Mitra iman dan kekasihku..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Mitra iman dan kekasihku..

Mencintai Tanpa Syarat…
Cinta adalah hal penting yang harus diperhatikan sejak mengawali pernikahan. Ibnu Abbas pernah menceritakan bahwa seorang gadis perawan datang kepada Rasullullah lalu memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya dengan seseorang, padahal ia tidak suka. Maka Rasululah saw memberikan hak kepadanya untuk memilih (HR. Abu Dawud)
Dari hadist diatas dapat dipahami bahwa adanya ketertarikan, kecenderungan hati dan perasaan cinta tidak tertolak syariat sepanjang ditempuh dengan cara-cara islami. Bahkan dapat menjadi bibit yang kokoh dalam membangun pernikahan yang Sakinah Mawadah Warahmah.
Untuk mengahadirkan cinta dalam pernikahan ada tiga syarat yaitu Sakinah, Tanggung jawab dan Konsisten. Sakinah adalah ketenangan yang sengaja Allah turunkan kedalam hati orang-orang mukminin. Sehingga dengan adanya Sakinah dalam pernikahan dapat membuat ketentraman agar pasangan salaing cenderung satu sama lain, sehingga akhirnya Allah menghadirkan rasa Saling Mencintai (Mawaddah) dan Saling Kasih Sayang (Warahmah). Tanggung Jawab dalam pernikahan meliputi rasa tanggung jawab untuk mencari ridha Allah, menjaga dirinya dan keluarganya dari kemurkaan Allah swt, rasa tanggung jawab untuk membahagiakan istri, mendidik dan membimbing keluarga menuju gerbang surga. Konsisten adalah bentuk rasa mencintai pasangan semata-mata karena Allah swt agar kita bisa mencintai pasangan kita tanpa syarat. Sehingga apabila kita menemukan pasangan kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak seindah yang kita bayangkan, hendaknya kita tetap menghargai dia sebagai pilihan kita dan tetap menjaga sikap kita agar tidak menyakitinya. Ada sebuah cerita, tentang seorang ulama yang sangat shaleh, kemudian datang kepadanya seorang wanita dan mengatakan bahwa wanita itu sangat mencintainya dengan tulus lillahi ta'ala. Kemudian wanita tersebut bertanya apakah lelaki itu mau menikahinya. Akhirnya lelaki itu menikahinya, ketika mereka berada dalam satu kamar berdua barulah lelaki tadi tau bahwa si wanita tadi buta dan memiliki wajah yang sangat buruk. Marah lah dia, tetapi kemarahannya tetap dia simpan didalam hatinya dan tetap bersikap baik terhadap wanita buta itu yang sekarang telah menjadi istrinya. Mereka tetap hisup bersama sampai akhir hidupnya, karena lelaki tadi tetap menghargai dan berbuat baik terhadap istrinya walaupun istri buta dan buruk rupa. Dia menganggap bahwa semua ini adalah ujian dari Allah dan dia akan bersabar karena Nya.

Setiap pasangan yang mau menikah pasti ingin membangun Baiti Jannati yang dapat menghadirkan dan memelihara keadaaan Sakinah, Mawaddah dan Warohmah. Cinta yang tulus , apalagi didasari rasa iman, akan memantulkan kebaikan-kebaikan bagi pasangannya.
Rasulullah saw memberi teladan indah kepada kita. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw pulang larut malam dan ketika itu Aisyah ra sudah tertidur pulas. Rasa cinta Rasulullah kepada istrinya membuat beliau tidak ingin mengganggu dan membangunkan istrinya yang sedang beristirahat. Kemudian beliau tidur didepan pintu rumahnya. Ketika Aisyah ra terbangun dan melihat Rasullah tertidur diluar rumah. Aisyah terkejut, dan ketika Rasullah terbangun hal pertama yang dilakukan Rasulluh adalah meminta maaf kepada Aisyah ra karena pulang sangat larut.
Subhanallah..

Sebagai Mitra Iman…
Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, (Surah Annisa : 34). Sebagai pemimpin, suami wajib melindungi, menjaga dan membahagiakan istri dan seluruh keluarganya. Istri bukan hanya sekedar pendamping, istri sekaligus sebagai mitra suami dalam merawat cinta dan keharmonisan keluarga, menciptakan suasana iman, mendidik anak dan membangun keluarga sakinah.
Suami Istri seperti pakaian, saling menutupi kekurangan masing-masing dan saling melengkapi. Pasangan suami istri ibarat sepasang kaki, jika kaki kiri melangkah maka kaki kanan akan menyusul agar tercipta sebuah langkah. Tidak mungkin satu kaki jauh lebih maju daripada kaki yang lain. Begitu juga sebaliknya, tidak mungkin kedua kaki melangkah bersama-sama, bukan melangkah namanya tapi melompat dan itu akan membuat capek. Artinya, sepasang suami istri harus selaras dan sejalan, Jika suami maju, istri harus berusaha untuk maju dan tdak tertinggal. Begitu juga sebaliknya, sehingga suami istri harus saling menyesuaikan dan saling belajar bersama. Istri adalah tulang rusuk bagi suami, letaknay bukan dikepala atau dikaki tapi disamping dekat dengan hati. Artinya seorang istri bukanlah pemimpin dari suami, bukan pula bawahannya. Tetapi, istri adalah seseorang yang berada didekatnya, untuk dijaga dan disayangi.

Keterbukaan yang membawa Berkah..
Keterbukaan menjadi hal yang sangat penting dalam membangun keluarga yang harmonis. Setiap permasalahan dalam keluarga harus selalu dibicarakan dengan hati tenang dan kepala dingin. Jika ada ketidak cocokan atau suami/istri merasa kurang suka dengan tingkah laku pasangan sebaiknya tidak dipendam dalam hati karena hanya akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak. Carilah solusi dari setiap hal yang bisa memacu perselisihan. Berbicara dari hati ke hati, dengan kata-kata yang baik dan lembut, dengan tidak mengemukakan ego dan emosi masing-masing.
Keterbukaan ini mencakup banyak hal, muali ursan sepele, urusan ekonomi, merawat dan membesarkan anak, bahkan urusan sex. Keharmonisan bisa tercipta jika seluruh anggota keluarga merasa tentram, damai dan aman berada di tengah-tengah keluarga. Komunikasi menjadi kunci penting dari sebuah keterbukaan.

Akhir kata..Jika ada perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan keinginan untuk mengakhiri pernikahan, ingatlah akan wajah tulus orang-orang yang telah datang mendoakan kita dihari pernikahan kita, dan ingatlah pernikahan adalah sebuah janji suci kita pada Allah swt. Janji yang dengannya membuat kita dihalalkan untuk bersenang-senang dengan pasangan kita.

Repost : dari catatan di fb..

  • view 210