Aku, Cinta Pertamamu..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juli 2016
Aku, Cinta Pertamamu..

Aku, cinta pertamamu.. Aku masih mengingatmu, lekat. Masih menghitung setiap hari yang berlalu meninggalkanku. Masih sering menciumi wangimu yang dulu tertinggal dibantal itu. Masih sering duduk termenung membayangkanmu ada. Masih berandai-andai bisa berlarian bersama.

Aku masih ada untuk mencintaimu, pasti. Karena aku adalah wanita pertama dalam hidupmu. Karena aku, cinta pertama dalam jiwamu. Karena aku, selalu mendekapmu dalam doaku. Karena aku, akan selalu merindukanmu..

577 hari yang lalu sayang, saat aku terakhir kali bisa menatapmu dan menyentuh lembut kulitmu. Hari yang terasa sangat panjang dan melelahkan. Untukmu dan juga untukku. Hari itu, udara terasa sangat sesak bagimu dan juga bagiku. Waktu terasa berjalan sangat lambat hingga aku serasa gemetar menunggu menit demi menit berlalu.

Disana sayang, dijendela kaca itu dulu aku menunggumu. Menatapmu dari kejauhan sembari menghapus buliran air mata yang selalu terjatuh. Aku benar-benar lunglai hingga suarakupun tak sanggup aku ucapkan. Aku hanya menangis, terdiam dan menggigiti bibir penuh kecemasan. Menunggumu dibalik jendela menjadi hal yang sangat mengerikan saat itupun, hingga kini sakitnya terasa masih sama.

Aku menyesal sayang, dua hari sebelum hari itu, aku seharusnya bisa memelukmu, bisa menciumimu dengan bahagia, bisa membelai hidungmu yang mancung, bisa bermain-main dengan jemarimu yang panjang. Aku seharusnya berbicara denganmu, membiarkanmu mendengar suaraku sekali lagi, memberimu kesempatan untuk merasakan hangat pelukanku. Seharusnya begitu sayang, dan aku sungguh menyesal kini.

Aku rindu sayang, rindu sekali. Berjumpa denganmu dalam mimpi, selalu aku harapkan. Bisa melihat mu kini, begitu aku inginkan. Seperti apakah kau kini? Apa kabarmu disana? Hai lelaki tampan kesayanganku..aku ingin bertemu.

Apakah kau tau sayang? Aku selalu mengenangmu bersama kamboja, yang bunganya selalu ada setiap harinya. Kamboja, yang dulu ku tanam sejak masih mengandungmu. Kamboja, yang sekarang selalu ku bawa ketika akan menemuimu disana. Meletakkannya pada tanah tempat engkau dimakamkan. Kamboja yang terlihat dari kamar, tempat kedua kakak-kakakmu bermain dan sesekali menyebut namamu berharap kaupun bisa bersama kami disini.

577 hari berlalu sayang, saat aku terakhir kali bisa menatapmu dan menyentuh lembut kulitmu. Mengingatmu selalu mampu meluruhkan butiran air mata dipipiku. Tunggulah disana sayang, lelaplah dalam tidurmu. Panggil namaku saat nanti disana, ditempat manusia dan Tuhannya akan bertemu.

  • view 328