Janji Seorang Tentara Yang Menjadi Drama

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 02 Agustus 2018
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

72 K Wilayah Umum
Janji Seorang Tentara Yang Menjadi Drama

Janji Seorang Tentara Yang Menjadi Drama

 

(Review Film: Alya, The Daughter of War, 2017)

 

Denny JA

 

“Jangan tinggalkan aku, bapak,” menangis bocah korea usia lima tahun. Ia peluk lelaki itu. Seolah ia gantungkam seluruh hidupnya di sana. Sang bapak adalah tentara Turki yang dikirim dalam perang Korea di tahun 50-an.

 

Tentara itu menetes air mata. Pelan dan dalam ia berkata. Ditatapnya mata gadis bocah itu. “Kau sudah kuanggap anakku sendiri. Segala cara aku sudah coba membawamu ikut ke Turki. Tapi peraturan melarangku.

 

Bocah Korea itu terus menangis dalam sekali. “Bapak tinggal di sini saja.” Tentara Turki yang dianggap bapak oleh bocah Korea itu terguncang batinnya. Teman temannya, tentara lain, menyaksikan dan menunggu. Kapal segera berangkat.

 

Sang tentara pun berjanji. “Dengar Alya. Ini janjiku. Ketika sudah memungkinkan. Aku akan datang lagi menjemputmu.” Air mata menetes di pipi Ayla. Air mata menetes di pipi sulayman, sang tentara.

 

Lama saya terdiam merenungkan adegan ini. Sebuah drama True Story, yang diangkat dari kisah nyata, difilmkan dengan sangat menyentuh: Alya, the Daughter of War. 

 

Begitu kuat ikatan batin sang tentara dan anak yang ditemukannya di medan perang. Begitu kuatnya janji yang terus bergema puluhan tahun.

 

-000-

 

Kisah dimulai dengan Perang Korea. Di bawah PBB, tanggal 17 September 1950, Turki mengirimkan sebanyak 5090 tentara menjaga perdamaian. Satu dari tentara itu bernama Sulayman, usia 25 tahun.

 

Berat sekali awalnya bagi Sulaiman meninggalkan Turki. Seorang kekasih di Ankara sangat dicintainya berpesan. Ingin ia secepatnya pulang. Hati tengah kasmaran. Hari hari mereka lalui penuh kasih.

 

Namun di Korea segala hal berubah. Perang sangat brutal. Membunuh atau dibunuh. Beberapa kali ia melewati desa yang ratusan penduduknya dibantai.

 

Suatu ketika menjelang malam, Sulayman dan regu melewati hutan. Didengarnya bunyi di semak. Tegang menyeliputi. Biasanya puluhan musuh muncul seketika. Tembak menembak terjadi. 

 

Pelan ia mendatangi arah suara. Terkejut Sulayman. Ratusan mayat berjejer. Dan asal suara itu: Astaga. Seorang bocah gadis menangis memegang tangan Ibunya yang mati, diantara mayat lain.

 

Pelan Sulayman meyakinkan bocah untuk tidak takut. Namun ada kendala bahasa. Mereka saling tak memahami. Entah mengapa. Ketika sang bocah menatap mata tentara itu, ia pun pasrah digendong.

 

Para tentara lain bertanya. Akan kau apakan anak Korea ini? Tak mungkin aku tinggalkan anak ini di sini. Kita bawa ke markas, ujar Sulayman.

 

Situasi tak terduga. Di tengah suasana perang yang buas, bocah ini menjadi tumpahan kasih sayang para tentara di barak. Sulayman menamakannya Ayla. Dalam bahasa Turki, artinya Bulan, seperti wajah bocah yang bulat putih.

 

Bergantian para tentara itu mengendongnya. Ada yang mencarikan susu untuk bocah. Ketika mereka apel siaga setiap hari, sang bocah duduk menonton.

 

Hati Sulayman memang penuh kasih. Tak jarang, ia menyelimuti Alya ketika tidur. Ia peluk. Ia suapi. Hingga suatu ketika, Alya menyebutnya satu kata dalam bahasa Korea. Sulayman tak mengerti, apa arti kata itu. Ternyata itu sebutan untuk bapak, untuk seorang Ayah. 

 

Alya menganggap Sulyaman seperti Ayah. Tentara lain ia anggap sebagai paman. Awalnya Sulayman kikuk. Namun akhirnya ia jatuh hati. Alya ia benar benar anggap sebagai anaknya sendiri.

