Aku bukan Siti Hajar..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Renungan
dipublikasikan 11 September 2016
Aku bukan Siti Hajar..

Esok idul adha, hewan qurban yang aku belipun telah diantar oleh penjualnya. Sebelum diantar ke masjid, domba itu diikat pada pohon kersen didepan rumahku. Suara embikannya menggugah nuraniku untuk berlama-lama memandanginya dari sofa yang terdapat di teras rumahku.

Domba ekor gemuk dengan warna bulunya yang putih dengan sedikit kotoran menempel pada bagian perutnya. Aku melihatnya makan rumput yang disediakan di depannya. Dia pasti tidak tau bahwa esok ia akan meregang nyawa. Sempat terlintas di kepalaku, apakah ia akan ikhlas menerima takdirnya ketika darahnya esok akan menjadi penebus dosa bagi diriku? Mungkin tidak, mungkin juga iya.

Domba itu terus mengunyah rumput, sembari memainkan ekor gemuknya. Mengibaskannya untuk mengusir lalat yang hinggap di badannya. Dia benar-benar tenang, tidak pernah bertanya takdir apa yang menunggunya esok. Domba tidak pernah menggugat Allah atas apa yang telah menjadi jalan hidupnya.

Lantas kenapa aku sering menggugatmu ya Allah? Aku terlampau sering mempertanyakan takdir yang engkau timpakan kepadaku. Aku sering bertanya kenapa semua ini harus terjadi kepadaku. Aku merasa sulit sekali mengendalikan kesabaran hati manakala ujianmu harus datang bertubi-tubi. Aku sering kali merasa Engkau sungguh tega sekali membiarkan aku diliputi banyak kesedihan dalam hidupku.

Lantas dimana nilai kepatuhan dan keikhlasan atas setiap kurban yang hampir setiap tahun aku lakukan? Dimana melekatnya keikhlasan atas nama pengabdian itu ya Rabb? Mengapa yang tersembelih hanya hewan kurban dan bukan keegoisanku sebagai mahkluk Mu? Bukankah dalam ritual kurban Engkau ingin mengajarkan kepada kami tentang hakikat pengabdian dan penerimaan perintahMu tanpa kami harus bertanya? Bukankah demikian yang Engkau ajarkan kepada Ibrahim, Hajar dan Ismail?

Aku menoleh pada anakku yang sedang bermain di kakiku. Gadis bermata lentik yang usianya mencapai 4 tahun. Ia merangkak memutari meja sofa yang ada di depanku. Matanya yang indah berbinar-binar kegirangan. Dia adalah ujian kesabaranku. Menerima amanah dari Allah atas seorang gadis cantik yang luar biasa ini, membutuhkan banyak sekali sabar dan ikhlas agar bisa menciumnya dengan lapang dada. Menerima semua kekurangannya, menerima semua keterbatasannya. Air mataku menetes. Ampuni aku ya Rabb atas keluhan yang sering kali hadir. Tidak mudah menjaga kewarasan manakala hampir setiap tengah malam, tiba-tiba anakku harus menangis kejer tanpa aku tau penyebabnya. Tidak mudah, manakala harus menahan kantuk karena menunggunya tidur hingga jam 4 pagi padahal banyak deadline pekerjaan yang harus aku selesaikan. Butuh banyak kesabaran, manakala aku harus menahan keinginan untuk segera melihatnya bisa berjalan dan berbicara.

Ajarkan aku ya Allah untuk tidak menggugat atas semua takdir yang Engkau berikan padaku. Beri aku keikhlasan untuk terus meyakini bahwa Engkau telah memberikan takdir terbaikmu pada kami. Ajarkan aku pengabdian dan kepatuhan kepadaMu. Berikan aku kesabaran tanpa batas agar aku bisa tunduk pada semua ketentuanMu padaku. Ajarkan aku kesabaran dan keihklasan sebagaimana yang Engkau berikan kepada hamba-hamba Mu yang sholeh, Siti Hajar, Ibrahim dan Ismail.

  • view 232