Jangan Membenciku...

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Jangan Membenciku...

“Tolong mas, jangan pergi..”

“Untuk apa? Untuk melihatmu selalu menangis?”

“Aku butuh kamu, aku juga gak mau selalu menangis begini. Setidaknya, keberadaan kamu membuat aku lebih kuat.”

Aku memalingkan wajahku, menatap deburan ombak yang berkejaran menghampiri tebing. Mendebur dan menghempasnya dengan kuat, berulang kali tanpa henti. Ah, harusnya akupun begitu. Menemanimu saja sudah membuatku bahagia, kenapa sekarang aku ingin berhenti dan pergi?

“Mas, maaf ya..kamu capek ya nemenin aku?Kamu bosen ya dengan semua masalahku?”

Aku menggeleng, mendengus hendak memaki diriku sendiri.

“Bukan aku, kamu..apa kamu gak capek seperti ini terus?apa yang kamu pertahankan?”

Kamu menggeleng, melemparkan kamboja yang sedari tadi kau mainkan diujung jemarimu.

“Aku tidak tau. Karena setiap dia datang, aku seperti tak bisa menolaknya. Kamu kan tau mas, ada banyak hal yang seharusnya bisa membuatku marah dan membencinya.” Kamu menghela nafas, menoleh ke arahku. “Tapi aku gak bisa, entah kenapa.”

“Sampai kapan? Sedangkan kamu tau, tidak ada harapan disana. Misalpun ada, aku sarankan kamu memikirkannya kembali. Kamu tau dia seperti apa kan, bukan aku gak percaya bahwa dia bisa membahagiakan kamu. Tapi...”

“Iya mas, aku tau..logika dan hatiku benar-benar gak sinkron kali ini.”

“Segitunya? Apa sih yang sudah dia lakukan sampai membuat kamu gak bisa melupakan dia? Pengorbanan seperti apa yang telah dia beri untuk kamu?” Aku mulai terbawa emosi.

Kamu terdiam, menggigiti bibirmu. Berkali-kali angin di pantai memburai rambut hitammu yang tergerai sebahu. Seandainya aku bisa membawamu pergi dari masalah ini. Aku menghembuskan nafas perlahan, menyesap angin pantai yang sedikit terasa kencang.

“Dia tidak seperti kamu yang teramat baik kepadaku. Jika harus dibandingkan, perhatian dan ketulusannya masih dibawahmu. Dia manis, tapi sering pula kasar. Dia baik tapi tidak jarang juga bikin kesal. Dia juga perhatian tapi sering juga cuek. Entahlah mas, aku gak tau apa yang membuatku seperti ini.”

“Rana, aku tidak berhak mencampuri urusan hatimu. Aku hanya tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti ini. Kamu sadar gak kalau kamu dipermainkan? Kalau dia benar-benar mencintaimu, seharusnya dia tidak membuatmu menangis.”

“Atau, aku ya mas yang terlalu banyak berharap atas hubungan ini?padahal aku tau, hubungan ini gak akan berhasil”

“Ah kamu, selalu menyalahkan diri sendiri. Ini bukan hanya tentang kamu, tapi juga tentang dia. Coba kau liat dia, kenapa dia selalu datang dan pergi seperti itu. Kenapa dia seolah tak bisa bersama kamu tapi tak bisa benar-benar membiarkanmu pergi. Dia gak tegas Ran, dia seperti bingung dengan perasaannya sendiri. Satu sisi mungkin dia memang mencintaimu, tapi disisi lain dia mungkin juga tau kalau tidak bisa memberimu kepastian atas hubungan ini.” Aku menoleh ke arah Rana, memperhatikan lekuk wajahnya yang muram. Matanya mulai berkaca-kaca. Andai kau tau Ran, aku gak pernah bisa melihatmu menangis.

“Mas, jangan membenciku karena kebodohanku ini ya. Temani aku, meskipun aku berkali-kali terpuruk. Aku mohon jangan biarkan aku sendirian.” Kamu menggenggam tanganku. Menatapku dengan sayu.

“Sudahlah..” Aku memalingkan wajahku, menatap langit yang membentang dihadapanku yang berwarna biru. Sebiru perasaanku kepadamu.

“Mas, maafkan aku ya. Aku mohon jangan membenciku.”

Rana, mana mungkin aku bisa membencimu sedangkan keberadaanmu didekatku memberi warna tersendiri dalam hidupku. Aku hanya tidak sanggup melihatmu menangis, karena melihatmu tersenyum adalah sumber kebahagiaanku. Kau sangat berrati untukku Rana, tapi aku merasa tak berharga karena tidak bisa melakukan apapun untuk menjauhkanmu dari masalah ini.

Seandainya aku tau siapa dia orang yang kau cintai, mungkin aku akan datang dan menyuruhnya untuk membahagiakanmu. Meskipun aku harus memaksanya demi melihatmu tersenyum.

 

 

 

  • view 306