Suara Sang Guru

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 30 Mei 2018
Puisi Esai Mini Ramadhan 2018

Puisi Esai Mini Ramadhan 2018


Renungan 30 Juz Al Quran

Kategori Puisi

7.2 K Wilayah Umum
Suara Sang Guru

Sahur Hari Ke Empat Belas

 

Suara Sang Guru (1)

 

Denny JA

 

Di kawasan air berlumpur

Dapat tumbuh teratai putih,

bersih dan suci

Di kumpulan amarah buta

Dapat tumbuh spirit cinta

Teduh dan  kasih

 

Darta terpana

Mendengar petuah pak Tua

Dari negeri seberang sana

Ia asal India

 

Pak Tua terus berkisah

Kadang ia seka air mata

Cerita dari hati

Renungan nurani

 

Ujar Pak Tua:

Tahun 47, awal perkara

Usiaku masih bocah

Negara pecah menjadi dua

Sejuta muslim pergi ke Barat

bentuk Pakistan

Sejuta Hindu pergi ke Timur

Dirikan India

Aku disana

Digendong Ayah

dituntun Ibu

 

Massa berpapasan

Lelah dan lapar

Hidup tak pasti

Marah campur benci

 

Hanya satu sahutan

Massa tawuran

Semua lawan semua

Semua bunuh semua

Melayang nyawa berjuta (2)

 

Ya Allah

Aku dengar banyak suara

Rintihan

Tangisan

Lalu gelap

Tak lagi kuingat

 

Setelah dewasa aku mengerti

Apa yang terjadi

 

Seorang Ayah beragama Hindu

datang menghadap Guru:

“Bapuk, jiwaku celaka

Anakku bocah satu satunya

Mati terinjak di sana

Aku buta

Kubunuh pula bocah muslim

Mata balas mata

 

Aku tertawa

Tapi kini batinku tersiksa

Selamatkan iwaku, guru” (3)

Harus apa aku?

 

Sang Guru diam lama

Sedih tak terkira

Menetes air mata

Tenangkan sukma

Tunduk kepala

Memilih kata

 

Lantang Guru beri petuah

Hanya ini selamatkan jiwa

Kau cari bocah muslim

Sebaya dengan bocahmu

Sayangi ia seperti anakmu

Didik ia sebagai Muslim

Walau dirimu Hindu sejati

 

Tapi bapuk, Muslim musuh kita?

Jawab guru

Jika ingin sucikan Jiwa

Kau harus hijrah

Jadikan Muslim anakmu

Anak kesayanganmu

 

Ayah itu mencari bocah Muslim

Yatim lagi piatu

Ia sayangi bagai anak sendiri

Ia carikan guru mengaji

 

Bocah itu bertanya

Ayah aku ingin seperti Ayah

Menjadi Hindu saja

Ayah melarang itu bocah

 

Tetaplah pada agamamu

Nanti kau mengerti

Teruslah mengaji

Jadilah Muslim sejati

 

Bocah itu adalah aku

Kusaksikan keajaiban

Hidupku dikasihi

Aku jadi saudagar

Ditunjuk jadi pejabat

 

Kini tua sudah usia

Kutemui banyak manusia

Paling mulia di antara semua

Tumbuhkan benih sukma

 

Bukan yang paling kuasa

Bukan yang paling banyak harta

Tapi yang ajarkan cinta

 

Darta semakin terpana

Berlalu sudah pak Tua

Tapi ia punya kisah

Di hati jadi permata

 

Selalu terngiang itu petuah (4):

Berikan rasa hormat ekstra

Bukan kepada yang berkuasa

Bukan untuk yang banyak harta

Tapi kepada yang tumbuhkan cinta***

 

Mei 2018

 

CATATAN KAKI

 

  1. Puisi esai mini ini dialog saya dengan situasi, dan diinspirasi oleh satu prinsip di Juz 14, AlQuran

 

  1. Berpisahnya India dan Pakistan di tahun 1947 diwarnai migrasi jutaan penduduk. Migrasi ini tercatat paling besar dalam sejarah. Ia migrasi yang sektarian pula: muslim ke satu wilayah. Penganut Hindu ke wilayah sebaliknya.

 

  1. Ini cuplikan percakapan terkenal Mahatma Gandhi

 

  1. Berikan hormat yang ekstra bukan kepada mereka yang berkuasa, yang banyak harta, tapi kepada mereka yang memperjuangkan keadilan, kebenaran, kepada orang yang beriman.

 

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka. Berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.

 

Q.15: 88

  • view 21