Menegakkan Keadilan 150 Tahun Lalu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 24 Januari 2016
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

60.8 K Wilayah Umum
Menegakkan Keadilan 150 Tahun Lalu

?

Menegakkan Keadilan 150 Tahun Lalu


Apa yang bisa dilakukan jika 8 orang asing bertemu dan harus bermalam di sebuah kedai kopi akibat badai salju? Mereka tak saling kenal, namun saling mencurigai. Mereka tak bisa saling mengecek apakah yang bermalam di sana sesuai dengan klaim masing-masing. Dan satu persatu diantara mereka lalu mati?

Hampir 3 jam saya terpana di layar bioskop, menonton film terbaru Quantin Tarantino: Hateful Eight. Dibintangi antara lain oleh Samuel L Jackson dan Kurt Russel, film ini menggabungkan misteri kisah detektif dengan latar belakang perang sipil Amerika era Abraham Lincoln.

Saat itu belum ada telephone apalagi internet. Kendaraan umum hanya kereta kuda. Komunikasi jarak jauh membutuhkan waktu lama. Delapan orang yang saling tak kenal, saling kwatir pula siapa akan membunuh siapa?

Di antara mereka ada yang mengaku pemburu kriminal beserta wanita buruannya. Ada yang mengaku calon sherif yang segera diangkat. Ada yang mengaku algojo yang akan menggantung kriminal. Ada jenderal kulit putih yang sangat anti kulit hitam. Dan ada petinggi kulit hitam yang mengklaim kenal dengan Abraham Lincoln, dan dendam pada jenderal kulit putih itu.

Banyak yang membawa pistol diantara 8 orang asing yang terkesan saling membenci.
Ketegangan memuncak ketika dua orang mati muntah darah akibat keracunan minuman. Diantara mereka, siapa yang sudah memasukkan racun di tempat kopi untuk diminum bersama?

Demikianlah film bertutur mengalir, dengan flashback, membuka tabir satu persatu dari yang hadir di sana. Dalam suasana yang serba tak pasti, harus ada yang mengambil leadership. Keadilan harus tetap ditegakkan.

Samuel Jackson berperan sebagi Warren, kulit hitam yang menentang perbudakan, dan kini mencari nafkah dengan memburu kriminal dengan bayaran. Ia pernah membakar pos yang menyebab lebih dari 30 tentara kulit putih mati terpanggang agar ia bisa selamat.

Kini sekali lagi ia harus bermanuver di kedai kopi itu.

Film ini memberikan kita begitu banyak surpising, dan mengakhirinya dengan pesan keadilan walau harus ditegakkan dengan begitu berdarah-darah.***

  • view 476

  • Monica Anggi JR
    Monica Anggi JR
    1 tahun yang lalu.
    Bukan hanya keadilan tapi juga pesan terakhir mengenai "keharusan kulit putin dan kulit hitam" untuk bersatu dan membangun Amerika. Pesan spirit anti diskriminasi