Notifikasi hening

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Juli 2016
Notifikasi hening

Ping..

Terdengar suara handphone ku berbunyi untuk yang kedua kalinya. Ada pesan masuk di bbm ku. Aku mengabaikannya saja, suara bos didepanku menahan tanganku untuk membuka pesan itu. Kulirik jam dinding yang ada tergantung didinding belakang punggung pak bos. Aduh, sudah jam 10. Kenapa rapat ini lama sekali sih, gerutuku dalam hatiku.

Ping..

Handphone ku kembali berbunyi, kali ini getarannya membuat peserta rapat yang hany berjumlah enam orang termasuk pak bos melirikku. Aku hanya tersenyum kecil, kecut dan segera meraih handphone ku untuk ku letakkan di saku blazerku. Dan aku bisa sedikit lega, saat suara handphone pak bos berdering. Rapat terhenti sejenak, dan akupun mengambil kesempatan itu untuk membuka pesan di hp yang sedari tadi tak sabar untuk dibaca.

            “Pagi honey..lagi dimana? Miss me gak? Miss you lo..”

            “Lagi ngapain? Kok lama banget balesnya?”

Aku tersenyum bahagia. Ah kamu, sepagi ini sudah rindu. Bukannya kita baru berhenti ngobrol di bbm sampai jam 2 dini hari?

            “Miss you banget dong, honey.. kapan kita ketemu?”

            “Sorry, slowresp..lagi rapat ni. Dari tadi jam 8.”

Aku mulai membalas chat dari mu. Sambil memperhatikan pak bos yang mulai kembali ke meja memimpin rapat pagi ini.

--------------------

Semua itu dulu, saat aku dan kamu masih menjadi kita. Saat kita tak ingin saling meninggalkan satu sama lain. Saat tak ada hari yang kita lewatkan tanpa saling menyapa. Saat semua menit begitu berharga karena kebersamaan kita.

Jam 10 pagi. Semua terasa hening sekarang, aku hanya bisa melihat handphone ku yang tergeletak di atas meja. Sendirian, ditemani tumpukan buka dan beberapa berkas kerja. Semua notifikasi yang masuk bukan dari kamu. Tak ada yang dari kamu, hari ini ataupun kemarin.

Ku raih handphone ku, membuka namamu pada kontak bbm ku. Masih ada, kulihat fotomu masih terpajang dengan foto yang sama saat terkahir kali kamu menghubungiku. Aku menutupnya lagi dan kembali meletakkan handphone ku di tempat semula.

-------------------

“Kenapa tidak kau hubungi saja dia.” Kata Lala, rekan kerjaku yang sedari tadi memperhatikan aku mengaduk-ngaduk red velvet di hadapanku.

Aku menggeleng, karena itu melanggar komitmen kita dulu.

“Gak, aku gak mau.” Kataku sambil meminum red velvet mencoba menyegarkan tenggorokanku yang sedikit tercekat.

“Jangan mempersulit diri sendiri, bukankah ini mudah. Kau cukup berkirim pesan atau menelpon untuk menanyakan kabarnya. Gak sulit kan?”

“Gak bisa La, aku gak mau. Kami sudah berkomitmen bahwa dia yang akan menghubungiku terlebih dahulu. Bukan aku.” Kataku sambil menghela nafasku.

“Aku gak paham. Kenapa kamu masih memegang teguh komitmen kalian, sementara dia tidak. Kau lihatkan, dia berlalu begitu saja dari hidupmu. Tanpa penjelasan apapun.”

Aku menunduk.

--------------------

Kau memelukku erat. Setelah pertengkaran kita malam itu, kau datang menemuiku dan menatapku lekat.

“Jangan seperti ini honey, jangan..Kau tau kan, batas antara cinta dan benci itu sangat tipis. Jangan berbuat itu lagi ya sayang. “ Katamu sambil memelukku erat.

Aku terdiam. Ini tidak adil buatku. Kau begitu marah atas kesalahanku. Tapi kau tidak pernah memberikan hak kepadaku untuk marah kepadamu.

Aku menciumi wangimu dari balik punggungmu. Membelai bagian kepalamu dengan lembut.

“Maafkan aku..maafkan aku. Iya, aku tidak akan mengulanginya.”

“Kau tau kan sayang, jalan kita ini sudah salah. Jangan kau membuat kesalahan yang lain. Hubungan kita hanya untuk kita, bukan untuk orang lain.” Katamu seraya memegangi kedua pipiku dengan tangan lembutmu. Aku mengangguk.

Kenapa didepanmu aku selalu kehilangan keberanian dan logikaku.

------------------

“Dia sudah menikah, La. “ kataku berusaha sadar dari lamunanku. Aku melihat sahabat didepanku terperanjat dan membelalakkan matanya yang indah.

Hening. Aku diam terpaku memperhatikan minuman didepanku yang tinggal separuh.

“Sudahlah, hidupmu bukan hanya tentang dia. Kau masih bisa melanjutkan hidupmu tanpa dia. Aku tidak akan bertanya kenapa dia meninggalkanmu. Apapun alasannya, seharusnya tidak perlu membuat hidupmu berantakan. Kau punya hak untuk bahagia, dengan atau tanpa dia.” Lala menepuk-nepuk punggung tanganku.

Aku memejamkan mataku. Aku merindukan dia La, andai kau tau rasanya.

“Dia bukan udara, kau masih bisa hidupkan meski tanpa dia?” Lala kembali menguatkanku.

Aku mengangguk. Pasti, aku pasti masih bisa hidup tanpa dia. Aku hanya belum terbiasa dengan semua ini. Aku belum terbiasa melalui hari-hariku tanpa sapaan darinya. Aku belum terbiasa melewati malam tanpa berbincang dengannya.

Cinta ini seperti perang, sangat mudah dimulai dan terasa sulit untuk dihentikan.

Aku menghela nafas. Aku hanya belum terbiasa La, karena dia sudah menjadi bagian dari hari-hariku.

 

  • view 249