Mentari Sungai Musi

Desy Ayu
Karya Desy Ayu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Mentari Sungai Musi

?Perempuan itu rumit bung..? Kata Rito akhirnya sambil menatapku sendu

?Masalahnya apa memang? ? kataku dengan tenangnya

?Mereka terlalu misterius, banyak dari mereka mengatakan B di hatinya tapi A.? Jawabnya masih merenggut

?Kau masih memikirkannya ? lupakan sajalah.? Kataku enteng

?Aku hanya mengeluarkan isi hatiku saja, bukan untuk dipikirkan lebih jauh.. Maklum lah cinta pertama .? Dia menjawab dengan suasana lebih tenang.

Kata-kata Rito langsung mengingatkanku pada seseorang , seseorang yang membuatku mengalami perubahan, seseorang yang membuatku merasakan cinta. Tapi aku tak mau memikirkannya lagi , itu sudah lama, lama sekali..

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? ***

Sebelum aku tinggal di Bandung ,aku telah lebih dulu menetap di Palembang sejak SD sampai SMA . Baru setelah aku melanjutkan kuliah, aku sekeluarga pindah ke Bandung.Palembang , sejuta pesonanya kadang membuatku merasa rindu untuk kembali tinggal disana, tapi yang kurindukan sebenarnya adalah Rea .. gadis pemalu yang punya tawa keras dan badan bongsor.Sudah sekitar 4 tahun aku belum mengunjungi Palembang , selain karena tak ada waktu aku sekeluarga memang tidak punya keluarga lagi di Palembang jadi kalau berkunjung kesana tidak tahu mau tinggal dimana. Padahal aku bisa saja bilang pada ibuku agar bisa mengunjungi Palembang dan menginap di rumah Rea. Rea adalah putri teman ibuku yang bisa dibilang paling dekat, malah ibu menganggap keluarga Rea saudara. Pertama kali aku bertemu dia adalah saat acara syukuran pernikahan kakakku, Meyrisa. Keluarga Rea memang sangat membantu, waktu itu aku masih kelas 1 SMA , Rea masih kelas 5 SD.Hampir seminggu berturut-turut Rea dan keluarganya bulak-balik ke rumahku hanya untuk membantu ibu. Awalnya aku cuek saja pada hal itu, namun lama-lama aku merasa terbiasa melihatnya hilir mudik di depanku sambil membawa toples suguhan untuk tamu atau untuk membawa air minum untuk para tamu yang datang ke rumah.Belum lagi saat dia makan bersamaku , dalam satu meja itu aku belum bisa menghentikan senyumku karena Rea terus-terusan membetulkan kerudungnya,dasar anak kecil gerutuku dalam hati . Bukannya makan yang benar dia malah terus-terusan ngurusin kerudungnya. Lain lagi kalau dia lagi cuci piring , dapurku bisa banjir kalau dia yang terus-terusan cuci piring , entah bagaimana caranya dia mencuci piring bisa sampai membanjiri dapur dengan air seperti itu.Nah ada lagi pada saat dia akan shalat ashar..

? Kak , tungguin Rea. ? katanya sambil berlari ke ruangan tempat shalat. Aku yang bersiap akan shalat langsung berbalik, namun karena Rea sudah memakai mukena ia seperti kesusahan untuk berlari hingga akhirnya menginjak bagian bawah mukena dan dia terjatuh ke kolam ikan yang berada di samping ruangan shalat. Tadinya aku mau tertawa , tapi karena mukanya yang cemberut aku menolongnya segera.

?Padahal ?ini mukena baru Rea, ko udah jatuh ke kolam ikan yang bau anyir ya.? Rea merenggut

?Cepet ganti baju , pakai mukena kakakku terus wudhu , nanti kita shalat jamaah. ?? Kataku

Rea menurut , maklum anak kecil , dia nggak banyak omong Cuma aku kasian aja kan itu mukena baru, ko udah bau anyir lagi . Rea.. Rea. Belum lagi saat aku ada tugas mengetik, biasanya Rea mengikutiku ke kamar terus dia menontonku mengetik tugas , aku benar-benar biasa saja, namanya juga anak kecil , pikirku. Karena pemikiran bahwa Rea anak kecil itulah , aku pernah tidur siang tanpa pakai kaos karena hari itu sangat panas,hari itu juga Rea datang ke rumahku . Dia hanya menatapku saat aku setengah tidur dan sadar.

?Kenapa Re? , badanku bagus ya ?? kataku sambil mengumpulkan nyawa

? Ih ka, kaya orang yang abis kerokan aja .? Rea menimpali sambil pergi ke dapur

Satu lagi saat aku mengerjakan tugas menggambar , Rea memperhatikanku

?Kenapa? Mau bantuin?? Tawarku padanya

?Kak Erfan mau gambar apa?? tanyanya antusias

?Gambar Benua Australia buat tugas .? Jawabku

?Emang bisa kak??

