Kenapa ada dia dimatamu?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Agustus 2016
Kenapa ada dia dimatamu?

Rasanya aku tak sanggup menahan diri untuk tak membenci diriku sendiri. Kenapa aku begitu naif untuk melihat kenyataan yang memang tak sesuai mauku. Aku berjalan mendekatimu, mencoba meredakan deburan di jantungku yang penuh dengan amarah.

Aku menyesal telah gagal memahamimu, hingga akhirnya kau memutuskan untuk menjauh dariku. Tapi kali ini, aku benar-benar marah kepadamu. Bagaimana tidak, kenapa kau membiarkan dia merendahkan martabatmu sebagai wanita. Meski aku tak berhak atasmu, tapi aku adalah orang yang paling tidak rela membiarkan kamu terhina seperti itu.

Aku menarik tanganmu, menjauhi kerumunan mereka yang masih hanyut dalam gelak tawa. Kau tidak menolak dan mengekor saja kemana aku bawa.

“Duduk disini, aku marah.” Aku mencoba mengatur nafasku. Kau nampak bingung dengan memelototkan matamu dan mengangkat bahumu.

“Apa?” Kamu semakin melotot, mungkin saat itu ribuan tanda tanya beterbangan diatas kepalamu.

Aku menghela nafas panjang, menyesali perkataan dan kemarahanku sendiri.

“Seharusnya kamu bisa lebih menjaga diri. Bersikap baiklah.” Aku berusaha merendahkan suaraku. Sepertinya, bukan ribuan tanda tanya lagi dikepalamu tapi mungkin juga ada rasa penyesalan dihatimu telah mengenalku. Kamu menghela nafas dan menyandarkan punggungmu pada sofa merah ini. Matamu menatap jauh ke kolam renang yang terhampar didepan kita.

“Kamu cemburu ya?” ucapmu tanpa menoleh ke arahku, lirih hampir terbawa angin yang menerpa wajahmu. Ah aku benci diriku sendiri, kenapa aku tak mampu mengontrol diri. Aku mulai mengeluarkan kata makian untuk diriku sendiri.

“Berhenti memaki. Kenapa kamu begitu angkuh?” Kau menarik tanganku yang hendak melemparkan gelas dari lantai 3 ini.

“Aku tau aku tidak berhak marah, tapi itu tadi..ah sudahlah. Sekarang kau putuskan, aku yang akan menegur dia atau kamu yang akan menyampaikannya sendiri”

“Dia, dia siapa? Coba jelaskan dimana salah sikapku tadi?

Tidak tega rasanya melihat wajahmu yang sering memelas itu. Sebenarnya aku tak ingin lagi terlalu jauh masuk dalam kehidupanmu, ingin pergi meski tak benar-benar ingin. Kau sudah banyak tersakiti oleh sikapku, oleh ketidak mampuan diriku memberikan penjelasan mengenai bentuk perasaanku padamu.

Kau menatapku sambil menggaruk-garuk kepalamu yang aku pastikan tidak gatal. Aku tersenyum dalam hati, kamu memang benar-benar lucu. Atau, aku ya yang lucu dan aneh?

“Seharusnya kamu bisa bersikap baik dan bisa menjaga kehormatanmu. Kamu ini kan perempuan. Apa harus aku yang menegur Sammy? Berani-beraninya dia merangkul pundakmu didepan mataku.”

“Dia tidak merangkulku, setidaknya aku tidak merasa bahwa tangannya menyentuh bahuku. Ya sudah, aku harus apa?”

“Marahi dia, atau setidaknya komplain la. Dan aku gak mau lagi lihat kamu deket-deket dia, gak usah gak penting.” Aku berbalik hendak meninggalkanmu, karena aku tau wajahmu pasti memelas lagi dengan helaan nafas lirih ciri khasmu saat aku marah dan kau tak tau dimana salahmu.

Uuugh..rasanya ingin ku maki diriku sendiri yang masih belum mampu menahan cemburu kepadamu. Padahal disisi lain, aku kerap kali mempermainkan hatimu dan membakar kecemburuanmu. Dan tiap kali kecemburuan menyelimuti hatimu, aku dengan acuh mengabaikannya dan malah berbalik mengatakan hal kasar yang tak patut padamu.

“Tunggu” Kau berlarih kecil menghampiriku, mencegah langkahku.

“Kemana kamu ketika aku cemburu dulu? kemana kamu saat aku tak suka dengan kehadiran dia di dekatmu? Kenapa aku harus selalu melihat dia di matamu?” kau berteriak menumpahkan kecemburunmu.

“Kamu gak adil.” Ucapmu lirih

“Terserah.” Aku berlalu, bukan karena tak mau mempedulikanmu. Tapi aku tak akan sanggup melihat air matamu yang sering tertumpah karena sikapku.

“Kenapa kau tidak katakan bahwa kau masih mencintaiku?Kenapa kau tidak mau mengakuinya? Kau berusaha mencegah langkahku dengan suaramu.

Tapi aku tetap tak bergeming, berlalu. Karena aku tau cintaku tidak akan membuatmu bahagia karena aku tak pernah mampu menjadi lelaki impianmu. Setidaknya begitu pikirku. Entahlah, meski aku ingin sekali memelukmu tapi aku tak ingin kembali menyakitimu namun tak rela juga aku melepasmu.

 Ah, cemburu ini benar-benar merepotkanku.

 

 

 

 

  • view 355