Suara Anaknya yang Mati Dibunuh Terus Memanggil

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Januari 2016
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

61.7 K Wilayah Umum
Suara Anaknya yang Mati Dibunuh Terus Memanggil

Suara Anaknya yang Mati Dibunuh Terus Memanggil

Dari pandangan umum, ia tinggal menghitung jam dan mati. Badannya sudah terkoyak dicakar beruang. Ia berada di hutan ketika badai salju ganas. Ia diawasi oleh sesama pemburu yang mengharapkannya mati. Namun suara anaknya yang dibunuh terus datang membuatnya bertahan hidup.

Lama saya tercekam menonton film Leonardo D'caprio: the Revenant. Film ini baru saja diumumkan menang 12 nominasi oscar, setelah sebelumnya menang di Golden Globe award. Belum main di bioskop Indonesia, saya menontonnya melalui "jalur khusus."

Diangkat dari novel, yang diinspirasi True Story hampir 200 tahun lalu, drama ini sering membuat kita menarik nafas panjang.

Leonardo berperan sebagai Huge Grass, seorang pemburu kulit hewan yang sangat berpengalaman. Keahliannya dibutuhkan grup dibawah kendali kapten Henry.

Kecelakaan terjadi. Grass diserang beruang besar. Mereka bertarung hidup dan mati. Walau berhasil membunuh beruang, Grass nyaris dijemput maut. Ia luka parah, tak bisa bicara, hanya terbaring. Sementara selaku kelompok pemburu, mereka juga terancam karena diburu suku Indian yang ingin membalas dendam.

Kondisi Grass membuatnya menjadi beban bagi grup. Naik turun gunung menjadi sulit dengan membawa dirinya ditandu.

Dramapun dimulai. Fitzgerald yg dimainkan dengan apik oleh Tom Hardy mengusulkan Grass sebaiknya dibunuh saja untuk menyelamatkan seluruh grup. Jika tidak, semua akan mati terbunuh oleh suku Indian, yang sudah menyerang di awal.

Kapten Hery awalnya menyetujui. Ia sendiri yang sudah mengarahkan pistol untuk menembak mati. Namun ia tak tega. Apalagi jeritan anaknya Grass yang ikut dalam grup menyentuhnya.

Solusinya dibuat. Grass ditinggal saja hingga ajal. Karena jasanya, Grass berhak mendapatkan penguburan yang layak jika kelak mati. Tak ada yang memperkirakan Grass bisa hidup lebih lama karena begitu luka parah.

Kapten Henry menugaskan Fritzgerald dan anak muda menjaga Grass yang selalu ditemani anaknya. Sebagai imbalan untuk menemani Grass menjemput ajal dengan terhormat, kapten berkomitmen memberikan mereka bonus upah ekstra.

Beberapa kali Fritzgeral ingin mempercepat kematian Grass. Namun ia selalu terhalang oleh perlawanan anaknya Grass. Pada momen tak terduga, akhirnya Fritzgerald membunuh anaknya Grass. Dengan luka parah dan tak berdaya, Grass hanya bisa menyaksikan sang anak mati dibunuh.

Grass mencoba berteriak sekencang-kencangnya, mencegah agar jangan membunuh anaknya. Namun badannya terkapar dan suaranya tak bisa keluar. Ia hanya menangis dengan luka batin menganga.

Bahkan tubuh Grass sudah pula dicemplungkan Fritzgerald ke liang kubur yang dangkal. Fritz dan anak muda itu lalu pulang dan bersengkongkol menceritakan bahwa Grass sudah mati, dan anaknya menghilang.

Inilah awal dari pesan utama film. Suara anaknya yang mati dibunuh, membuat Grass harus hidup. Iapun berjuang menyembuhkan diri, menghindari suku Indian yang juga memburu kelompoknya. Dalam kesunyian yang mencekam dan dingin badai salju, beberapa kali bayangan anaknya datang, membuatnya ingin terus hidup.

Ia harus melewati begitu banyak rintangan alam, termasuk badai salju untuk bisa kembali, membuat perhitungan akhir dengan Fritzgerald.

Film ini bercerita tentang bangkitnya kekuatan ekstra setelah pengalaman ekstrim. Dengan alur yang masuk akal, Grass terus bertahan dan bisa kembali pulang, menuntaskan kematian anaknya.

Selesai menonton, saya termenung. Betapa hebatnya daya survival individu karena kisah ini adalah true story. Seorang individu yang luka batin mendalam bisa menjelma menjadi begitu tangguh. Lama saya terdiam. ***

?


  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Kalau ini hanya film, mungkin saya suka ceritanya. Tetapi bila true story, saya tak terinspirasi, karena Grass bertahan hidup dengan niat untuk membalas dendam kematian anaknya. Ini pendapat saya pribadi. Salam.

  • jayadi malik
    jayadi malik
    1 tahun yang lalu.
    Saya sudah nonton filmnya. Bagus dan menyentuh.

  • Ajo Gaara
    Ajo Gaara
    1 tahun yang lalu.
    waahhh, perlu nonton keknya nih ane... mantap review Pak e Peace Be Upon You

  • susan diana
    susan diana
    1 tahun yang lalu.
    Film nya membosankan pada bagian permulaan, tapi akhir sungguh bagus. Gara-gara review ini gw jadi ngubek-ngubek internet

  • Mulyadi Amari
    Mulyadi Amari
    1 tahun yang lalu.
    Makasih, perenungan dan review yang menginspirasi. Sangat bagus.