Jangan menjadi bodoh..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 September 2016
Jangan menjadi bodoh..

“Sudah, jangan terlalu lekat memandangnya” ucapku berusaha membuyarkan pandanganmu pada sosok pria di sudut ruangan. Kau memoleh kearahku, mendengus sebentar lalu seolah tak peduli ada aku yang sedang memperhatikanmu.

“Perempuan itu cantik juga. Mereka nampak bahagia.” Ujarku sambil memperhatikan perempuan berbaju coklat disebelah pria itu. Mereka mengobrol santai sambil sesekali saling melempar tawa dan senyum.

“Ah sial, kenapa pula harus bersuapan.” Ucapmu lirih sambil mengalihkan perhatianmu ke arah minuman dihadapanmu. Meminumnya sedikit, lalu kembali mengarahkan pandanganmu pada mereka.

Sebuah pesan masuk di ponselmu.

“Hai sayang, jangan cemburu ya..luv u much.”

Kau tersenyum. Mengaduk-ngaduk minuman dihadapanmu sampai terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan cangkir.

“Sudah ku bilang kan padamu, badannya disana tapi dihatinya masih ada aku. Sebentar lagi, dia akan menemuiku. Berani bertaruh?” Kamu menantangku sambil tersenyum tipis.

Aku menghela nafas. Aku percaya, feeling mu pasti benar.

Tak berapa lama, perempuan berbaju coklat itu beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju toilet yang letaknya cukupp jauh di luar ruangan. Pria itu melambai kearahmu, membenahi kemejanya yan sedikit berantakan dan lalu berjalan menuju kamu.

Aku mengatur nafasku, jantungku berdegup kencang. Kau tersenyum, berdiri menyambutnya dengan bahagia. Yah sangat jelas terlihat dari binar matamu, kau bahagia dia datang menemuimu.

Pria itu memelukmu erat, membelai pipimu dan kalian pun berbincang begitu dekat.

“Hei, bagaimana kalau perempuan itu datang dan melihat apa yang kalian lakukan disini. Sudah lepaskan genggaman tangannya.” Ucapku berbisik didekatmu.

Kau hanya melirik kearahku.

Pria itu masih menggenggam tanganmu dengan erat. Sesekali ia mencium pipimu dengan lembut.

“Hei, Karin..dengarkan aku. Jangan menjadi bodoh. Sadarlah.” Aku mulai mengguncang-guncang bahumu.

“Sayang, kita bertemu lagi besok ya. Ditempat biasa. Aku pasti akan merindukanmu besok.” Pria itu berkata dengan lembut sambil membelai kepalamu. Kau mengangguk dan tersenyum.

Pria itu kembali memelukmu erat, lalu berdiri dan meninggalkanmu untuk kembali ke mejanya di sudut ruangan.

Terdengar suara langkah perempuan berbaju coklat tersebut. Dia melambai kearahmu, menghampirimu lalu kalian pun berbincang dengan akrab. Tak lama, karena pria itu memanggilnya dan mengajaknya untuk segera meninggalkan ruangan ini.

Aku mengamati mereka keluar dari ruangan setelah mereka berdua menyalamimu dan berpamitan padamu.

Lalu kamu terduduk di sofa, menghempaskan tubuhmu dengan keras.

“Gila, kamu mengenal perempuan itu?” tanyaku tak percaya dengan apa yang ku lihat.

Kamu hanya mengangguk dan menghela nafas.

“Dia istrinya. Namanya Aini.” Kau menoleh kearahku.

“Aku tidak mengerti. Bagaimana kau bisa melakukan ini? Apa maumu?”

“Dia yang datang kepadaku. Dan aku tak pernah bisa menolaknya.”

“Bukan hanya tak bisa menolaknya, tapi kau sering mengharapkannya kan?” pekikku kesal.

“Kau tau, aku bahagia ketika dia ada untukku. Dan itu cukup buat aku. Aku tidak membutuhkan seluruh waktunya, aku juga masih punya banyak urusan lain. Seperti ini saja sudah cukup buatku.” Katamu mencoba menjelaskan padamu.

“Bohong, kau berkata begitu karna kau tau dia punya istri kan. Kau tau bahwa tidak mungkin dia akan ada disampingmu setiap saat. Apa maumu Karin?”

Kau memandang kosong keluar jendela, mengamati air hujan yang membasahi kaca dekat mejamu. Jemarimu berantukan mengetuk meja, menciptakan suara berisik bagiku. Kau sedang gelisah, aku tau itu.

“Kenapa kau membohongi logikamu sendiri? Kenapa kau harus mencari kebahagiaan semu pada pria itu?” kataku merendahkan suaraku.

Kau menggeleng lemah.

“Lepaskan dia Karin, bukan dia kebahagiaanmu. Bisakah kau bayangkan sakitnya dikhianati?”

Kau lagi-lagi menggeleng.

“Pikirkan Karin, hubungan seperti ini tidak akan mungkin berhasil. Apa dia mau memperjuangkanmu? Apa dia mau mengorbankan keluarganya untukmu?”

Kau menatapku lekat. Matamu memerah menahan tangis.

“Dia tidak menjanjikan itu padaku. Kami hanya ingin menjalani yang saat ini ada. Aku tidak mungkin mengabaikan perasaanku begitu saja. Kau tau kan, sulit bagiku menumbuhkan perasaan pada seseorang. Dan ternyata, dia bisa membuatku jatuh cinta kepadanya.”

“Tapi ini gila. Kamu mencintai pria yang beristri.” Suaraku lemah tapi ada nada penekanan disana.

“Andai aku bisa memilih kepada siapa aku akan jatuh cinta.”

Aku menghela nafas sambil menggeleng keras.

“Mungkin kamu memang tidak bisa memilih kepada siapa kamu akan jatuh cinta. Tapi kamu bisa memilih akan melanjutkan untuk mencintai atau tidak. Dengar Karin, jangan turuti hatimu. Dengarkan aku, sakitnya dikhianati tidak akan bisa terobati dengan mudah. Jangan rendahkan dirimu sendiri dengan menjalin kebahagiaan diatas tangisan perempuan lain.”

Kau melirikku dengan tajam seolah berkata, “Ah..logika. tau apa kau tentang perasaaanku.”

“Aku tidak bermaksud membuat perempuan itu menangis. Tapi dia harus tau, bahwa aku mencintai pria yang sama dengannya. Hanya berbagi sedikit saja apa tak bisa?” Katamu menantangku.

“Kariiiin..kau tidak tau rasanya berbagi cinta. Itu sangat tidak mungkin bagi seorang perempuan.”

Kau menutup percakapan denganku, dengan logikamu. Cinta telah mengalahkan logika. Ah, aku kesal sekali kepadamu.