?Bisa dong, nih pake ini .? Kataku sambil memperlihatkan kayu putih lalu mengoleskannya ke kertas agar aku bisa menjiplak gambar dari atlas. Rea hanya terdiam , lalu melemparku dengan bantal.

?Aku juga bisa dong kakak.?

Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Rea, dia tertawa lepas dan keras sekali , dari sana aku merasakan aku nyaman ketika bersamanya.Tapi aku menganggapnya itu adalah candaan kakak adik , mungkin dianggap seperti kakak-adik. Aku selalu seperti itu, selalu menganggap Rea anak kecil ,anak kecil yang tidak mengerti apa-apa bahkan tidak mengerti tentang cinta. Aku yang sudah kelas 1 SMA harusnya sudah bisa suka perempuan, tapi entah kenapa aku terus menundanya . Aku belum mendapatkan satu perempuanpun yang cocok untuk mengisi hatiku, bukan pemilih tapi bagiku perempuan di sekolah atau dimanapun yang seumuran denganku sepertinya biasa saja, sama saja. Tidak ada yang istimewa, tapi buatku Rea lain. Malah aku jadi bingung sendiri masa aku suka sama anak SD? Iya sih perempuan , tapi kan Rea masih kecil , Rea nggak ngerti perasaan yang aku rasakan. Dalam beberapa bulan setelah pernikahan kakakku, Rea jarang main ke rumah mungkin hanya sesekali? kalau di suruh ibunya. Aku selalu ingin bersama Rea, tapi pikiran itu pikiran bahwa Rea masih anak kecil selalu menghantui, maka aku mengalihkan segenap cinta yang kupunya untuk orang lain. Aku bisa menemukan orang lain,tapi selalu dan selalu aku merindukan Rea. Semuanya tentang Rea, tawanya , ulahnya yang kadang merepotkan . Pokoknya aku berani bilang bahwa aku jatuh cinta padanya, Rea cinta pertamaku.Sebenarnya saat aku pindah ke Bandung , aku cukup menyesal tak mengatakan perasaanku pada Rea, padahal Rea sudah cukup dewasa untuk mendengar penjelasanku, tapi aku selalu berpikir Rea masih kecil walaupun saat aku pindah ke Bandung Rea sudah kelas 2 SMP , bagiku dia masih? kecil .Akhirnya aku tidak pernah mengatakan apapun padanya , dan aku mengalihkann semuanya pada pacarku hingga akhirnya aku berhasil melupakan Rea.

***

Setelah beberapa kali berpacaran , aku berhasil melupakan Rea . Tapi perkataan Rito sore itu menghidupkan cinta pertamaku lagi ,padahal setelah sekian lama aku hanya menganggap rasaku pada Rea adalah rasa yang aneh. Hingga datanglah hari ini, aku akan pergi ke Palembang untuk urusan tugas kuliah. Sesampainya disana, rindu itu langsung menyeruak lebih kuat , rindu pada Rea kecilku .. Tempat pertama yang kukunjungi adalah pasar, dan entah keberuntungan atau kebetulan aku bertemu dengan ibunya Rea.

?Assalamualaikum bu ? Kataku

?Waalaikum salam , siapa ini ?? jawab Ibu Rea

?Aku Erfan bu, anak Bu Arimi..?

?Ya ampun Erfan, pangling ibu liat kamu sekarang sudah besar udah lama kamu nggak main kesini lagi padahal ibu rindu sama kamu sekeluarga. Gimana kabarnya pada sehat??

?Alhamdulillah bu, iya bu ibu juga nitip salam buat ibu. Kita sekeluarga belum bisa ke Palembang lagi karena belum sempat . Makanya sekarang Erfan ada tugas kuliah ke Palembang , Erfan langsung berangkat . Gimana Rea bu?? Kataku tak bisa menahan diri untuk menanyakan keadaan Rea

?Dia baik-baik saja, pasti pangling sekarang udah kelas 3 SMA.?

?Mau rencana kuliah dimana Rea bu ??

?Mungkin di Palembang saja fan, ayo mampir ke rumah kamu pasti cape .?

?Makasih bu, tapi Erfan mau di penginapan saja.Nanti kalau di rumah ibu, malah merepotkan lagi. Lagian Erfan Cuma 5 hari disini.?

?Aduh kok kaya ke siapa saja, anggap saja saudara. Jadi kamu nggak perlu merasa sungkan tinggal beberapa hari di rumah ibu. Lagian kamu nggak mau liat Rea? Kamu kangen dia kan ??.

