Mati di Remang Hari

Depta Pratama
Karya Depta Pratama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
Mati di Remang Hari

Suara melengking di atas langit itu kembali terdengar. Merambat melalui semburat warna jingga langit yang memenuhi angkasa. Terkadang warna jingganya berubah menjadi merah darah, terasa mengerikan melihatnya. Anak-anak kecilpun tak diperbolehkan keluar rumah oleh orangtuanya. Datangnya suara yang melengking itu membuat banyak reaksi yang terjadi pada setiap manusia di kota itu. Sebagian orang merasa berseri, tersenyum simpul, sementara banyak orang merasa kosong jiwa dan hatinya. Melenguh, melengkuh diantara aktivitas keseharian yang melelahkan. Ada yang menangis tersedu, ada yang marah-marah tak jelas menendang-nendang pintu, ada yang tergagap gemetar merasa nyawanya hilang sesaat karena bangun tidur ketika hari mulai gelap dan  lagi jiwa kosong itu tersebar diantara sudut-sudut kota yang semakin usang. Kecoa-kecoa kecil mulai muncul dari tong sampah, got-got kota yang baunya minta ampun, dan toilet kumuh di rumah-rumah penduduk kota. Kecoa itu kini merayap diantara tubuh-tubuh manusia, mencoba masuk ke dalam otak-otak setiap manusia. Suara memanggil yang sebentar lagi memudar ditelan gelap adalah pertanda apakah setiap otak manusia di kota itu bisa dirayapi oleh kecoa. Kecoa-kecoa kecil yang mencari makan sampah dari otak-otak busuk manusia.
Manusia mulai kehilangan jiwanya saat-saat itu, kecuali mereka yang berjalan diantara remang-remang hari. Tampaklah manusia yang mengenakan penutup kepala, tujuannya tentu saja bukan untuk menghindari para kecoa pemakan otak-otak busuk tapi secara tidak langsung mereka terjaga dari kecoa pemangsa. Memang langkah yang berat untuk sekedar melangkah ketika dunia mulai gelap. Tapi apakah kegelapan itu terus saja dibiarkan untuk mengungkung manusia, sehingga mereka buta. Masih banyak manusia-manusia pandai di kota ini sehingga ketika matahari mulai hilang mereka pun mencari cahaya. Cahaya diatas kubah yang setiap waktu benderang, menerangi peradaban disekitarnya
Jiwa yang kosong itu kini semakin bingung, melangkah linglung tak tahu arah. Warna merah darah dari sang mentari menyilaukan mata. Tak ada langkah kaki ke arah kubah tetapi mereka menjauh. Aku terkadang melihat manusia-manusia seperti itu tangannya dituntun oleh bayangan hitam yang melayang-layang. Melayang diantara depan dan belakang-nya. Banyak manusia yang terbuai dan akhirnya mati di remang-remang hari.
Sore sebelum suara itu terdengar lagi, seperti biasanya seorang laki-laki berjalan pulang dari pekerjaannya yang melelahkan. Setiap hari dia harus melewati perjalanan jauh untuk pulang pergi ke kantornya. Melewati jalan-jalan padat kota dan asap-asap kendaraan yang semakin membuatnya jenuh dengan kota ini. Seorang laki-laki yang tinggal sendiri disebuah apartemen berlantai 20, sudah lama istrinya pergi meninggalkannya. Wanita itu minggat, dibawa laki-laki lain yang lebih kaya dari dia. Akibatnya dia melewati hari setelah kepergian istrinya dengan bermuram durja, tak ada semangat hidup dalam dirinya saat itu.
Supardi nama lelaki itu. usianya sekarang sudah menginjak kepala 4 namun hidupnya masih saja tak bahagia. Keluarganya sudah meninggal semua, anakpun tak punya. Walaupun pekerjaanya sebagai pegawai bank yang gajinya cukup untuk membeli pelacur dirumah-rumah bordil dikota itu tapi dia tak melakukakannya. Entah apa yang ada dipikirannya, wanita tak lagi menarik lagi baginya, sudah cukup istrinya lena telah menyayat-nyayat hatinya. Wanita yang amat dicintainya itu telah menjadi yang pertama dan yang terakhir kalinya. Baginya wanita itu amat dicintainya tapi dengan kepergiannya membuatnya seperti sudah tak berharga lagi.
Supardi, lelaki itu, sungguh kasihan... Tak tahu arah, jalan menuju masjid yang terdengar tadi tak dihiraukannya, dia berjalan terus menuju arah jembatan sungai yang beraliran deras. Sungguh tak tahu arah, ada yang memanggilnya sejak senja tadi tapi itu hanya sia-sia. Saat manusia-manusia yang berkumpul itu hendak mengangkat tangan setinggi bahu aliran sungai di samping masjid itu berhenti sejenak, terkoyak oleh tubuh manusia. Suara jatuh pun samar tak terdengar. Akhirnya diapun mati di remang-remang hari.~

  • view 32