Emas Dari Gubuk Reyot

Desy Mutiara Sari
Karya Desy Mutiara Sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2016
Emas Dari Gubuk Reyot

Emas dari gubuk reyot

?

Perih hati ini melihat anak-anak sekecil itu membawa karung yang ukuranya lebih besar dari tubuhnya. setiap kali aku melintas di jalan ini, aku selalu melihat mereka berdua duduk dan menatap melas di depan tukang jualan sosis bakar. Mereka hanya bisa melihat aneka sosis yang menggiurkan tanpa bisa membelinya.? Aku memperhatikan mereka setiap aku pulang kerja menjelang malam. Mereka anak-anak yang masih kecil, prediksi aku umurnya sekitar lima dan empat tahun. Kekuatan apa yang ada di dalam tubuh mungil mereka yang setiap hari memanggul karung berisikan botol-botol, plastik dan gelas-gelas bekas.? Entah sudah sejauh mana kaki mereka melangkah tanpa alas kaki sehingga kaki mereka terlihat sangat kotor. Baju mereka banyak yang berlubang, lusuh dan kotor, wajah imut mereka juga tertutup debu dan keringat yang melekat. Aku tak dapat menahan lagi, kali ini aku harus menghampiri mereka.

?Hai, nama kamu siapa??

Awalnya mereka takut, karena tiba-tiba aku mendekati mereka. Mereka memundurkan langkah kaki mungilnya. Mereka pikir aku anggota satpol PP atau oknum yang ingin mengusir mereka.

?Heiii? jangan takut! Aku Sabrina, aku hanya orang biasa kok??

Mereka saling beradu pandang dan mulai berani menghampiri aku. Aku pun tersenyum riang menyambut mereka.

?Jangan takut ya, nama aku Sabrina, nama kamu siapa??

?Nama ku Bayu kak, ini adik ku Septi?

Kemudian kami duduk di depan kedai sosis bakar tempat mereka biasa duduk. Aku menanyakan orang tua mereka yang ternyata ayahnya sudah meninggal dan ibunya sedang sakit keras. Mereka belum sekolah, yang pada umumnya banyak anak-anak sudah menempuh pendidikan dini. Hal ini tidak dapat mereka raih. Jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka sudah sangat susah. Dalam hati ku berteriak keras, Dimanakah Pemerintah?!!! ?Kenapa masih ada anak-anak di bawah umur yang sudah bekerja keras untuk hidup. Pendidikan mereka telah di rampas, masa bermain mereka juga tidak dapat mereka nikmati. Sejak subuh subuh hingga malam, mereka masih mencari botol bekas, gelas bekas, plastik, dan barang-barang bekas lainnya. Mereka hanya berdua, memanggul karung dengan ukurannya tidak setara dengan tubuh mungilnya.

?Bayu, kamu mau belajar sama aku nggak?? setiap sore, nanti kita belajar disini yuk, Septi juga ya?

?Mau kak, mauuuu?. Yyeeeeaaaa? Hoooreeee? ?

Mereka melompat kegirangan, tidak peduli orang yang melintas menengok kearah mereka semua. Aku pun terharu melihat keceriaan mereka. Nantinya, setiap sore ketika aku pulang kerja? aku akan mengajak mereka membaca, mengajari mereka menulis dengan ilmu seadanya yang aku miliki.

?Kakek membeli ayam di pasar sedangkan nenek membeli benang di tukang jahit. Bener kan kak??

?Bagus, kamu semakin pintar ya Bayu??

?Kakak, gambar aku bagus nggak??

?Wahhh? bagus banget, siapa ini yang kamu gambar sep??

?Ini Kak Bayu, Kak Sabrina terus yang ini Septi, bagus kan kak??

?Subhanallah, bagus sekali Septi, Terimakasih ya sudah menggambar untuk kakak.?

Aku memeluk mereka dengan erat. Tidak terasa, kegiatan ku setiap sore dengan mereka sudah berjalan selama sebulan. Mereka semakin pintar dan semangat. Bayu sudah lancar menulis dan membaca, septi juga pandai menggambar. Anak-anak ini semakin pintar. Aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Membuat orang bahagia itu sungguh sangat luar biasa rasanya. Hingga suatu hari, takdir mengubah semuanya. Sudah beberapa hari ini, mereka tidak pernah menunggu ku di tempat ini. Aku sangat khawatir, aku takut terjadi hal buruk menimpa mereka. Aku mencari rumahnya kesana kemari namun belum juga aku temui. Tuhan, Mudahkanlah aku menemukan mereka.

?Permisi pak, pernah lihat anak kecil satu cewek namanya Septi, yang cowok namanya Bayu??

Aku memperlihatkan wajah mereka yang sempat aku foto saat kami sedang belajar bersama.

?Maaf ya neng, saya nggak pernah liat!?

?Saya nggak tahu.?

?Nggak pernah lihat?

Setiap orang yang lewat di depan kedai ini aku Tanya, tapi tak ada satupun yang tahu. Aku semakin khawatir, semoga mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja. Sampai akhirnya, ada anak kecil yang menghampiriku. Anak itu mengajak aku ke suatu tempat tanpa memberitahu ku. Aku memasuki jalan setapak yang sempit dan kumuh. Semakin jauh dari jalan raya.

