Laki-laki Seperti Bapak

Desi T. Wulandari
Karya Desi T. Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Desember 2016
Laki-laki Seperti Bapak

Maafkan saya Pak, satu bulan tidak berkunjung, pusara Bapak sudah dipenuhi rumput dan ilalang. 

Terakhir aku berkunjung pusara bapak sudah kubersihkan, ternyata sudah ditumbuhi lagi.

Diantara anak-anakmu, akulah yang paling rajin mengunjungimu. Entah kenapa ketika Mas aku ajak, dia enggan. Katanya, “kirim doa saja”.

Namun bagiku, doa saja tidak cukup. Pusaramu harus kurawat dan kuperhatikan juga. Sebagai bentuk baktiku kepadmu.  

Setiap aku pulang kerumah,  ibu sudah menyiapkan bunga. Ibu sudah hafal kebiasaanku,  menengok ke pusaramu untuk menyekar bunga dan mengirim doa. 

Disana aku juga bercerita, tentang keluhku, tentang perasaanku. Dan tentang mimpiku yang belum sempat kau ridhoi. Aku seperti orang tidak ‘waras’, berbicara dengan 'patok’ kuburan.  Ah,  kurasa itu wajar. Seperti adegan disinetron jika kehilangan orang yang disayang. 

Aku yakin, Bapak mendengar ceritaku di dalam sana. Bapak juga pasti tersenyum,ketika anak gadisnya beranjak dewasa. Yang sudah memasuki usia kepala dua,  itu artinya sudah mulai memikirkan calon pendamping hidup. 

"Calon pendamping hidup? " aku menghela nafas. 

Aku sering berandai-andai Pak, mungkin jika Bapak masih hidup. Aku akan menanyakan beberapa hal, tentang calon pendamping hidupku nanti. 

“Adakah laki-laki baik seperti bapak, yang nanti akan menjaga dan melindungiku. Seperti yang Bapak lakukan terhadapku?"

"Adakah laki-laki baik yang tidak hanya mencintaiku,tapi juga mencintai ibu?”

“Adakah laki-laki baik yang akan bertanggung jawab tidak hanya duniaku,tapi juga akhiratku?”

Itu adalah pertayaan retorik yang tidak bisa kudapatkan jawabannya. Bapak,kita sudah di alam yang berbeda.

Kata Ibu, dulu Bapak laki-laki yang berani. Beliau bercerita, ketika Bapak mendekati Ibu, Bapak sering menjemput ibu disekolah TPQ setiap sore. Tapi ibu berkali-kali bersikap cuek,tidak peduli. Bapak tidak menyerah untuk mendapatkan cinta Ibu, tidak mendapatkan cintanya, bapak beralih mencari cinta orangtua ibu,adalah kakek dan nenekku. Intinya, bapak mendekati calon mertua dulu, baru hati Ibu luluh. 

Singkat cerita, dulu tidak pacaran, Bapak langsung datang ke rumah , meminta ibu dari walinya untuk menikahi.

Semoga nanti aku bertemu dengan laki-laki yang baik seperti bapak, yang lebih bijaksana dari bapak. Karna aku membutuhkan kebijaksanaanya untuk memintanya tidak meninggalkan ibu sendirian . Yang nanti akan menggantikan peran bapak untuk melindungiku dan juga ibu.

Apakah laki-laki itu kamu, yang membaca tulisanku ini? Kalau pun ia, segera datang kerumah ya. :)

  • view 280