Potongan logika

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Juni 2016
Potongan logika

Fira, 03 Desember 2015

Siang itu, aku menunggu kedatanganmu dengan tidak sabar. Berkali-kali aku melirik jam yang melingkar di tanganku. Perasaanku tak menentu, aku mencoba menghilangkan keresahanku sambil menikmati kopi yang tersaji di meja. Sedikit pahit, mungkin begitu juga hatiku kala itu. Seseorang menepuk bahuku dari belakang.

"Denti ya?" Suara mu riang menyapa. Aku mengangguk, agak kikuk.

"Cantik sekali kamu, seneng deh akhirnya kita bisa bertemu" Suaramu masih riang diiringi senyum manis yang mengembang dari bibirmu.

Fira, kesan pertama aku mengenalnya, dia adalah perempuan ceria, polos dan sepertinya tidak terlalu cakap. Lima belas menit pertama, kau banyak bercerita tentang dirimu tentang kisah kalian berdua. Tentang bagaimana kau dan dia bertemu, tentang bagaimana dia memperlakukanmu. Aku mendengarkanmu sambil menyesap kopi yang semakin terasa pahit. Tiba-tiba kau terdiam, suaramu bergetar menahan tangis.

“Kenapa mbak, kenapa dia begitu jahat padaku. Dia sering berbuat sesuka hatinya padaku. Ah, aku tau sekarang kenapa dia begitu. Dia tidak benar-benar mencintaiku kan?” Air matamu menetes.

Aku menarik nafas panjang.

“Sudah la fira, bukankah sudah aku jelaskan semua di chat kita kemarin. Hapus dia dari hidupmu. Dia tidak layak mendapatkan air matamu. Sekarang kamu menangisi dia, mungkin saja dia sekarang bersama perempuan lainnya lagi.” Aku mencoba menenangkan suaraku. Rasanya sedikit tertampar wajahku mengatakan itu.

“Kenapa aku bodoh ya mbak, aku sudah tau dia beristri. Tapi aku masih saja mau.” Kau menunduk sambil memainkan tisu yang kau pakai untuk menghapus air matamu.

“So, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanyaku.

“Aku pasti meninggalkannya mbak, aku gak mau lagi dibodohi dia. Sudah cukup, toh selama inipun dia tidak memperlakukanku dengan baik. Kadang baik kadang pula begitu mengatur dan tidak menyenangkan.” Kau menatapku sendu, seolah meminta dikuatkan. Aku tau, kau pasti sangat berat mengatakan itu.

“Bagus, jangan hubungi dia lagi. Aku tau, dia tidak pernah menghubungimu duluan kan?” Kau mengangguk.

“Lupakan dia, jalani kehidupanmu dengan baik” Aku melihatmu mengangguk. Lalu kaupun pergi meninggalkanku, mengakhiri pertemuan kita siang itu.

Aku menunduk lesu, berkecamuk dadaku melihatmu berjalan menjauh. Ada semacam perasaan bersalah ketika kemarin aku harus memberitahu bahwa kekasihmu telah mengkhianatimu dengan perempuan lain.

 

Rini, 04 Desember 2015

 

“Ayo Denti bicara, bagaimana pertemuan kalian kemarin. Apa yang kalian bicarakan?” Kau mengguncang-guncang bahuku dengan kuat.

“Sabar dong Rin, aku bingung ni mau mulai dari mana.” Kataku sedikit memelas.

“Dia cantik? rumahnya dimana? gimana ceritanya kok bisa kenal suamiku?” pertanyaan yang bertubi-tubi darimu.

Rini, perempuan yang saat ini berada di depanku, nampak tidak sabar mendengar ceritaku tentang fira kemarin. Aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Fira kemarin, tidak semua karena beberapa hal harus aku tutupi demi menjaga perasaannya.

“Satu hal Rin, Perempuan itu mencintai suamimu. Dan mereka sudah menjalani hubungan itu lebih dari 4 tahun.” Aku menarik nafas berat.

“Cinta macam apa yang dibangun diatas penderitaan orang lain? Apa perempuan itu tidak tau kalau lelaki yang dia cintai sudah beristri?” Suaramu lantang penuh amarah. Aku menggeser dudukku sedikit, mencoba menenangkan hatiku yang terasa tergores.

