Aku belum sukses, Mak..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juli 2016
Aku belum sukses, Mak..

Romadhon sudah memasuki hari ke 29, dua hari lagi hari raya Idul Fitri itu akan datang. Aku masih disibukkan dengan persiapan daganganku untuk aku jual sore nanti. Kampung ini sudah mulai sepi. Rumah di kanan kiriku sudah terlihat sepi. Pak Mamat dan keluarganya sudah mudik ke kampung halamannya di Brebes dan Bu Sunarsih beserta anak dan menantunya sudah pulang ke Ngawi. Hanya terlihat Pak Rohim yang belum mudik serta dua keluarga yang lain.

Pulang kampung memang menjadi agenda besar tahunan yang dilakukan oleh sebagian besar warga di kampung ini. Kampung yang hampir 70% warganya berasal dari luar Jakarta. Kami mencoba peruntungan nasib di Jakarta dengan satu harapan agar bisa sukses sehigga dapat memperbaiki kehidupan keluarga.

Begitu juga aku, sejak 6 tahun yang lalu aku merantau ke Jakarta. Meninggalkan emak dan adik-adikku di kampung mengikuti jejak tetanggaku Pak Madrus yang terlihat sukses. Aku tau, Jakarta tidak akan dengan mudah mengabulkan harapan dan impianku. Apalagi kepada orang sepertiku yang hanya punya modal nekat dan tenaga. Awal di Jakarta, aku bekerja membantu usaha Pak Madrus sebagai penjaga toko sepatu di Pasar Taman Puring. Hampir 3 tahun, hingga ahirnya Pak Madrus meninggal dan usahanya dikelola oleh menantunya. Aku memilih untuk belajar mandiri. Dengan modal pas-pasan, aku mencoba berdagangan gorengan di pengkolan angkot dekat rumah kontrakanku. Dari siang hingga malam, setiap hari. Berharap aku bisa mengumpulkan modal sedikit demi sedikit untuk mulai membangun usaha membuka toko sepatu seperti Pak Madrus. Ini sudah tahun ke 3 aku berjualan gorengan, modal yang aku kumpulkan belum juga bisa aku gunakan untuk sekedar kulakan sepatu. Ada saja keperluan emak dan adik-adik di kampung yang harus aku dahulukan.

“Tahun ini gak pulang lagi dul?” tanya pak Rohim menyadarkan aku dari lamunanku. Aku tersenyum dan menggeleng.

“Gak pak, sayang uangnya. Mending buat adik-adik dan emak di kampung. Emak kemarin bilang pengen mlester lantai rumah Pak, jadi ya uang buat beli tiket saya kirim saja ke kampung.” Ucapku pada Pak Rohim sambil menata gerobak gorenganku. Pak Rohim menepuk pundakku.

“Ya sudah, temenin bapak disini saja. Nanti lebaran ke rumah ya, makan opor sama saya.” Pak Rohim lalu pamit pulang.

Pak Rohim termasuk warga disini yang dekat denganku. Pak Rohim berasal dari Purwokerto, ia merupakan pedagang kaki lima diujung jalan, berdekatan dengan tempat aku menggelar daganganku. Dia tidak pernah mudik, karena istrinya memang orang Betawi. Nampaknya, taun ini akan aku habiskan lagi dengan makan opor buatan istri Pak Rohim. Aku menghela nafas panjang.

Malam ini, adalaha malam ke 30. Jakarta terlihat tidak se ramai biasanya. Mungkin sebagian besar warganya sudah pulang ke kampung halamannya. Seandainya aku juga bisa pulang, melepas rindu sama emak dan adik-adik di kampung. Seingatku, terakhir aku pulang adalah 3 tahun lalu bersama Pak Madrus. Beliau selalu mengajakku pulang bersama-sama naik mobilnya. Pak Madrus termasuk orang yang sukses di perantauan. Melalui usaha toko sepatunya, Pak Madrus bisa membangun rumah yang besar di kampung, punya mobil dan bisa beli sawah.

“Nanti, kalo kamu sudah sukses, emak dibuatin rumah yang bagus ya kayak itu loh rumahnya Pak Madrus.” Teringat kata-kata emakku, lebaran 3 tahun yang lalu.

