Di era Google, Aktivis Demokrasi Meyelami Samudera Alquran

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 Juni 2018
Di era Google, Aktivis Demokrasi Meyelami Samudera Alquran

Di Era Google, Aktivis Demokrasi Menyelami Samudera Alquran, dan Temukan 10 Mutiara

 

Denny JA

 

Di era Google, apa jadinya jika seorang aktivis demokrasi, yang mengagumi prinsip hak asasi manusia, yang suka puisi, dengan latar pendidikan barat yang kuat, lalu menyelami samudera Alquran selama bulan Ramadhan?

 

Para Nabi dan Rasul mendapatkan wahyu. Tapi untuk seorang aktivis, pemikir, penyair, penulis atau seorang pencari, cukuplah baginya mendapatkan inspirasi.

 

Bulan Ramadhan mempunyai arti khusus bagi saya selaku aktivis yang senang menggali, membaca dan menulis. Ini sudah ramadhan yang keempat, yang memberikan saya kreativitas, stamina dan inspirasi. Setiap  sahur sayapun tergerak membaca dan menulis sesuatu.

 

Ramadhan kali ini setiap sahur saya membaca satu Juz Alquran. Dalam 29 malam sahur plus malam hari raya, lengkap 30 Juz Alquran saya baca. Sudah pula saya ekspresikan inspirasi yang saya peroleh dari setiap Juz, dan saya tuliskan dalam puisi esai mini. Sebanyak 30 malam, 30 Juz Alquran, lalu menjadi 30 puisi esai mini.

 

Selesai Hari Raya, saya renungkan sekali lagi. Prinsip hidup bagaimanakah yang saya temukan dalam Alquran? 

 

-000-

 

Saya bukan seorang yang ahli Alquran. Tak sedikitpun saya berpretensi mengklaim inilah intisari Alquran.

 

Saya ibaratkan diri sebagai seorang penyelam. Tujuan saya menyelami samudra bukan untuk menceritakan secara obyektif dan sistematis hal ihwal apapun yang ada di bawah permukaan samudera.

 

Saya hanya mencari mutiara saja. Dengan sendirinya yang akan saya ekspresikan hanya hal ihwal mutiara. Pun tak semua mutiara yang ada dalam samudera saya temukan. Samudera begitu luas. Yang mampu saya jangkau begitu terbatas.

 

Mutiara pun banyak jenisnyq. Yang saya ambil dan bawa serta hanya mutiara yang sesuai dengan imajinasi dan selera. Ditambah lagi, saya menceritakan mutiara itu melalui mata batin saya sendiri.

 

Selaku aktivis demokrasi dan pengagum prinsip hak asasi, dengan sendirinya sudah ada bias dan subyektivitas.

 

-000-

 

Ini sepuluh mutiara yang saya temukan selama menyelami 30 Juz Alquran sepanjang 30 malam Ramadhan. Bagi saya pribadi, 10 mutiara ini sudah cukup menjadi pedoman hidup selaku individu, atapun sebagai aktivis yang memiliki cita cita sosial. Sebanyak 10 mutiara ini sudah mampu membuat hidup saya bermakna, berbahagia dan berjuang.

 

MUTIARA PERTAMA, Prinsip Tauhid: Bebaskan Diri Dari Tuhan- Tuhan Kecil

 

Surat Ali Imran Ayat 18

 

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Evolusi tertinggi seorang individu, ia tumbuh menjadi manusia yang mulia. Itu hanya terjadi jika ia tak lagi menghamba kepada tuhan tuhan kecil. Harta, kuasa, tokoh, ideologi dapat menjadi tuhan tuhan kecil jika kita kalahkan prinsip kemanusiaan untuk mencapainya.

 

Dengan prinsip Tauhid, kita hanya berorientasi pada Tuhan yang serba maha, yang adil (Maha Adil), yang penuh kasih (Maha kasih), yang berpengetahuan (Maha Tahu), yang mampu (Maha kuasa), dan sebagainya.

 

Inilah perjalanan tertinggi rohani seorang individu. Ia mencoba mendapatkan percikan sinar ilahi agar dalam hidupnya juga menjadi adil, kasih, berpengetahuan, mampu mengelola perjalanan diri dan amanah.

 

MUTIARA KEDUA, Tegakkan Keadilan, Walau Langit Runtuh

 

Surat: An- Nisaa: 135

 

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

 

Ini perintah keras untuk adil bahkan terhadap orang dekat sekalipun. Tak ada pengaruh yang lebih kuat dibandingkan spirit orang banyak agar ditegakkannya prinsip keadilan.

 

Sejarah mencatat. Begitu banyak super power, kekuasaan raksasa pada waktunya hancur berantakan. Itu terjadi jika ada kezaliman, ada ketidak adilan terjadi.

