Aku bisa Apa?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Aku bisa Apa?

“Andi, bangun ndi..ibu berangkat kerja dulu ya. Itu ada gorengan di dapur buat sarapan.” Suara ibu mengusik tidurku. Aduh ibu, padahal aku lagi mimpi makan di restoran yang deket lampu merah itu.

“Pagi banget banguninnya bu, jam berapa sekarang?” aku menggeliat sambil mengucek-ngucek mata.

“Jam 5 ndi, tapi Bu Salamah mau ibu datang lebih cepat. Karna nanti siang ada arisan, jadi ibu bantu-bantu masak juga. Tolong adikmu di mandikan ya, masih tidur dia.” Kata ibu sambil menunjuk adik perempuanku yang masih umur 1,5 tahun.

Aku bangun dari tidurku, duduk menyandarkan punggungku pada dinding. Mengamati ruangan sempit yang menjadi tempat tidur sekaligus ruang tamu. Tatapanku beralih pada ibu yang sudah beranjak menjauh, badannya yang kurus berbalut jaket pemberian almarhum Bapak. Tak lama berselang, Syahrini, adik perempuanku terbangun dari tidurnya. Sedikit merengek mencari botol dotnya yang berisi air gula bukan susu. Aku membelai-belai kepalanya agar dia tak menangis.

Hari ini aku harus mengajaknya bekerja, karena ibu ada pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk membawanya. Setelah memandikan dan menyuapinya dengan gorengan yang ada di meja. Aku menggendongnya menuju tempat kerjaku.

“Wah ada syahrini, ikut kerja ndi?” Sapa Mak inah yang sudah sampai diperempatan jalan lebih pagi dari aku.

“Iya mak, ibu bantu-bantu masak jadi gak bisa bawa rini.”  Kataku sambil menurunkan adik perempuanku dari gendongan, ku berikan air gula yang aku bawa dari rumah agar dia tak rewel.

“Ya sudah, ndak papa. Yang penting adikmu ndak rewel. Nanti kalau besar jadi penyanyi aja ya, kayak artis Syahrini itu loh. Biar kamu ndak perlu repot kerja kayak kakakmu ini. “ Kata Mak inah sambil membelai-belai kepala Syahrini.

 

Hari sudah menjelang siang, Syahrini mulai rewel karena lapar. Sementara uang hasil mengemis kali ini masih sedikit. Aku merogoh plastik yang menjadi tempat aku menyimpang uang hasil mengemis tersebut. Ku hitung dengan teliti, 20 ribu. Cukup sih untuk beli makan dan minum. Tapi belum cukup buat nyicil utang yang bapak tinggalkan buat kami.

“Mak, titip adik saya dulu ya. Saya mau beli makan di sana.” Kataku pada Mak Inah yang memilih mengemis di trotoar dekat taman kota yang cukup rindang.

“Iya, sana pergi saja. Sini, biar adikumu emak pangku.”

Aku meninggalkan rini bersama mak inah, perempuan asal Jawa Tengah yang sudah berusia lanjut. Dia terpaksa mengemis setelah anak dan menantunya pergi meninggalkan dia sendiri di rumah kontrakannya yang sempit. Mak inah dianggap sebagai beban oleh keluarganya. Tubuhnya yang tua renta tak sanggup lagi bekerja selain dengan cara mengemis, walaupun pengahasilannya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan seadanya. Pernah ia bercerita, untuk pulang ke kampung halamannya. Tapi uang hasil kerjanya tak pernah bersisa untuk sekedar menabung sebagi oangkos pulang kesana.

Aku menyeberang jalan, menuju warung makan yang ada diujung gang di seberang jalan. Disini menunya bervariasi dan sederhana. Menurutku rasanya enak dan haganya juga murah untuk ukuran ibu kota. Menu yang aku pesan selalu sama, nasi dengan porsi double, telor dadar, tempe dan sayur terong dan sebungkus es teh dengan harga 14.000. Cukup untuk mengganjal perutku sampai sore nanti.

Aku memegang bungkusan nasi dan bergegas menyeberang. Tiba-tiba, aku melihat beberapa orang berseragam memaksa mak inah naik ke kendaraan bak terbuka. Termasuk adikku juga digendong oleh seorang petugas. Operasi Gepeng pikirku. Aku berteriak-teriak, dari seberang jalan. Kondisi jalanan Jakarta yang ramai menahanku untuk tidak menyeberang. Aku berteriak memanggil nama Mak Inah dan Rini. Tapi suaraku tertelan oleh suara kendaraan yang menderu.Air mataku mulai berjatuhan, membayangkan para petugas itu membawa adikku satu-satunya.

Lalu lintas masih terus saja ramai, hingga petugas itu membawa Mak inah dan dik Rini aku masih belum bisa menyeberang jalan. Aku tak lagi berteriak-teriak, aku hanya menangis terduduk di trotoar. Aku bingung harus bagaimana.

