Bolehkah aku?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Agustus 2016
Bolehkah aku?

 Melihatmu tersenyum setiap waktu itu rasanya menenangkan. Berlama-lama menatap wajahmu memang menjadi hobi baru saat ini. Entah kenapa, rutinitas itu tak pernah jemu aku lakukan. Menariknya dirimu terletak pada bola matamu yang seakan selalu berbicara. Disana selalu ada banyak kata dan cerita, dan aku selalu ingin menikmati ceritamu.

Pasti kamu tau kan, bahwa berbincang denganmu selalu bisa membuat aku tersenyum bahagia. Kamu cukup pandai menularkan keceriaanmu padaku. Melihatmu bercerita banyak hal seolah membawaku menembus gerbang waktu dan ikut hanyut terbawa ceritamu. Ah, aku selalu suka caramu bicara. Bahkan saat kau berbicara didepan kelas, rasanya semua penjelasan tentang teori-teori kuliah kita masuk ke otakku, meskipun ketika kau berhenti bicara semuanya keluar lagi. Hehehe. Tapi itu yang membuatku jatuh cinta padamu, kepiawaianmu menjelaskan banyak hal.

Aku jatuh cinta padamu, entah kapan tepatnya. Bukan pada pandangan pertama kurasa, karena perasaan itu ada tanpa aku tau kapan mulanya. Aku tak pernah menyadari bahwa ada yang berbeda dihatiku saat melihatmu. Yang aku tau, keberadaanmu didekatku membuat aku bersemangat. Aku tak bisa mengelak karena ternyata perasaan suka itu telah tumbuh tanpa kuduga.  Tapi aku tak punya keberanian untuk mengungkapkannya padamu.

Aku hanya bisa memandangmu, dari kejauhan melalui celah punggung teman-teman kita dikelas. Kau duduk dua baris dari depan tepat dipojok kiri sedangkan aku duduk dibagian belakang dipojok sebelah kanan. Aku selalu suka melihatmu tersenyum dan antusias dengan materi di kelas. Dan aku, selalu antusias untuk menatapmu dari kejauhan.

Seandainya kau tau bahwa aku selalu kesulitan untuk menahan debaran jantungku yang berdetak kencang tepat saat kau membuka pintu mobilku dan mulai menyapa. Bahkan ketika mobilku mulai memasuki jalan menuju rumahmu, rasanya darahku berdesir kencang. Aku selalu menikmati saat-saat kita duduk didalam mobil. Seandainya saja jarak antara rumahmu dan kampus seperti jalan raya daendels, mungkin dadaku tak akan sanggup untuk menahan degupannya yang terlalu kencang.

“Mas, sudah siap maju ujian kan?” Suaramu menyadarkan aku akan lamunanku. Kamu duduk tepat disebelahku. Matamu menunjukkan sedikit kekhawatiran. Aku tersenyum kecut.

“Sudah, gak papa. Kan kemarin kita sudah belajar. Pede saja ya.” Kamu tersenyum menyemangatiku. Aku mengangguk. Apapun lah, aku tidak terlalu mengkhawatirkan kondisiku di dalam ruang ujian sidang nanti. Targetku hanya lulus kok.

Kau masih saja berbicara disebelahku. Menjelaskan beberapa hal yang sempat aku tanyakan kepadamu kemarin. Hari ini ujian sidang tesisku, harusnya aku mengkhawatirkannya karena jujur aku belum siap. Tapi aku mengkhawatirkan tentang kita, karena setelah ini kita mungkin tidak memiliki kesempatan untuk bersama lagi.

Rasanya saat itu aku ingin memelukmu. Aku tidak sanggup membayangkan kita akan jauh dan menjadi jarang bertemu. Aduh kenapa aku mendadak melow begini ya. Kamu masih terus saja bicara. Katakan padaku sayang, aku harus apa? Bagaimana aku harus mengatakan semua ini kepadamu? Apa nantinya kau akan mengerti tentang perasaanku? Ataukah hanya akan menjadi cemoohan dan justru membuatmu malah enggan berteman denganku? Katakan sayang..katakan kepadaku.

“Mas, kamu gak papa kan?”

“Gak papa, udah diam jangan ngomong melulu. Aku grogi ini. Duh, dosennya mana sih kok gak datang-datang.” Aku berpura-pura sibuk mondar-mandir berusaha menyembunyikan keresahanku.

“Oya, terima kasih ya. Terima kasih karena sudah mau berteman denganku. Terima kasih sudah banyak membantuku” Aku menghampirimu yang masih duduk menatapku. Kamu tersenyum, hampir tergelak.

“Kamu kenapa sih, aneh banget.” Kamu tersenyum manis sekali, aku lihat wajahmu bersemu merah.

“Setelah ini, tetap jadi temanku ya. Maaf ya, kalau selama ini aku sering banget ngerepotin kamu. Maaf kalau selama ini sering kasar sama kamu. Kamu sabar banget sih ngadepin aku.” Aku menatapmu lekat. Sebenarnya aku ingin berkata, tetaplah jadi temanku yang paling kau cinta.

“Iya, gak papa. Aku senang kok kita berteman. Kamu kan temanku yang paling ku cinta. Nanti kalau lihat gelar master di belakang namamu, inget sama aku ya.” Kau kembali tersenyum.

Pasti sayang, aku pasti mengingatmu. Bukan karena melihat gelar master di belakang namaku, tapi karena kau sudah pernah tinggal didalam hatiku. Kamu sudah menjadi bagian dalam cerita hidupku. Tapi esok, kita akan kembali pada jalan hidup kita masing-masing. Dan aku, akan kembali hanya bisa melihatmu pada foto profil di BBM mu dan hanya bisa mengetahui kabarmu lewat status BBM mu. Bolehkah aku memelukmu kali ini saja?

  • view 341