INSTAGRAM

Desi T. Wulandari
Karya Desi T. Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Mei 2017
INSTAGRAM

Banyak yang berubah tanpa sadar, dan banyak pula yang menyadari kalau nilai-nilai yang dipegang telah berubah karena ketidakmampuan mengendealikan diri di dunia maya ini. Dan kita semakin bisa menyaksikan hidup orang lain, tapi tidak mampu melihat hidup kita dan dalam hati kita sendiri”

Potongan caption Mas @kurniawangunadi cukup mewakili tentang apa yang menjadi kegelisahan hati saya. Coba dalam sehari saja kita tidak pakai instagram, tidak membukanya sama sekali. Atau mencoba untuk menonaktifkan sementara. Bagi saya pribadi, instagram telah menyita banyak waktu, saya merasa kecanduan. Sedikit- sedikit buka, bangun tidur  yang dicek pertama kali adalah instagram, bukan malah ngecek hati.

Meskipun dari instagram saya mendapatkan banyak informasi penting juga tulisan-tulisan yang inspiratif, tapi tetap saja instagram membawa mudharat bagi saya pribadi. Waktu saya banyak terbuang sia-sia, melihat postingan terbaru dari teman-teman saya, atau ngecek story yang mereka buat kadang membuat hati saya “DEG”.  Melihat kehidupan maya yang mereka posting, yang jatuhnya malah  saya membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan saya pribadi. Menimbulkan rasa iri  sehingga bisa mengurangi rasa bersyukur, astagfirullah.

Saya sering kepo yang gak penting dengan hal-hal yang sedang trend, stalking akun-akun yang menurut saya akan  membawa dampak postif . Yang awalnya saya ingin mencari inspirasi, namun lagi-lagi timbul rasa iri. Jelas  hal ini  sangat tidak baik, yang bisa mengotori hati saya. Walaupun kita tidak tahu apa yang mereka bagikan di dunia maya, benar-benar mencerminkan kehidupan sesungguhnya di dunia nyata.

Saya khawatir, dengan sesuatu yang akan saya posting. Yang awalnya berniat untuk membagi semangat dan inspirasi malah berbelok menjadi ingin dilihat, ingin dipuji atau bahkan ingin menunjukkan eksistensi diri. Ini yang saya sangat takuti.

Di momentum ramadhan ini saya kembali menata ulang niat, membuang jauh-jauh penyakit hati sebelum memposting sesuatu. Benarkah apa yang akan saya posting membawa dampak postif? Atau malah akan berdampak sebaliknya?

Saya akan berkali-kali memikirkan ulang setiap foto atau caption yang akan saya bagikan, dengan cari inilah  saya bisa meyelamatkan hati saya dari berbgai macam penyakit hati. Maklum hati saya masih labil.

Intinya mah instagram membuat saya boros:  boros waktu, boros kuota dan boros perasaan. Sekali lagi,ini bagi saya pribadi. Semoga kita bisa lebih bijak dalam menggunakan sosmed.

Trenggalek, 28 Mei 2017| 2 Ramadhan 1438 H

  • view 58