Bergandengan tangan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Juli 2016
Bergandengan tangan

Aku bukan ingin meninggalkanmu, namun yang perlu kau tau..mungkin tanganku sudah lelah untuk bergandengan tangan denganmu. Bukan karena aku menemukan orang baru, namun kau tak pernah bisa mengambil pelajaran atas kesalahan lama yang terus kau ulang.

Nyesek rasanya..ketika harus melihat dirimu terlilit masalah yang sama berulang kali. Dan aku sebagai teman hanya bisa mengelus dada, bukan karena tak bisa berbuat apa-apa tapi karena semua nasihatku seperti kapas yang berhamburan tertiup angin. Dan kamu, selalu datang dengan masalah yang sama, kesalahan yang sama dan pada orang yang sama. Ah rasanya pengen gigitin ban tubbles aja, walaupun rasanya agak alot dan sepat tapi mungkin bisa cuil juga karena gigitanku. Ada harapan lah setidaknya...

Bagaimana dengan kamu pren, kenapa sepertinya kamu sengaja membiarkan hidupmu terus menerus dalam masalah?

Kapokmu kapan???

Duh rasanya gemes melihat kelakuanmu dan semakin gemes karena ternyata kita adalah teman. Kamu tau, aku mencoba menyelami hatimu, hanya mencoba, karena kenyataannya aku tak bisa benar-benar memahaminya. Kamu terlalu rumit dan seperti diselimuti banyak misteri. Bukan misteri sih nampaknya, tapi diselimuti banyak kebohongan untuk menutupi kebohonganmu yang lain.

Kau bilang ingin lepas dan bebas, pergi meninggalkan semua kekusutan hidupmu. Oke fine, kamu lepas beberapa saat. Namun menuju kekusutan yang lainnya dan ujung-ujungnya kembali pada kekusutan yang pertama. Apa kau tidak jenuh? Apa tak ada kesalahan lain yang bisa kau perbuat?

Dan kini, aku semakin stress karena beberapa dari orang dekatku yang lain mulai mempertanyakan apakah aku sama kelakuannya dengan dirimu? Duh..duh... Apa berteman sama artinya dengan menduplikasi? hingga aku harus sama seperti dirimu? Enggak juga kan... Aku punya kehidupan sendiri, punya logika sendiri dan punya tujuan hidup sendiri. Aku bukan manusia suci dan tak punya masa lalu. Aku juga bejat pren, tapi setidaknya aku tau bahwa itu salah dan tidak mau lagi ada disana. Masa lalu yang buruk bukan sekedar untuk ditangisi, tapi juga untuk direnungi. Bukankah sudah banyak aku tuturkan kisah yang bisa kau ambil hikmahnya? Bukankah sudah terlalu banyak airmata yang tumpah karena kesalahanmu? Dimana logikamu?

Kita adalah teman, harusnya kita bisa saling bergandengan. Harusnya kita bisa saling menguatkan. Namun hidupmu bukanlah hak ku, tak ada kapasitasku untuk mengaturnya, hanya kamu yang bisa menatanya. Aturlah langkahmu, perbaiki dirimu. Hanya pelanduk yang jatuh pada lubang yang sama berkali-kali.

 

 

  • view 249