Kemana aku pulang?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juli 2016
Kemana aku pulang?

AKU PULANG

 

“Kamu harus pulang?” Suaramu terdengar begitu menyayat hatiku

“Kemana, kemana aku harus pulang?” aku mencoba menahan genangan air mata yang mulai terasa akan tumpah.

“Ke tempat yang mebuatmu nyaman” katamu

Aku terdiam, tempat yang nyaman? Ah, dimana itu. Apa tempat itu memang benar-benar ada? Pikiranku berkecamuk, mencoba mengingat-ingat tempat yang nyaman yang pernah aku tinggali.

----------------

Teringat pada sebuah kamar, yang dindingnya terbuat dari deretan batu bata yang belum dikuliti dengan warna Terracotta nya yang menjadikan ruangan lebih cerah. Bukan aksen yang seolah dibuat alami, tapi ini memang batu bata yang belum selesai pengerjaan aciannya. Kamar yang sederhana yang terkadang bocor ketika hujan deras mengguyur desa kami. Seperti malam itu, saat hujan deras yang membuat aku sedikit sibuk memindah-mindahkan ember untuk menampung tetesan hujan dikamarku.

Aku mendengar suara tangis ibu yang terisak. Ibu terduduk di sudut kamarnya yang basah oleh air hujan yang merembes dari plafond kamar.

“Ada apa bu?” tanyaku berhati-hati. Ibu menggeleng. Aku melihat wajahnya membiru seperti bekas dipukul. Hatiku remuk redam. Aku bingung harus berbuat apa. Aku hanya bisa memeluk ibu tanpa bisa mengeluarkan suara lagi. Pelukan terakhir yang bisa aku lakukan, karena setelah malam itu aku tidak melihat ibu lagi di rumah kami. Ibu pergi, meninggalkan Bapak dan aku yang masih berumur 12 tahun waktu itu.

Aku tidak bisa menyalahkan ibu, bagaimanapun ibu punya hak untuk berbahagia. Mungkin kebahagiaan ibu tidak di rumah ini, tidak bersama aku dan bapak.

-------------------

Disanalah aku sore itu, dikamar berukuran 6 x 6 meter dengan dinding yang terbuat dari batu untuk memberi nuansa alam. Kamar yang ku tata apik, dengan jendela lebar yang menghadap halaman belakang yang ditumbuhi bermacam mawar dan anggrek kesukaanku. Disana aku sore itu, saat aku mendapati suamiku tergeletak tak bernyawa dengan mulut yang mengeluarkan banyak sekali busa. Aku bukan lagi merasa panik, tapi seolah dunia ku runtuh sampai aku tidak sanggup berteriak minta tolong. Aku lunglai hingga Pak Rahmat, sopir yang menjemputku dari bandara, mencoba memapahku ke ruang tengah. Lamat-lamat aku mendengar suara Bik Tum yang tergopoh-gopoh baru pulang dari pasar. Setelah itu, semua menjadi gelap dan senyap.

Suamiku meninggal karena over dosis. Duh, betapa tololnya aku. Mengutuki diri sendiri adalah hal yang aku lakukan untuk mengurangi rasa bersalahku saat itu. Istri macam apa aku ini hingga tak mampu membuat suamiku sadar dan berhenti sebagai pecandu. Sepuluh tahun kami menikah, sejak awal pun aku tau suamiku seorang pemakai. Terlanjur cinta menjadi satu-satunya alasan aku masih bertahan dengannya. Komitmen yang kami jaga hingga semua janji yang ia buat untuk berhenti sebagai pecandu narkoba, mampu membuat aku memiliki harapan bahwa rumah tangga kami akan baik-baik saja. Ternyata tidak, tak kunjung memiliki momongan membuat suamiku tak sabar menjalani biduk pernikahan kami hingga dia mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Duh Gusti, istri macam apa aku yang tak bisa memberi kebahagiaan kepada suamiku hingga ia memilih kebahagiaannya sendiri yang mungkin bukan bersamaku.

------------------

Suara ramai anak-anak mengaji, membaca kalam-kalam ilahi terdengar begitu menyenangkan. Aku mengamati kawan-kawanku satu persatu. Dari mulut mereka terdengar suara yang membuat hatiku tenang. Bu Nyai yang selalu mengajari mereka mengaji nampak duduk di antara kawan-kawanku itu.

“Sini masuk” Suara Bu Nyai memanggilku begitu sadar aku sedang mengamati mereka dari jendela musholla sore itu.

Sejak saat itu, setiap hari setelah pulang sekolah aku pergi ke musholla yang ada di seberang sawah, sekitar 1 km dari rumahku. Aku selalu menemui Bu Nyai disana dan membantunya menyiapkan musholla yang akan dipakai kawan-kawanku mengaji sore harinya. Bu Nyai juga mengajariku mengaji dan sekarang aku sudah bisa mengaji meski tak sepandai kawan-kawanku yang lain. Kata Bu Nyai tak mengapa, karena aku masih baru belajar.

