Lagu Jali-jali, Terkenal di Negeri Orang, Asing di Negeri Sendiri

Desi Lastati
Karya Desi Lastati Kategori Budaya
dipublikasikan 09 November 2017
Lagu Jali-jali, Terkenal di Negeri Orang, Asing di Negeri Sendiri

 
Indonesia itu kaya, sampai kekayaannya hilang tanpa sadar. Kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia dan budayanya. Sayangnya kekayaan itu selalu tidak sebanding dengan pemeliharaannya. Baru koar-koar seperti kebakaran jenggot, mengaku hak milik jika sudah jatuh ke tangan orang.
 
Seperti pagi-pagi biasanya, saya mengantar anak Ibu ke tempat kerja di Bangsar. Di antara kemacetan lalu lintas yang padat, saya menyalakan radio. Suara merdu lagu Jali-jali langsung terdengar. Lagu khas suku Betawi, Jakarta itu mengalun indah di Negeri orang. Di antara beberapa stasiun radio yang ada di Malaysia, Stasiun Nasional FM dan BFM radio menjadi favorit saya. Lewat Nasional FM, saya bisa mendengar lagu-lagu lawas Indonesia seperti Doel Sumbang, Jamal Mirdad bahkan lagu-lagu Dewa 19 yang pernah hits pada saat itu. Lewat BFM radio, saya bisa mendengar diskusi menarik berbahasa Inggris mengenai isu-isu terkini dengan gaya bahasa yang renyah. 
 
Jika kita bertanya ke anak muda jaman sekarang, mungkin sebagian dari mereka tidak mengenali suara dan lirik indah karya musisi tahun 80'-90'an. Iyalah, jika habis mbrojol saja sudah dijejali dengan lagu-lagu Jaran Goyang lengkap dengan tariannya. 
 
Meski tidak dipungkiri, semboyan 'Dangdut is the music of my country', lagu-lagu dangdut Koplo dan dangdut Pantura jauh lebih enak di dengar bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya laki-laki. Di kampung halaman, dari rumah ke rumah, suara musik yang sering terdengar adalah gubahan lagu-lagu dangdut yang diubah musiknya menjadi lagu koplo. 
 
Isu klaim budaya masih menjadi isu panas antara Indonesia dan Malaysia. Kegiatan saling mengejek dan menghina itu masih tumbuh subur di sosial media. Beberapa budaya yang berasal dari Indonesia dilestarikan di Malaysia. Kuda Lumping, Reog Ponorogo, Musik Gamelan, lagu Rasa Sayange bahkan sampai ke kain khas Batik.
Mau bagaimana lagi, budaya-budaya itu di bawa masuk ke Malaysia seiring dengan masyarakat Indonesia yang melakukan migrasi pada era Orde Baru.  Yang melestarikan budaya-budaya itu juga imigran Indonesia yang sudah berpindah kewarganegaraan Malaysia. 
 
Menurut saya, usahlah menghina, saling menghujat yang akan memperburuk citra masyarakat Indonesia. Sebagai generasi muda yang mencintai bangsanya, mari kita turut andil melestarikan kekayaan budaya Indonesia. Mendorong pemerintah agar mematenkan aneka budaya Indonesia ke Badan Internasional. Lagu Jaran Goyang biarlah terus terdengar, namun jangan lupa, kita memiliki warisan budaya lain yang harus tetap dilestarikan.

  • view 35