Pecinta Malam : Perempuan Dalam Mimpi

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juli 2016
Pecinta Malam : Perempuan Dalam Mimpi

Aku melihatmu duduk di tangga depan rumahku, bersandar pada tiangnya yang terbuat dari batu-batu dari lembah pegunungan rocky. Matahari belum lagi sempurna menampakkan sinarnya. Sedangkan angin yang bertiup dari balik pohon siprus menggoyang-goyangkan bunga matahari yang masih terlelap dalam tidurnya.

Aku melangkahkan kakiku, duduk tepat disebelahmu yang terlihat sangat kelelahan. Sepagi ini, kau datang menemuiku ada apa gerangan? Seolah mengetahui tanya yang ada di kepalaku, kau menyerahkan selembar kulit pohon ek dengan tulisan diatasnya. Seperti sebuah surat, dari siapa?

“Seseorang memberikannya padaku. Seorang perempuan.” Katamu sambil menatapi pohon zaitun yang sedang berbuah di samping halaman rumahku.

“Dia menyebut dirinya Diana. Perempuan dengan busur emas pada punggungnya. Pakaiannya hanya selutut dengan bordiran pada bagian bawahnya. Badannya tinggi dengan rambut sebahu. Dia cantik, mungkin menyerupai Aphrodhite.” Kamu menghela nafas. Aku masih terdiam mengamati raut wajahmu yang nampak kuyu. Pada bagian bawah matamu menghitam, menandakan bahwa kau kurang tidur.

“Sudah berapa malam kau tidak tidur?” suaraku memecah kesunyian pagi ini. Kau menggeleng dan mengusap-ngusap wajahmu dengan kedua tanganmu.

“Tidak bisa Agnia, perempuan itu selalu ada dikepalaku. Aku tidak bisa tidur.” Kau berkata dengan perlahan menyembunyikan kegelisahanmu.

“Bacalah surat itu, entah siapa yang menulisnya.” Kau menyuruhku membaca tulisan yang tertulis pada lembar kulit pohon ek.

Aku mengingatmu, seperti matahari yang selalu mengingat pagi. Duhai engkau laki-laki kelana dengan tombak pada satu tangannya..temuilah aku di Gunung Kitheron pada musim semi berikutnya.”

“Surat ini seperti belum tuntas di tulis. Seolah akan ada kalimat selanjutnya.” Kataku mencoba mengira-ngira kelanjutan isi suratnya. Kau mengangguk lalu terdiam.

“Perempuan itu mengatakan kepadaku, bahwa itu adalah tulisan tangan Dewi Callisto.” Kau menghentikan kalimatmu membuatku mengernyitkan dahi untuk beberapa saat.

“Perempuan?yang datang dalam mimpimu?” aku bertanya selidik. Kau mengangguk.

“Diana itu nama lain dari Artemis. Callisto adalah salah satu nymph Artemis dan juga sahabatnya.” Kau berdiri dan melangkah turun melewati deretan bunga matahari yang telah menari-nari bahagia menyambut sinar matahari.

Pagi tak sedingin tadi, matahari telah sempurna menyinari bumi. Tapi angin yang berhembus dari deretan pegunungan diselatan Kreta masih membawa kesejukan yang sama. Aku mengikutimu dari belakang. Kau melangkah perlahan menuju sungai ditepian ladang gandum tak jauh dari rumahku.

“Diana mengatakan kepadaku, beberapa bulan setelah pertemuanku dengan Callisto di hutan Arkadia, ia menemukan Callisto sedang menulis surat ini. Artemis marah dan menganggap Callisto tidak lagi mematuhi aturan yang berlaku bagi para nymph yang tinggal di Istana Artemisios.” Kau duduk pada batu yang ada di bantaran sungai. Kakimu memainkan air sungai dan membuat riak kecil didekat batu. Aku duduk pada batu yang terletak tak jauh didepanmu.

“Aturan bahwa para nymph harus menjadi seperti dewi mereka? Dewi Artemis?” tanyaku sambil menyerahkan lembaran kulit pohon ek berisi surat itu.

“Para nymph harus menjaga keperawanan mereka, sama seperti Dewi pujaan mereka. Apa menurutmu, ada yang salah dengan pertemuanku dan Dewi Callisto sehingga membuat Artemis marah dan menganggap Callisto tak lagi mematuhi aturan bagi para nymph?” tanyamu seolah mempertanyakan takdirmu.

“Mungkin Dewi Artemis takut, Dewi Callisto telah jatuh cinta padamu. Dan akhirnya membatnya memutuskan untuk keluar sebagai nymph.” Suaraku terdengar datar. Kau menunduk, mengambil beberapa butir batu kecil dan melemparkannya ke tengah sungai.

“Artemis memintaku untuk datang menemuinya di perbukitan Parrhasia, didekat bantaran Anauros pada bulan sabit berikutnya.” Katamu menatapku ragu seolah meminta persetujuanku.

“Untuk apa?” aku mulai gelisah.

“Entahlah, dia hanya mengatakan bahwa Callisto meninggalkan sesuatu untukku.” Kau menggelengkan kepalamu perlahan menggambarkan keresahan yang kau rasakan beberapa malam sejak mimpi itu.

“Agnia, apa aku harus menemuinya? Perempuan dalam mimpi, yang datang membawa kabar bahwa mungkin Dewi Callisto juga memiliki perasaan yang sama terhadapku?” Kau menengadahkan kepalamu ke langit, memandang langit Kreta yang biru tak berawan.

Dan aku, menatapmu dari atas batu ini. Mengamati setiap detail pada wajahmu yang terlihat lebih indah dari tanduk rusa emas yang menjadi panarik kereta Artemis. Kau lebih menarik dari pada titik-titik air pada langit Kreta yang memantulkan biasan matahari dan menciptakan pelangi. Bagiku, kedatangan Artemis dalam mimpimu seolah membawa keresahan tersendiri di lubuk hatiku. Aku cemburu dan aku tidak berharap kau akan benar-benar datang menemuinya untuk mengetahui apa yang Callisto tinggalkan untukmu. Aku mengambil bebatuan kecil melemparkannya ke tengah sungai berharap bersamanya kecemburuanku akan tenggelam dan tak menyisakan apapun kecuali riak kecil yang akan reda dengan sendirinya. Karena aku tau, kecemburuan tak akan membawamu datang kepadaku.

 

 

 

  • view 363

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    2 tahun yang lalu.
    cara bertuturnya bagus, sayangnya ceritanya terlalu luas, agak absurd. mungkin harus bersambung

    • Lihat 1 Respon