Aku tersenyum, keren sekali ibu Rea bisa membaca pikiranku lebih dalam, karena memang aku setengah mati penasaran ingin bertemu Rea dan menguapkan rasa rinduku .Aku mengikuti ibu Rea menuju rumah , saat sampai ternyata Rea belum pulang karena kesibukannya sebagai anak kelas 3 SMA .Menjelang pukul 4 sore Rea pulang, aku bersalaman dengannya namun terlihat sekali dia bingung tak mengenaliku.

?Aku Erfan .. Kamu masa nggak ingat? Amnesia ya?? Candaku

?Hah? Kak Erfan? Kak Erfan ?? Katanya terlonjak , dia lalu tertawa keras lagi . Ah, rinduku menguap aku benar-benar merindukan tawanya itu.

?Kamu nggak berubah, tawanya masih keras. ?

?Iya dong kak, kakak kangen sama ketawa aku kan??

Aku tersenyum simpul, Rea pintar sekali membaca pikiranku. Kalau boleh malah aku ingin memeluknya. Sekarang dia lebih cantik, mempesona, kedewasaanya muncul, meski aku mencintainya saat dia masih kecil, tapi saat dia besar seperti sekarang ini dia masih mempesona buatku. Beberapa hari di rumah Rea aku makin tak bisa melupakan apa-apa yang ada pada dirinya , kenangan-kenangan itu selalu datang silih berganti bersama kenyataan bahwa aku bisa bertemu dengan Rea lagi. Jujur saja aku memang setengah mati ingin memberitahukan perasaanku pada Rea tapi aku takut Rea menganggap semua ini terlalu cepat. Tapi, bukankah benar waktuku disini nggak lama Cuma 4 hari lagi terhitung dari sekarang. Pada suatu saat setelah selesai makan malam

?Re, awas banjir lagi ..? kataku menggoda

?Kak Erfan udah lama nggak kesini sih! Aku udah ga gtu lagi kali, bete deh ..?

?Hehe iya Rea, sewot banget ..?

?Kata ibu , aku harus belajar supaya bisa jadi istri yang baik.?

?Nah otaknya cemerlang tuh.?

?Iya ibu aku otaknya emang cemerlang tau huh !?

?Maksud aku ya kamu , otaknya.. ?

?Jadi ibu aku otaknya ga cemerlang gitu hah??

?Bukan gitu juga , ahh dasar Rea.. ?

Rea malah menyipratkan air ke arah ku, aku hanya bisa menutup wajahku dengan tangan lalu aku berlari menghindarinya. Yah hitungan detik yang kulalui tak terasa telah berlalu lama, akhirnya aku akan pulang juga ke Bandung,tugas kuliahku disini telah selesai. Dan sebelum aku pergi aku berkata pada Rea..

?Lebih dari apa yang kamu lihat, aku harusnya berarti lebih.. ?

?Kak Erfan ngomong apa ??

?Kamu mau kuliah dimana??

?Di palembang aja deh kak, aku ga berani keluar kota. ?

?Yah terserah kamu, yang penting sekarang belajar yang bener dan semoga sukses J ?

?Makasih kak.. aku sayang kakak?

?Apa?? aku terdiam setelah mengatakan itu

?Iya , aku sayang kakak. Kakakku ?

Aku terdiam, bodohnya kenapa aku bisa mensalah artikan perkataan Rea. Padahal aku jelas lebih dewasa darinya, atau aku sepertinya akan lebih ahli tentang cinta ketimbang dirinya. Rasanya terpental jauh saat Rea bilang kakakku, artinya dia hanya menganggapku sebagai kakak-adik. Hari itu aku pergi pulang, aku berpamitan pada keluarga Rea. Dan? diperjalanan aku sempat ingin kembali lagi ke rumahya bertemu Rea dan mengatakan yang sebenarnya. Dan aku benar-benar melakukannya. Aku kembali ke rumahnya , aku memutar arah langkahku, mempercepat langkah yang terasa berat, keringatku bercucuran lebih kurasa. Dan di ujung lorong menuju rumahnya aku memicingkan mata , melihat sosok pria yang sedang duduk di teras. Aku terus maju berjalan mendekati dan sebelum aku sampai disana .. Rea keluar dan tersenyum pada pria itu, aku masih terdiam melihat pria itu memeluk Rea..

Gugusan hari-hari indah bersamamu ..

Bangkitkan kembali rinduku ,mengajakku kesana

Ingin ku berlari mengejar seribu bayangmu

Inginku menerjang pria itu , dan merebut Rea yang ada dipelukannya tapi aku berpikir lagi , cinta pertama tak selalu berakhir indah. Hanya prosesnya yang menarik semua orang..

Tak pedulikan ku terjang biarpun harus ku terjang padang ilalang

Tiba-tiba langkahku terhenti, sejuta tanya telah menahanku, ingin kumaki ..mereka berkata tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti hari ini juga mimpi maka biarkan dia datang dihatimu dihatimu dihatimu (Camelia 2~ Ebiet G.Ade)

***

  • view 170