“Dia tau, tapi dia sudah terlanjur jatuh cinta. Sudahlah Rin, dia juga korban. Sekarang yang penting, bagaimana kau dan suamimu memperbaiki hubungan kalian. Buat suamimu tidak jatuh cinta pada perempuan lainya lagi. Jangan pedulikan Fira, dia sudah berjanji tidak akan menghubungi suamimu lagi.” Agak gelisah aku mengatakan semua itu. Ada sedikit rasa mengiba dan perasaan bersalah karena telah mengahancurkan dua hati perempuan di waktu yang berdekatan. Kau menunduk, bahumu bergetar.

“Kau tidak tau Denti, rasanya sakit, sakit sekali. Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa suamiku mengkhianati komitmen kami. Sembilan tahun yang aku habiskan bersama dia, seolah tak berharga baginya. Semua pengorbananku, kesetiaanku, kasih sayangku. Kau tau kan, suamiku sering menyakitiku, banyak hal yang bisa aku jadikan alasan untuk meninggalkannya. Tapi aku selalu memilih bertahan. Bahkan sekarang, saat semua keburukannya terbongkar. Aku masih memilih bertahan.” Suaramu tertahan dalam tangis yang terbendung sekian lama.

 

Rin, aku tau rasa sakitnya seperti apa. Aku juga tau kenapa kau masih bertahan. Begitulah perempuan, terlalu mencintai menjadi satu-satunya alasan mengabaikan semua rasa sakit yang selama ini kau jalani. Tidak tau bagaimana perasaanku kala melihatmu menangis bergantian dengan bayangan air mata Fira. Rasanya sesak sekali dadaku. Logika yang bertabrakan dengan perasaan. Aku bahkan tidak tau, apa nama perasaanku kala itu. Kalut? Sedih? Marah? Bahagia? Nelangsa? Atau Hampa?

 

31 Desember 2015

Kau mendekapku begitu erat, mencoba melarutkan semua kerinduanmu padaku siang itu. Seingatku, kita baru beberapa hari yang lalu bertemu. Kau sudah serindu ini? Aku tersenyum kecil. Ah, kau selalu begitu.

“Kan aku sudah bilang honey, aku selalu merindukanmu. Bahkan nanti saat aku masuk ke dalam mobil dan beranjak pulang meninggalkan rumahmu. Aku sudah rindu.” Kau menjawab pertanyaanku dengan sangat manis. Benarkah kau mencintaiku? Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di kepalaku. Aku menarik nafas panjang.

“Jangan berpikir terlalu jauh, kita jalani saja yang ada sekarang. Kau tidak akan menyia-nyiakan pertemuan kita dengan diskusi panjang yang bikin kepalaku pusing kan?” katamu sambil mencubit pipiku seolah tau kegelisahanku. Aku menggeleng, karena saat ini aku hanya ingin mendekapmu. Aku tidak tau, sampai kapan kebahagiaan semu ini akan bertahan. Kau selalu bisa meredakan tanyaku, kau selalu mampu menenangkan kegelisahanku.

Bahkan untukmu, aku melarungkan semua cemburu dan rasa marah hanya untuk melihatmu tetap memilih bersamaku. Entah sampai kapan.

Suara hp ku berbunyi, ada pesan singkat masuk.

“Denti, kamu dimana? Aku ingin bercerita.” Chat dari Rini masuk kali pertama beriringan dengan chat Fira yang masuk berikutnya “Mbak, saya boleh ngobrol gak”

Aku menarik nafas panjang..wajah Rini dan Fira berkelebat bergantian dengan wajahmu yang ada begitu dekat dengan wajahku.

Kuletakkan tanganku diatas jemarimu, mencoba menggenggamnya.

“Sayang, apa kau ingin hubungan kita berakhir?” tanyaku perlahan.

“Tidak, aku masih mencintaimu. Kenapa harus berakhir? Jangan Denti..jangan..” Kau menggenggam tanganku dengan erat.

“Rini..” aku tercekat

“Kenapa dengan Rini? Dia tidak tau hubungan kita kan?” suaramu menyelidik, aku menggeleng. Aku membisu tak sanggup mengungkapkan kata yang telah aku susun sedari kemarin.

“Sudahlah, jangan ada Rini, jangan ada siapapun hari ini. Ini hari kita. Aku hanya ingin menutup taun ini denganmu. Sama seperti taun lalu, saat aku harus mengawali tahun baru denganmu. Berdua saja.” Kau mencium keningku meluruhkan semua amarah dan logika didalam dadaku. Logika itupun pergi dan entah kapan akan kembali.

  • view 122