 

-000-

 

Tibalah masa Sulayman harus kembali ke Turki. Pergantian jadwal tentara diberlakukan. Itu waktu Sulayman pulang. Apalagi sang kekasih menunggu. Pernikahan disiapkan.

 

Entah mengapa. Ikatan Sulayman dengan Ayla begitu kuat. Ia selalu menunda untuk pulang. Ia mencari cara untuk tetap di Korea, menemani Alya yang tak punya siapapun.

 

Setelah berkali kali menunda kepulangan, atasan Sulayman menegurnya keras sekali. Tak ada diskusi. Ini perintah. Kau harus pulang.

 

Tak ada lagi alasan Sulayman untuk di Korea. Atasan menyatakan keheranannya. Tentara lain suka cita ingin pulang. Mengapa Sulayman ingin menetap.

 

Sulaymanpun bercerita. Berat baginya meninggalkan Alya sendiri di Korea, tanpa siapapun. Tapi kata atasan, peraturan sangat keras. Sulayman sebagi tentara dilarang membawa pulang anak orang lain, walau orang tuanya sudah tiada.

 

Atasan dan teman mencari solusi. Alya dicarikan panti asuhan, sekaligus agar Alya memulai sekolah. Berhari hari Sulayman mengintip Alya diam diam di panti asuhan itu.

 

Sulaymanpun pamit pada Alya. Ia harus pulang. Sambil menitipkan pesan agar ia rajin belajar. Namun Alya menangis dalam sekali. Ia peluk Sulayman, tak mau lepas.

 

Sulaymanpun mencari cara membawa Alya ke Turki. Berdua mereka sepakat mrmbuat rencana. 

 

Rencana ini hampir saja sukses. Namun sebelum masuk kapal, ibu panti asuhan datang melaporkan. Alya hilang. Para tentara kaget. Seketika teman teman tentara mengerti dan melihat koper besar yang dibawa Sulayman.

 

Koper dibuka. Alya ada di sana.

 

-000-

 

Perpisahan tak terhindari. Sulayaman tak bisa lagi berdalih. Di situlah Sulayman, seorang tentara, berjanji. Ia akan kembali ketika perang sudah usai. Ia akan menjemput Ayla.

 

Sesampai di Turki, kekasih hati sudah menikah dengan orang lain. Ujar sang kekasih, kamu lebih memilih tinggal berlama lama di Korea bersama anak itu. Kamu biarkan aku menunggu dan menunggu. Jangan salahkan aku jika datang padaku pria lain.

 

Sulaymanpun menikah dengan wanita pilihan Ayah. Ia lalu punya putri. Namun Sulayman selalu gelisah. Perang Korea sudah selesai. Ada janji yang sudah ia ucapkan.  Dibantu istri, Sulaymanpun mencari Ayla.

 

Lima puluh tahun lamanya Sulayman tak kunjung menemukan Ayla. Panti asuhan tempat ia menitipkan Ayla sudah ditutup. Aylapun diganti nama oleh wali di sana.

 

Lima puluh tahun janji itu bergema. Walau Sulayman sudah mempunyai putri, Ayla tak bisa ia lupakan. Kisah Sulayman dan Ayla pun menjadi berita, baik di Turki ataupun Korea Selatan.

 

Hingga suatu ketika sekelompok jurnalis dan peneliti membantu mencarikan Ayla. Bekalnya hanya foto Sulayman yang sedang memangku Alya, puluhan tahun silam.

 

Begitu kuat getaran cinta seorang Ayah kepada yang sudah dianggapnya anak. Begitu dalam aura kasih seorang anak kepada yang sudah dianggapnya Ayah sendiri.

 

Getaran dan aura itu yang menggerakan jurnalis dan peneliti. Akhirnya setelah lima puluh tahun berpisah, Sulayman dan Alya bertemu kembali.

 

Peristiwa ini begitu unik. Pemerintah Korea dan Turki menjadikannya sebagai ikon persahabatan dua negara. Kementrian parawisata mengubahnya menjadi film.

 

-000-

 

Begitu tergugah saya menyaksikan film ini. Saya lacak pula kisah ini pada Om Google. Saya melihat adegan di luar film. Alya menemani Sulayman di rumah sakit, ketika Sulayman menghembuskan nafas terakhir.

 

Betapa nyenyak tidur panjang Sulayman. Janjinya pada Alya, ia penuhi. Walaupun itu terkabul, lima puluh tahun kemudian.***

 

Agustus 2018

 

 

  • view 316