 

Aku menghampiri ibu di rumah Bu Salamah. Langkahku terhenti di pagar rumah Bu Salamah. Aku gemetaran, keberanianku ciut tiba-tiba. Aku tidak tega menyampaikan hal ini kepada ibu. Aku membalikkan badan. Menyusuri gang, sambil berpikir bagaimana aku bisa berjumpa dengan rini dan Mak Inah.

Aku berjalan ke kantor polisi terdekat, berharap Mak Inah dan dik Rini ada disana. Sudah 3 kantor polisi aku kunjungi, tapi tak ada ku temui Mak Inah dan dan dik Rini. Aku gemetaran, antara lapar dan ketakutan. Uang yang ada disakuku tersisa 8000, rasanya tidak cukup buat beli makan. Dan aku sudah berjalan sangat jauh dari tempat aku kerja. Butuh 2 kali ganti angkot untuk bisa sampai ke rumahku.

Maghrib sudah berlalu. Aku putuskan untuk pulang ke rumah, apapun resikonya aku harus menemui ibu untuk menceritakan yang sebenarnya.

 

Berjalan melewati pos siskamling tempat orang kampung biasa menghabiskan malamnya. Tiba-tiba, Pak Rahman, RT di kampung ini memanggilku.

“Ndi, sini ndi. Itu ada anak mirip sama adikmu. Sini cepet liat.” Kata Pak Rahman. Aku kaget dan segera menghampirinya untuk mengamati anak yang dibilang mirip adikku oleh Pak RT.

Iya itu Rini, dia ada TV bersama seorang petugas kesehatan berpakaian putih. Entah dokter, perawat atau bu bidan aku tidak tau.

“Itu memang Rini, dimana dia sekarang?” Kataku lirih sambil menangis. Tidak salah lagi, itu pasti Rini. Meski sekarang dia terlihat lebih bersih dengan pakaian yang bagus. Ditangan kanannya memegang sebotol susu, bukan air gula lagi.

“Yang bener ndi, kok disana disebutin itu anak sewaan ya. Lu nyewain adik lu untuk ngamen ke orang? Ibu lu yang nyuruh, ndi?” Kata Pak RT.

Aku menggekeng kencang. Mulutku masih terkunci, kenapa berita yang di televisi jadi seperti ini?

“Diberita tadi disebutin, kalau petugas satpol PP tadi mendapati anak itu bersama perempuan tua mengemis. Tapi perempuan itu katanya bukan ibunya. Anaknya juga keliatan kurus dan kurang gizi kata dokter yang tadi. Ada indikasi penyewaan anak oleh orang tua atau oknum tertentu. Gitu ndi beritanya. Trus sekarang perempuan yang menggendong anak tadi di tangkap dan dipenjara karena dianggap melakukan eksploitasi anak. Kayaknya juga bakal dicari tu ndi siapa yang sudah nyewain anak itu ke perempuan tua tadi.” Kata Pak RT berusaha menjelaskan.

Aku gemetaran semakin ketakutan. Aku hanya bisa menggeleng dan menangis.

“Ndi, jadi itu bener adik lu? Emang bener disewain ya? Berapa harga sewa sehari ndi? Kalau ngemis benar ya ndi dapat 300ribu sehari?” Tanya beberapa orang yang lain yang juga menyaksikan acara itu di televisi.

Aku tidak sanggup lagi mendengar suara orang-orang yang mulai gaduh di pos kamling itu. Aku bergegas menjauh. Sedikit berlari untuk menghampiri ibu dan memeluknya erat. Aku membayangkan kemarahan ibu padaku yang tak becus menjaga adik perempuanku. Aku juga tidak kuasa meredam amarah mendengar semua pemberitaan di televisi yang menyudutkan kam, orang miskin.

Andai aku bisa memilih, aku pasti tidak akan mengemis. Aku ingin sama seperti yang lain, bersekolah, bermain dan menikmati masa kanak-kanakku dengan gembira. Tapi aku bisa apa? Aku hanya orang miskin, yang tak sanggup membayar uang sekolah di Jakarta yang mahal. Orang tuaku tidak sanggup membeli mainan seperti anak-anak lain. Orang tuaku juga tidak sanggup membayar baby sitter untuk menjaga adik kecilku tatkala ibu harus bekerja. Andai kau bisa memilih, aku tidak mungkin membawa adikku bekerja kalau bukan untuk meringankan kerja ibu. Bagaimana mungkin aku tega membiarkan adikku kepanasan dan menghirup polusi kendaraan diusianya yang masih 1,5 tahun?Tapi apa aku punya pilihan?

Maafkan aku ibu..maafkan dik Rini..

 

  • view 199