Ndak papa kok, kamu kan baru 2 bulan belajar mengaji. Yo wajar, koncomu iku wes tahunan belajar ngajine. Sabar ya, nanti juga pinter kok.” Begitu nasihat Bu Nyai untuk terus menyemangatiku belajar mengaji.

Musholla yang sederhana, yang terbuat dari kayu berbentuk panggung, dengan beralas tikar anyaman dari daun enceng gondok buatan Bu Nyai. Bu Nyai sering menceritakan kepadaku tentang kisah-kisah perempuan solehah seperti Siti Aisyah istri Rasulullah, Siti Aisiah istri Firaun, Fatimah putri Baginda Nabi bahkan kisah tentang Al Khansa, seorang wanita yang dimuliakan oleh Allah karena kesabarannya. Aku selalu senang mendengar Bu Nyai bercerita. Mengamati raut wajahnya yang teduh dan bersih, mendengar suaranya yang lembut dengan pemilihan kata yang sederhana namun bermakna.

Percoyo wes nduk, apa yang sudah Allah takdirkan buat kamu pasti yang terbaik. Allah ndak mungkin dholim sama hambaNya. Hidup itu kan hanya rangkaian ujian. Ikhlas, sabar lan tawakkal karo sing kuoso. Sudah, sabar ya..”  Nasihat Bu Nyai kala itu, saat aku menangis teringat sosok ibu yang sangat aku rindukan.

--------------

“Aku gak mungkin pulang ke rumahku lagi, rumah itu mau aku jual. Terlalu banyak kenangan bersama suamiku disana. Aku juga gak bisa pulang ke rumah bapakku, rumah itu sudah ditinggali ibu dan adik tiriku. Bapak kan sudah meninggal, jadi aku gak bisa pulang kesana” Kataku sambil terisak.

“Rumah bukan tentang bangunan fisik, Dis. Rumah adalah tempat ternyaman yang bisa kau datangi untuk melepas semua kepenatan dan hiruk pikuknya dunia. Disana pula ada orang yang menunggumu dengan penuh kerinduan” Katamu sambil memberikan sapu tangan yang kau ambil dari saku celanamu.

Aku menarik nafas panjang sambil menyeka air mataku.

“Aku capek, kemana aku akan pulang?” Suaraku masih terdengar bergetar meski aku coba menahan.

“Ambillah cuti, tinggalkan Jakarta. Pergilah ke manapun, ke tempat yang kau suka dan kau anggap bisa memberimu kenyamanan.” Kamu menepuk bahuku, seolah ingin memberi kekuatan kepadaku.

------------

Aku memilih mengendarai ojek saja, biar cepat sampai pikirku. Jalanan yang dulu berbatu kini nampak teraspal dengan hotmik. Pembangunan sudah merata rupanya, desa terpencil semacam ini sudah kenal aspal hotmik.  Aku tersenyum sambil terus mengamati pemandangan di sepanjang jalan. Sawah yang dulu tempat aku bermain, kini sudah berubah menjadi  rumah tipe 36 yang berderet rapi. Rumah Pak Imron, Pak Kades dulu, kini telah berganti menjadi toko retail Indo***et yang memang sedang menjamur saat ini. Motor terus membawaku menyusuri jalan desa hingga sampai lah aku disebuah halaman yang luas. Tidak banyak yang berubah kulihat, kecuali sebuah bangunan sederhana yang dibangun disisi sebelah kiri. Aku melangkahkan kakiku memasuki halaman yang sedikit berdebu sambil mengamati sebuah bangunan lama yang masih sama seperti dulu.

“Gendis, kamu pulang nduk?” suara itu masih terdengar sama seperti 20 tahun yang lalu. Aku menoleh lalu menghambur mencium tangan Bu Nyai. Bu Nyi memelukku erat. Tak terasa air mataku tumpah membasahi kerudung Bu  Nyai yang berwarna kelabu.

Wes..wes..ayo duduk disana saja.” Bu Nyai mengajakku duduk di musholla. Persis seperti dulu, duduk berhadapan dengan Bu Nyai di musholla untuk sekedar menumpahkan kegelisahan hatiku. Wajah Bu Nyai masih bersih dan teduh, meski sudah nampak keriput didaerah mata dan leher. Tapi menurutku, beliau masih cantik dan berkharisma.

“Gimana solatmu? Gimana ngajimu, nduk?masih dijaga toh?” Bu Nyai menanyakan kabarku

“Alhamdulillah, masih Bu Nyai.” Aku tersenyum kecut. Terkadang kesibukan pekerjaan membuat aku tidak memiliki waktu untuk melaksanakan solat dengan tumakninah, mengaji pun menjadi hal yang jarang aku lakukan.

“Alhamdulillah” Bu Nyai tersenyum sambil mengelus-elus punggung tanganku. “Aku wes moco suratmu. Sabar ae yo nduk, Gusti Allah iku adil, perbanyak istiqfar dan solat malam biar hatimu tentrem. Tempat berkeluh kesah terbaik hanya pada Gusti Allah, lewat solat lewat doa, Insya Allah semua akan baik-baik saja.” Bu Nyai melanjutkan nasihatnya sambil menghapus air mataku yang semakin deras menetes.