 

Dimanapun dan kapanpun kita hidup, jika terasa ada ketidak adilan di sana, siapapun yang penyebabnya, walau langit runtuh, bersiaplah untuk katakan: TIDAK !!

 

 

MUTIARA KETIGA, Toleransi, Jangan Ada Paksaan dalam Agama

 

 

Surat: Al Maidah, Ayat 48

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. 

 

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

 

Surat: Al Baqarah: 256

 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Saya garis bawahi dari dua surat itu: manusia memang diciptakan untuk beragam. Berlomba dalam kebaikan. Dan tak ada paksaan dalam agama.

 

Semakin modern sebuah zaman, semakin ia beragam. Langkah selanjutnya bukan menyeragamkan, tapi mencari titik temu untuk hidup bersama dalam damai. 

 

Itu hanya terjadi jika ada keikhlasan menerima keberagaman. Tentu dakwah tentang kebajikan bukan saja dibolehkan tapi sangat direkomendasikan. Tapi tak boleh ada paksaan dalam meyakini sesuatu.

 

Hanya hukum nasional yang boleh dipaksakan. Dan paksaan itu hanya persoalan kriminal saja. Berpikir berbeda, punya cita cita sosial yang berbeda, punya keyakinan berbeda, itu bukan kriminal.

 

 

MUTIARA KEEMPAT:  Derma, Sedekah, Bantu mereka yang lemah

 

Surat: Ali Imran ayat 92

 

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

 

Surat Al-Bawarah Ayat 215

 

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

 

Ini sudah menjadi hukum besi sejarah. Dimanapun, kapanpun; sistem apapun yang diterapkan, selalu lahir mereka yang lemah dan tak beruntung. 

 

Setiap individu juga mahluk sosial. Ia punya kuasa, sekecil apapun untuk ikut membentuk lingkungan sosialnya. Pada gilirannya lingkungan sosial itu ikut membentuknya kembali.

 

Berderma, bersedekah, membantu mereka yang kurang beruntung, satu satunya cara masyarakat secara bersama untuk survive. Akan lebih tinggi lagi kualitas bantuan itu jika dilakukan atas kesadaran sendiri, yang dilandasi rasa kasih sayang.

 

MUTIARA KELIMA: Bersatulah Orang- Orang Saleh, Cari Titik Temu

 

Surat: Al-Baqarah 62

 

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

 

Surat: al maidah ayat 8

 

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Surat al-Mumtahanah, ayat 8

 

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

 

Surat Al Kafirun ayat 6:

 

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".

 

Empat kutipan surat di atas sudah cukup terang benderang. Tak ada larangan bekerja sama dengan siapapun selama mereka tidak memerangi kita karena agama dan tak pula mengusir kita dari negeri.

 

Sudah jelas pula, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Tapi kita hidup dalam ruang publik yang sama. Kita harus mencari cara hidup bersama. Dunia modern menemukan konstitusi sebagai pedoman hidup bersama. Orang-orang saleh dari setiap agama bersatulah, bekerja sama dalam batas yang digariskan konstitusi negara

 

-000-

 

MUTIARA KEENAM: Berdakwahlah dengan Teladan

 

Surat Fushshilat ayat 33:

 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?

 

Surat  Asy Syuara ayat 109

 

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

 

Surat Ali Imran Ayat 104:

 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

 

Surat An Nahl, Ayat 125

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

 

Menjadi pendakwah kebaikan itu bukan profesi. Itu anjuran agar setiap individu menyebarkan apa yang benar, dan apa yang jangan. Ini dikerjakan bukan karena upah, tapi kesadaran membangun masyarakat secara bersama.

 

Namun dakwah bagaimana yang paling efektif? Yang paling menyentuh jika tak hanya kata, tapi prilaku sehari hari yang menjadi teladan. Bahkan tanpa mengutip satu ayatpun, jika prilaku sehari hari begitu menyentuh orang banyak, ia justru menjadi virus yang menularkan kebaikan.

 

 

MUTIARA KETUJUH: rekomitmen pada jalan yang lurus lagi dan lagi

 

Surat: AlFateha, ayat 6 dan 7

 

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

Surat ar-Radu, Ayat 28

 

orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

 

Surat Al-Ankabut Ayat 45

 

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Komitmen pada kebaikan itu harus terus menerus diperbarui. Godaan dan tantangan datang setiap saat. Komitmen untuk tidak tergoda dan hanya ingin jalan yang lurus harus pula ditetapkan terus menerus.

 

Mengingat Allah secara rutin menjadi cara untuk rekomitmen (berkomitmen lagi dan lagi). Setiap individu perlu punya mekanisme (shalat) yang dilakukan terus menerus, agar semakin ingat dan semakin mendalami, pilihan untuk hidup lurus.

