Pecinta Malam : Bulan Sabit di Parrhasia

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juli 2016
Pecinta Malam : Bulan Sabit di Parrhasia

Hari sudah menjelang malam, perbukitan Parrhasia sudah didepan mata. Bulan Sabit pertama kali muncul dengan semburat cahayanya yang kekuningan menghias langit di perbukitan Parrhasia. Kau tertidur pulas di dahan pohon yang bersebrangan tak jauh dari dahan pohon tempat aku merebahkan badanku. Aku mengamatimu, lekuk wajahmu, irama nafasmu dan semua gerak tidurmu. Teringat pertama kali kau datang ke rumahku dengan keletihan yang sangat di wajahmu. Kau berjalan jauh, menapaki hutan Arkadia menuju pinggiran Kreta. Kau mencoba berlari, lari dari kenyataan saat wanita yang kau puja menemui takdirnya, bersemayam dalam langit, menjelma menjadi bintang. Lelah katamu, kelelahan karena terus berlari dan menjauh dari bintang.

Katamu, bintang selalu mengingatkanmu akan dia dengan segala keperihannya. Perih karena harus menanggung kerinduan yang menggebu tanpa tau kapan akan bertemu. Bukankah obat terbaik dari kerinduan adalah pertemuan? Lantas, kemana kau akan mengobati kerinduanmu jika dimensi ruang antara kau dan dia bukan lagi jauh namun berbeda? Malam selalu menjadi saat-saat menyedihkan dengan kegelisahan yang menyiksa. Kau memeluk kerinduanmu dalam senyap bersanding dengan gelapnya malam dan hiasan bintang.

Dan aku, memeluk perasaanku juga dalam senyap. Tidak ada rindu yang menderu, karena bertemu denganmu bukan sesuatu yang sulit buatku. Kau selalu ada, menemaniku ke ladang gandum, memainkan Lira bersama di bawah pohon Siprus, atau sekedar duduk di sampingku menikmati semilir angin pagi di teras rumahku. Kau selalu ada untukku sebagaimana aku yang selalu ada menemanimu menatap bintang. Aku sebagaimana dirimu, dalam senyap kupeluk semua perasaanku terhadapmu. Ku dekap kecemburuanku terhadap bintang yang selalu kau tatap dan kau puja.

Bahkan hingga saat ini, manakala bulan sabit di perbukitan Parrhasia akan menjadi pengobat kerinduanmu, aku masih terdiam dalam sepi. Aku bergelut dengan kegelisahan hatiku sendiri, mencoba berdamai dan merelakan dirimu. Apalah artinya perasaanku ketika kebahagiaanmu bukan bersamaku. Apalah artinya kecemburuanku  yang tertutup dengan kegembiraanmu untuk menemuinya di sana.

Ini bukan mudah dan biasa, aku harus menanggung perasaan sakit yang menyiksa. Layaknya pecinta, aku juga menginginkan berjalan bersisian denganmu dalam balutan perasaan penuh cinta dan kasih. Aku pernah bermimpi, kita duduk ditengah ladang, dengan tangan saling menggenggam sambil menatap bintang. Aku memiliki harapan, berdua denganmu menjalani kehidupan dan menata masa depan. Duhai engkau lelaki pujaan yang sedang tertidur didahan, engkau tak pernah tau bahwa aku menyimpan perasaan dan harapan. Engkau tak pernah tau, betapa sakitku menahan dan merelakan, dirimu yang terus memuja bintang hingga lupa jalan pulang.

Cinta tak akan mengingkari takdirnya, dia tau kemana muara terbaiknya nanti akan berakhir. Pada rumahku yang terletak di pinggiran kota Kreta atau pada perbukitan Parrhasia yang sudah didepan mata. Pergilah engkau wahai pecinta malam, temuilah takdirmu di perbukitan Parrhasia. Dan aku akan kembali pulang menemui takdirku sendiri.

  • view 216