Polemik 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Buku
dipublikasikan 19 Maret 2016
Polemik 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh

Polemik Buku 33 Tokoh Sastra

Denny JA

Polemik yang terjadi di sebuah komunitas setidaknya menjadi penanda. Bahwa di komunitas itu masih hidup passion, gairah, kebebasan, militansi untuk pro dan kontra.

Itulah yang terbaca dalam dokumentasi polemik atas terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Ini mungkin polemik pertama dunia sastra Indonesia di era social media. Aneka gagasan bertarung juga di twitter, facebook dan aneka web online.

Awalnya adalah sebuah buku riset setebal lebih dari 700 halaman yang disusun oleh Team 8. Mereka antara lain Jamal D Rahman, Agus Sarjono, Bertold Damhauser, Maman S Mahayana (yg kemudian mengundurkan diri). Buku ini diterbitkan Gramedia untuk PDS HB Jassin.

Buku ini memilih 33 tokoh sastra yang dianggap meletakkan warna dan tradisi bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Siapa yang terpilih dan tidak, apa kriterianya, mengapa ia terpilih, itulah yang menjadi ujung pangkal polemik.

Buku ini membuahkan respon yang sangat jarang dialami buku biasa: ia didemo di aneka kota, dibakar, diajukan petisi untuk dibredel (sementara), didiskusikan di kampus, dibuatkan art happening, diberitakan media konvensional dan online.

Mungkin dalam sejarah Indonesia merdeka, hanya beberapa buku saja yang pernah melahirkan respon sedemikian heboh.

Bagi yang terbiasa membaca aneka rangking tentang apapun akan heran dengan kehebohan ini? Mengapa begitu antusias dan marahnya atas rangking yang dibuat pihak swasta?

Coba ketik saja di Google Search mengenai Top 10 Greatest tentang apapun. Seketika kita mendapatkan aneka pilihan yang berbeda dan nama yang berbeda tentang apa saja: film terbaik, pemain bola terbaik, buku terbaik, tokoh paling berpengaruh, restoran terbaik.

Toh di dunia bebas, demokrasi menjamin kebebasan warga negara membuat penilaian sejauh menggunakan dananya sendiri. Toh tak ada paksaan pilihan ini harus dipercaya. Pihak yang tak setuju bisa membuat rangking yang berbeda.

Saya memilih Pele sebagai pemain bola terbaik sepanjang sejarah. Sahabat saya memilih Maradona. Sahabat yang satunya sangat yakin Lionel Messi sudah melampaui keduanya.

Ini opini yang wajar saja. Kita yang berbeda bisa tetap ngopi bareng dan tak meminta pemerintah untuk melarang siapapun yang punya pandangan berbeda.

Namun polemik itu cukup baik didokumentasikan untuk pembelajaran. Semua bahan sudah tersedia di perpustakaan online. Sebagian ditulis ulang dalam gaya reportase. Dan buku ini bisa dibaca gratis, semata untuk rekaman sebuah era.

Kita apresiasi team yang mengumpulkan bahan ini, di bawah komando Satrio Arismunandar.

Saya sendiri termasuk yang dipilih dalam buku 33 Tokoh Sastra Berpengaruh itu. Membaca kembali polemik itu, yang dimulai di Januari 2014, dua tahun lalu, kadang senyum, kadang ketawa, kadang mengerutkan dahi. Saya membacanya dengan perasaan yang oleh teman disebut "ngeri-ngeri sedap!."????

Ini link ke buku Polemik 33 Tokoh Sastra

?

?

http://dennyja-world.com/buku/view/14582174488891

?