 

 

MUTIARA KEDELAPAN: Bersyukurlah

 

Surat Luqman, Ayat 12

 

...."Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

 

Realitas apapun yang tersaji dihadapan kita, ia adalah sinerji dan hasil saling pengaruh puluhan variabel. Bahkan jauh lebih banyak hadir variabel yang di luar kontrol. Kita lahir, menjadi pria atau wanita, lahir dari orang tua tertentu, di lingkungan dan zaman tertentu, itu bukan kita yang pilih.

 

Rasa bersyukur atas realitas apapun yang datang itu pilihan cerdas agar kita berdamai dengan realitas. Terus berjuang untuk yang lebih baik di depan, bukan penghalang bagi kita untuk bersyukur atas apa yang sudah ada.

 

Apalagi sudah banyak riset dalam positive psychology yang menunjukkan berapa rasa bersyukur itu membuat hidup lebih bahagia.

 

 

MUTIARA KESEMBILAN: Maafkan dan Move On

 

Surat asy-Syura, ayat 43

 

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

 

Dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, tak terhindari kadang terjadi perbedaan pandangan dan kepentingan, persaingan kalah dan menang. Kadang terjadi pula tindakan yang salah.

 

Namun hidup terus berjalan. Masa kini dan masa depan terus datang. Agar tak berat melangkah, problem di masa silam jangan kita pikul dibawa ke mana mana. Lepaskan masa silam itu dengan cara minta maaf dan memaafkan.

 

Kesalahan baik dari diri sendiri atau orang lain justru harus dilihat secara positif. Kesalahan itu justru menjadi cara setiap individu untuk semakin tumbuh dengan cara mengambil hikmah dari kesalahan itu.

 

 

MUTIARA KESEPULUH: Jujur dan Jaga Amanah

 

Surat: Al-Baqarah, Ayat 42

 

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.

 

Surat Al-Mukminun, Ayat 8

 

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

 

Dengan pengetahuan, bisa kita bedakan mana yang benar mana yang salah. Dengan empati, bisa kita rasakan mana yang adil dan mana yang tidak.

 

Berani lah untuk jujur membedakannya. Setiap individu yang diberi pengetahuan sekaligus juga diberi amanah untuk mendaya gunakannya. Setiap individu yang dititipkan kuasa, juga dititipkan amanah untuk menjaga kuasa bagi menyebarnya kebaikan.

 

-000-

 

Sepuluh mutiara ini yang saya temukan ketika intens menyelami samudera Alquran. Individu lain sangat mungkin menemukan mutiara yang berbeda. Bisa pula mereka menemukan mutiara yang sama tapi berbeda dalam memberi makna.

 

Aneka mutiara itu lalu saya puisikan setiap sahur. Satu sahur satu puisi. Sengaja pula saya pilih puisi esai mini.

 

Apa pula itu puisi esai mini? Puisi esai adalah puisi panjang, sangat panjang, dengan catatan kaki. Ia menggabungkan realitas dan fiksi. Aneka realitas dituliskan dalam catatan kaki. Lalu ia dikembangkan menjadi fiksi dalam teks puisi. Fiksi mempunyai fungsi memberi efek dramatisasi agar pesan lebih menyentuh.

 

Puisi esai mini tetap memenuhi kriteria itu. Bedanya, ini versi mini. Jika puisi esai itu minimal ada 2000 kata dan 10 catatan kaki, puisi esai mini kurang dari 500 kata, dan kurang dari 10 catatan kaki.

 

Yang dikisahkan dalam puisi esai mini bisa apa saja. Untuk kali ini, dalam kumpulan buku ini,  itu adalah mutiara Alquran. Mutiara itu diselipkan dalam kisah sejarah. 

 

Sengaja saya pilih menceritakan kisah teladan tokoh non-Muslim. Ada Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Nelson Mandela, George Washington, Chuck Feeney, dan lain lain.

 

Latar pemilihan tokoh non muslim justru untuk menunjukkan. Mutiara dalam Alquran itu berlaku universal. Ia juga menyentuh tokoh non-Muslim. 

 

Agama berbeda dalam hal ritual dan konsep ketuhanan. Namun untuk kebajikan dan keadilan dalam hubungan manusia dan duniawi, dapat dicari titik temu antar agama.

 

-000-

 

Selesai sudah bulan puasa 2018. Bersyukur saya melewatinya dengan tuntas membaca 30 Juz Alquran. Bersyukur pula saya karena selama ramadhan itu akhirnya menulis dan mengumpulkannya dalam satu buku puisi esai mini.

 

Namun di atas segala, saya bawa 10 mutiara al quran itu di hati saya. Saya patri di sana dan membuatnya abadi. Seraya berdoa agar 10 mutiara itu senantiasa mengarahkan hidup saya.***

 

Juni 2018

(Pengantar Buku Puisi Esai Mini Denny JA)

  • view 333