“Iya mas Abdul, Lisa juga mau punya rumah bagus. Nanti Lisa mau ajak temen-temen main dirumah Lisa. Biar pada tau kalau kakak Lisa itu orang sukses.” Celotehan adik bungsuku yang saat itu baru berusia 5 tahun.

“Kalau mas sudah sukses, Irul diajak ya ke Jakarta. Irul mau sekolah disana, nanti pulang sekolah baru bantuin mas jualan sepatu.” Adik keduaku juga menyahut. Kamipun tertawa bersama sambil menikmati masakan buatan Emak di ruang tengah. Suasana lebaran yang selalu aku rindukan. Berkumpul di ruang tengah, menyantap sate dan gule buatan Emak yang rasanya paling enak. Di Desa kami, tidak ada tradisi membuat ketupat dan opor di hari pertama lebaran. Biasanya, ketupat baru dibuat di hari ke tujuh lebaran atau yang biasa kami sebut sebagai tellasan katopak ( lebaran ketupat).

Suara hp ku mengagetkanku, terlihat nama emak muncul di layar telpon.

“Assalamualaikum, dul.” Suara emak terdengar dari telpon.

“Walaikumsalam. Ada apa mak, kok tumben nelpon malam-malam.” Tanyaku sambil melayani pelanggan yang beli gorengan.

“Dul, lebaran ini kamu ndak pulang lagi?” tanya emak.

“Ndak mak. Gimana Mak, lantai rumahnya sudah di keramik? Lusi seneng ndak?” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Sudah, rumahnya sudah bagus. Keramiknya warna hijau, Lusi yang milih. Katanya itu warna kesukaan kamu.” Aku bisa melihat emak tersenyum dari caranya berbicara.

Ah kebahagiaan apalagi yang lebih baik selain melihat kebahagian emak dan adik-adikku di kampung. Aku tersenyum.

“Dul, pulang to. Disini semua kangen sama kamu. Sudah 3 lebaran kamu ndak pulang. Apa kamu ndak kangen sama emak?” suara emak pelan tapi keras terdengar ke hatiku. Tak terasa air mataku mulai memenuhi mataku.

“Iya kangen to Mak, tapi gimana lagi. Abdul malu Mak, malu sama tetangga, malu sama keluarga yang lain. Abdul malu kalau ditanya-tanya sama orang, sudah punya apa?, sudah bisa beli apa saja? Sudah punya usaha apa?. Abdul belum sukses Mak, Abdul cuma penjual gorengan di Jakarta. Belum bisa bangun rumah buat Emak dan Lusi. Belum bisa ngasih apa-apa.” Aku mencoba menahan agar air mataku tidak tumpah.

“Oalah Dul, buat Emak kamu itu sudah sukses. Irul sudah lulus SMP, itu kamu yang biayai. Lusi sudah SD kelas 6, itu juga kamu yang biayai. Rumah emak sedikit-sedikit sudah diperbaiki, lantainya sudah keramik, atapnya sudah ndak bocor-bocor lagi. Itu juga semua kmu yang biayai. Emak, Irul dan Lusi dapat hidup ya dari uang yang kamu kirim tiap bulan. Ndak sukses gimana to maksudmu, Dul. Kamu itu wes sukses, Emak bangga sama kamu.” Emak mulai terdengar menangis. Dan aku tak sanggup lagi membendung air mataku.

“Maafkan Abdul Mak, maafkan Abdul ya Mak kalau belum bisa memenuhi impian Emak dan adik-adik.” Kataku sambil menahan isak tangisku.

“Pulang ya Dul, Emak kangen. Westalah, gak usah dipikir omongan orang. Emak sama adik-adik sudah bersyukur sudah bisa hidup kayak gini. Kamu itu buat Emak sudah jadi anak sukses.” Suara emak terdengar memohon.

“Mas, pulang to. Lusi sama mas Irul kangen. Emak mau masak sate sama gule kesukaan mas Abdul, nanti kita makan bareng-bareng lagi ya kayak dulu. Pulang ya mas.” Terdengar suara Lusi dibalik telpon. Aku mengangguk.

“Iya, besok mas pulang.” Ucapku sambil memejamkan mataku.

Mudik, nampaknya memang harus aku lakukan tahun ini. Bukan untuk memamerkan seberapa suksesnya aku dikota, tapi menumpahkan kerinduan pada emak dan adik-adik yang selalu ada untuk memberikanku semangat.

  • view 373