?Berhenti!!! Kamu mau ajak aku kemana? Kamu temannya Bayu atau Septi? Mereka kemana??

?Aku mau ajak kakak ke rumahnya Bayu, nanti kakak akan tahu yang sebenarnya. Sebentar lagi sampai kok kak. Ohh iya, namaku dimas.?

?Oke, baiklah! Nama ku Sabrina, panggil aja Kak Sabrina.?

Hingga akhirnya aku berdiri di depan gubuk yang sangat kumuh, lebih mirip seperti kandang kambing. Apa benar Bayu dan septi tinggal di tempat seperti ini? Ini sangat tidak layak untuk di tempati. Gubuk yang hampir rubuh, kotor dan bau sampah yang cukup menyengat. Astaga!

?Bayuu? aada yang nyariin lu nih! Bayyy?.?

Terlihat tubuh mungil yang sangat kurus, keluar dari gubuk itu. Sangat tidak terawat. Apa yang terjadi sebenarnya? Berbagai pertanyaan ingin meledak-ledak dari otak ku.

?Bayu?? Inii benar Bayu? Kamu kemana aja Bay? Kakak kangaeeeeen banget, Septi mana bay??

Bayu hanya bisa terdiam sesaat dan memeluk ku erat, menangis? sekencang-kencangnya. Aku masih belum mengerti ada apa sebenarnya. Kenapa Bayu bisa menangis seperti ini. Aku tak kuasa menahan air mata ku. Aku sedih melihat anak didik ku menangis seperti ini. Aku merayu Bayu untuk bercerita, tapi Bayu tidak dapat berhenti menangis. Aku mengengok kea rah Dimas yang usianya lebih besar dari Bayu.

?Ada apa sebenarnya? Kamu kenapa nangis Bay? Septi mana Bay???

?Begini kak sebenarnya, pas hari terakhir kakak melihat bayu dan septi. Mereka berdua berniat mencari barang-barang bekas lagi. Saat itu, Septi berjalan di depan Bayu saat menyebrang. Septi sangat bahagia, dia nggak berhenti menyanyi riang di tiap langkahnya. Ketika mereka ingin menyebrang jalan, tiba-tiba ada mobil yang melaju sangat kencang dan menabrak mereka. Septi terpental jauh, sedangkan Bayu berhasil selamat. Septi sempat dibawa ke Rumah Sakit, namun semua Rumah Sakit menolak mereka dengan berbagai alasan. Hingga nyawa Septi tidak dapat diselamatkan lagi. Bayu terus menerus berteriak, menjerit, menangis, memeluk tubuh Septi yang berlumuran darah. Akhirnya Bayu dan jasad Septi di bawa pulang oleh ayah ku yang pada saat kejadian, ayah ku sedang berdagang di sekitar situ kak. Entah kenapa di saat bersamaan juga, saat kami sampai rumah banyak tetangga yang berkerumun di depan rumahnya Bayu. Ternyata saat itu para tetangga sedang memandikan jenasah ibu Bayu. Jadi di saat yang bersamaan ibu Bayu juga meninggal kak. Makanya selama ini Bayu nggak pernah mulung lagi, setiap hari dia menangis, nggak mau makan, Bayu juga nggak mau meninggalkan rumahnya, dia nggak mau tinggal di rumah ku juga kak. Badanya jadi kurus seperti ini kak, aku baru tau kalau kakak gurunya Bayu pas lihat muka kakak ada di depan buku tulisnya Bayu dan ada di gambar yang Septi buat.?

Lutut ku lemas, aku seperti terkena tamparan keras. Sangat sakit rasanya. Anak sekecil ini mendapat cobaan yang begitu besar. Aku setengah tidak percaya, kejadian tragis ini menimpa anak didik ku yang pintar, penuh semangat dan ceria. Tuhan, aku harus marah kepada siapa? Tentu ini adalah Kuasa Mu, tapi kenapa pemerintah masih mempersulit orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan darurat seperti Septi saat sedang kritis dan Bayu yang tidak mampu mengobati sakit ibunya Karena tidak punya biaya. Dimanakah perlindungan untuk anak-anak dan fakir miskin yang katanya sudah ada di dalam kitab undang-undang dasar . Apakah itu hanya sekedar coretan tinta namun tidak di Realisasikan.? Bagaimana hak pendidikan untuk anak secerdas Bayu. Jangan sampai aku membenarkan fatwa yang beredar di masyarakat bahwa orang miskin tidak boleh sakit dan tidak boleh pintar. Dalam artian jika mereka sakit, mereka harus membayar mahal dan tentunya orang miskin tidak akan mampu membayarnya. Mereka juga tidak boleh pintar, karena untuk menempuh pendidikan mereka harus membayar mahal juga. Kepada siapakah aku harus marah? Dimanakah keadilan ini Tuhan? Padahal nasib bangsa ini ada di tangan mereka. Pemerintah seolah menutup rapat mata mereka, menutup telinga dan menutup hati rapat-rapat. Aku berharap ada keajaiban di suatu hari nanti. Karena aku yakin dari tangan mungil Bayu tersimpan emas yang dapat merubah negeri ini.

?

?

?

?

?

?

  • view 133