Pecinta Malam : Tentang Dewi Callisto

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2016
Pecinta Malam : Tentang Dewi Callisto

Akan kukisahkan kepadamu tentang dia, sang pecinta malam yang selalu bersenandung dibawah rasi bintang ursa mayor. Ia menunggunya pada setiap musim semi, memandangnya tiada jemu untuk mencurahkan segala rindu.

Aku melihatnya duduk termangu malam itu. Rambut nya ia biarkan menutupi sebagian dahi dan wajahnya. Punggungnya bersandar pada batu besar yang terletak di antara ilalang. Angin memainkan anak rambutnya, mengenai hidung dan matanya. Pecinta malam memainkan alat musik yang ada di pangkuannya, menyenandungkan lagu kerinduan pada Dewi Callisto pujaannya.

Sekarang masih Februari, dan musim semi masih satu bulan lagi. Pecinta malam tau dengan pasti, bahwa bintang yang ia tunggu hanya akan muncul diawal musim semi. Tapi setiap awal bulan, dia selalu datang ke ladang itu untuk duduk dan bersenandung. Menyanyikan bait-bait kerinduan pada sang Dewi. Untaian bait yang mendayu syahdu seolah menggambarkan kesedihan hatinya yang pilu.

Aku melihatnya dari kejauhan, bersembunyi diantara pepohonan yang ada ditepian ladang. Bulan sabit yang menggantung dilangit tak mengijinkan aku melihat dengan jelas raut wajah sang pecinta malam. Tapi dari syair lagu dan petikan alat musiknya, menceritakan kepadaku betapa pedih menanggung kerinduan yang tak jua menemukan muaranya.

Suatu senja yang teduh, ketika langit menurunkan gerimis. Dia menceritakan tentang kisah cintanya yang pilu. Dewi Callisto, wanita yang ia puja, adalah seorang puteri raja dari Arkadia, negeri nan jauh disana. Bukan hanya kecantikan yang ia miliki, kelembutan dan kepandaiannya menjadikannya seorang puteri yang banyak di kagumi. Mudah baginya mendapatkan seorang pangeran bahkan raja untuk jadi kekasihnya. Apalah artinya pecinta malam, yang hanya seorang anak petani di pinggiran kota. Dewi Callisto hanya menjadi kisah pengisi mimpi-mimpinya. Puisi kekaguman kepada sang Dewi hanya mampu ia curahkan pada lembaran-lembaran kulit pohon yang sengaja ia simpan. Sang Dewi tak pernah tau bahwa ada yang mencintainya dalam kesenyapan.

Hingga suatu hari, di musim semi pada awal bulan Maret, tanpa sengaja keduanya bertemu di sebuah hutan tak jauh dari kota Arkadia. Pecinta malam yang hendak berburu, mendapati Sang Dewi beserta beberapa perempuan lain kelelahan duduk diberteduh dibawah pohon akasia. Pecinta malam dapat mengamati wajah sang Dewi yang tertidur kelelahan dengan sangat dekat. Wajahnya seolah merupakan untaian banyak keindahan. Tiba-tiba Dewi Callisto membuka matanya dan mendapati si Pecinta malam yang menatapnya lekat. Sang Dewi pun kaget dan menanyakan siapa gerangan laki-laki yang ada di hadapannya. Tak lama, merekapun berbincang dengan akrab. Mereka berjalan menyusuri hutan, melewati hamparan bunga dan menikmati keindahan gunung Olympus dari kejauhan.

Pecinta malam menghela nafas perlahan. Aku merasakan hembusan nafasnya pelan dan hangat mengenai wajahku. Ia menahan ceritanya sejenak.

“Kau tauk Agnia, setelah hari itu aku tak pernah lagi melihatnya. Raja Arkadia, tak mengijinkannya keluar istana. Hingga akhirnya..” Pecinta malam menunduk.

“Apa yang terjadi pada sang Dewi?” aku bertanya dengan penasaran

“Dewi Hera mengutuknya dan menjadikannya beruang.” Kau masih menunduk, mencoba memainkan alat musik yang sedari tadi kau dekap.

“Dewi Hera? Bukankah dia istri Dewa Zeus?” ucapku mengabaikanmu yang mulai bersenandung. Kau mengangguk sambil memejamkan matamu.

“Tapi mengapa?” tanyaku lagi

“Dewa Zeus jatuh cinta padanya dan mulai mendekatinya. Dewi Callista terbujuk rayuan Zeus. Dewi Hera marah dan menganggap Dewi Callista lah yang merayu suaminya. Dewi Callista dibunuhnya dan jiwanya diabadikan menjadi rasi bintang ursa mayor oleh Zeus.” Pecinta malam masih memejamkan matanya sambil mulai melantunkan bait-bait cintanya kepada sang Dewi.

“Kini aku mencintai malam, karena pada malam hari aku bisa melihat bintang. Lewat bintang ingin aku menceritakan perasaanku agar nantinya bintangpun tau bahwa aku jatuh cinta pada sang Dewi” ucapnya lirih.

Aku terdiam, aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menghiburnya.

Dan kini, setiap menjelang musim semi pecinta malam akan selalu menunggu Dewi Callisto menemuinya dalam wujud rasi bintag ursa mayor. Dia tau, perasaannya pada sang Dewi tak akan pernah tersampaikan. Dia hanya mampu memandang gugusan bintang ursa mayor sebagai pengobat kerinduannya kepada Dewi Callisto.

Begitupun aku, perasaanku kepadamu wahai pecinta malam hanya akan aku sampaikan lewat hembusan angin pada sela ilalang. Andai kau tau ada aku disini yang jatuh cinta kepadamu yang selalu menyenandungkan bait cinta nan pilu.

  • view 299