.

Bu Romlah, Ibu guruku mendekatiku “ Selamat ulang tahun Ali” Beliau menyalamiku.

Aku bengong, tersenyum sambil membenahi rambutku yang tak sempat aku sisir.

“Apa benar saya ulang tahun hari ini bu?” tanyaku sambil menahan malu.

“Ibu melihat di raportmu, kan ini berdasarkan data yang diisi sebelum masuk sekolah dulu.” Kata Bu Romlah lagi. “Maaf ya Ali, Ibu tidak bisa membelikanmu kue tart dan hadiah. Ini ada buku yang ibu belikan untukmu. Dan ini, sepatu bekas tapi masih bisa dipakai. Kau pernah bilangkan pada ibu, kalau ingin memakai sepatu ke sekolah?”

Aku mengangguk, mataku berbinar. Aku memeluk sepatu hitam pemberian Bu Romlah, seorang guru yang mungkin juga tak mendapat upah atas ilmu yang diajarkan kepada kami. Sepatu yang aku idam-idamkan dulu. Aku bahagia sekali. Seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku mencium tangan Bu Romlah sambil menangis.

“Sudah Ali, jangan menangis. Itu sepatu bekas putra ibu yang sekarang SMP, mungkin akan kebesaran dikakimu. Tapi ibu harap jadi penyemangatmu untuk terus bersekolah ya.” Kata Bu Romlah mengelus kepalaku.

Sepatu bekas anak kelas 6 SD, pasti sangat kebesaran di kaki anak TK sepertiku. Tapi aku bersyukur, karena mulai esok, Aku, Muhammad Ali akan berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepatu.

Aku bahagia. Karena ibuku tak sanggup membelikanku sepatu, bagaimana mungkin sedangkan kondisinya sudah buta dan tuli tak mampu lagi bekerja. Dan ayahku, sudah meninggal setahun yang lalu. Kakak perempuanku yang berusia 9 tahun mengalami perkembangan mental yang tak cukup baik sehingga tidak mungkin bekerja. Dan adikku, masih berusia 2 tahun.

Yah, aku adalah satu-satunya anak lelaki yang menjadi andalan ibuku untuk bekerja sekaligus mengurus ibu dan kedua saudaraku. Sebelum berangkat ke sekolah, aku harus memasak, mencuci baju serta menyuapi kedua saudaraku. Upah kerjaku hanya 10.000 sehari, itupun aku harus bekerja keras membersihkan rumput di kebun Pak Amir dari pulang sekolah hingga sore hari. Uang itu hanya cukup membeli beras dan sedikit lauk untuk kami sekeluarga. Dan sepatu adalah barang mewah yang tidak dapat aku beli. Dan sekarang mendapat sepatu usang, yang sudah robek pada bagian jempolnya rasanya sangat luar biasa bagiku. Meski mungkin, bagi kebanyakan orang sepatu ini sudah menjadi barang rongsokan, tapi bagiku ini akan menjadi barang termewah di rumahku.

 

  • view 211