Ketika Terorisme Mencari Target yang Mudah

Ketika Terorisme Mencari Target yang Mudah

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 21 Juli 2018
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

66.3 K Wilayah Umum
Ketika Terorisme Mencari  Target  yang Mudah

Review Film “22 Menit,” (2018)

 

Ketika Terorisme Mencari Target Yang Mudah

 

Denny JA

 

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengendarai motor di jalan raya tanpa helm. Iapun distop polisi. Brigjend Pol Krishna Murti jualan sate di pinggir jalan. Dua petinggi polisi ini menjadi cameo dalam film berjudul 22 menit.

 

Cameo itu peran kecil dalam film tapi dimainkan oleh tokoh masyarakat. Nelson Mandela pernah pula menjadi Cameo sebagai guru dalam film Malcom X. Alfred Hitcock yang paling sering muncul sebagai cameo dalam filmnya sendiri. Kehadiran tokoh sebagai cameo dalam film menambah daya tarik film di kalangan komunitas tokoh itu.

 

Hari itu, saya bersama keluarga besar LSI Denny JA menonton film yang diinspirasi oleh kisah nyata bom Thamrin, tahun 2016. Judulnya 22 menit.  

 

Sebulan ini, team LSI memang sedang intens menyelami riset soal terorisme. Sambil berkelakar, seorang peneliti menyatakan kantor LSI pindah hari itu ke bioskop. Kita perlu studi banding menonton film soal terorisme untuk memperkaya riset soal terorisme.

 

-000-

 

Selesai menonton film 22 menit, saya justru teringat film Dark Hours, yang mengkisahkan Winston Churchill di era kekuasaan Hitller.

 

Churchill sedang tertekan secara politik. Sejawat dan senior yang berpengaruh di partainya, Partai Konservatif, meminta Churchil berkompromi dengan Hittler. Sikap Raja Inggris saat itu juga serupa. Parlemen berulang menyatakan Inggris tak memiliki kekuatan militer yang setara dengan Jerman untuk berperang.

 

Namun selaku perdana menteri, Churchill tak ingin tunduk pada kehendak Hittler. Iapun pergi menuju kereta api bawah tanah. Di situ ia berjumpa rakyat kecil. 

 

Di dalam kereta Churchill bertanya bagaimana jika Inggris berunding dengan Hittler? Di luar dugaan, rakyat jelata itu menentang keras. Bersahut-sahutan mereka menjawab. Ujar yang satu, jangan pernah kita tunduk pada yang zalim. Ujar yang lain, kita lawan Hittler dengan apapun yang kita punya.

 

Di antara hikuk pikuk suara rakyat yang gemuruh, Churchill mendapatkan inspirasi. Ujarnya, Inggris punya yang lebih hebat dari sekedar kekuatan militer. Inggris punya kehendak rakyat yang tak sudi untuk tunduk. 

 

Churchill pun bergegas menuju parlemen. Ia membuat pidato yang kemudian historik. Inggris menolak berunding dengan Hittler. Inggris melawan.

 

Dalam film, percakapan Churchill dengan rakyat jelata di kereta bawah tanah sangatlah sentral. Percakapan itu sungguh menambah bobot film.

 

Tapi ternyata percakapan Churchill di kereta bawah tanah itu tak pernah ada dalam sejarah. Adegan Itu sepenuhnya fiksi. Dan ini fiksi yang sangat diperlukan untuk membuat film dramatik.

 

Aha! Ujar saya setelah menonton film “22 menit.” Film ini kurang bersedia memasukkan fiksi yang lebih dramatik ke dalam film. Penulis skenario dan sutradaranya tak mau mengambil teknik seperti film the Dark Hours.

 

Padahal dengan  tambahan  fiksi paling lama 15 menit lagi, film 22 menit akan lebih menyentuh. Ia akan lebih bisa misalnya membuat penonton menetes air mata, atau marah yang tak alang kepalang.

 

Kekurangan film ini kurang mengeksplor sisi drama, yang bisa dimainkan dengan memasukkan fiksi!

 

-000-

 

Secara menyeluruh film 22 menit ini tetap enak ditonton. Kita tahu lebih detail sisi manusiawi dari para insan yang terlibat dalam peristiwa.

 

Film berjalan maju dan mundur bulak balik. Aneka peristiwa sebelum bom meledak digali. 

 

Mulai dari kisah keluarga korban terorisme. Ini pemuda dari golongan rakyat kebanyak yang menjadi tulang punggung keluaga. Ia tak mengerti politik. Ia hanya bekerja. Namun naas menimpa. Ia ditembak di bagian kepala oleh teroris.

 

Ada kisah pribadi polisi yang sedang bertugas. Polisi ini sedang bermasalah dengan kekasih. Keterlibatannya dalam menanggulangi bom thamrin mulai menyentuh hati kekasih.

 

Adegan tembah menembak di jalan Thamrin cukup seru. Heli kopter yang ikut menyerbu ke lokasi cukup memperkaya suasana. Berkompi polisi yang terlatih menyerbu serentak. Hanya dalam tempo 22 menit, gerombolan terorism di Thamrin dilumpuhkan.

 

Polisi bergerak cepat pula memberangus jaringan ini di aneka kota. Melalui berita kita tahu, yang mengerakkan bom di Thamrin juga berhubungan dengan aksi terorisme di tempat lain.

 

Sebanyak 8 orang meninggal, 24 korban luka.

 

Namun kita melihat pola yang semakin jelas.  Banyak  aksi terorisme di Indonesia, juga internasional, semakin menyasar target yang mudah: Kafe Starbuck, gereja, halte bus.

 

Semakin mereka tak peduli siapa yang mati. Yang penting pesan mereka sampai ke publik. Mereka ingin menteror semata.

 

Tapi publik menjawabnya dengan tagar: #KamiTakTakut.

 

Bravo untuk mereka yang ikut menumpas terorisme dengan peran sekecil apapun. Menangkal terorisme hingga ke akar dapat  menjadi pintu masuk untuk meneguhkan kembali rumah bersama bernama Indonesia. ***

 

 

Juli 2018

 

 

 

 

 

 

  • view 434