Mengikatkan Kembali Batin Indonesia-Malaysia

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 16 April 2018
Mengikatkan Kembali Batin Indonesia-Malaysia

Mengikat Kembali Batin Indonesia- Malaysia

Catatan Pertemuan 10 Penyair Indonesia- Malaysia di Sabah, April 2018, menuliskan batin hubungan dua negara serumpun dalam 10 puisi esai

 

Denny JA

 

Kita lapar itu biasa

Kita malu itu juga biasa

Tapi kalau kita lapar dan malu

Karena Malaysia,

Itu kurang ajar!

 

(Bung Karno, 27 Juli 1963).

 

Potongan pidato Bung Karno ini saya temukan. Berikut seruan Bung Karno yang gemanya terasa sampai sekarang: Ganyang Malaysia!

 

Saya ingat itu di tahun 2016. Di antara aneka survei nasional yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia, acapkali diselipkan pertanyaan isu strategis. Kali itu diselipkan pertanyaan soal negara yang paling dibenci.

 

Temuan survei LSI menjawab selipan pertanyaan itu ada yang biasa saja dan terduga. Tapi ada pula termuan yang mengejutkan. 

 

Yang biasa saja, dari tiga negara yang paling dibenci publik Indonesia hasil survei LSI adalah Israel dan RRC. Mudah diduga, Israel itu karena sentimen solidaritas Islam atas isu konflik Israel- Palestina yang sangat panjang. Sedangkan RRC, itu karena sisa tragedi besar komunisme tahun 1960an.

 

Temuan yang mengejutkan, satu dari tiga negara yang dibenci publik Indonesia adalah Malaysia. Apa yang sudah terjadi dengan hubungan dua negera serumpun itu?

 

Sebagai peneliti segera saya melakukan studi pustaka. Temuan ini harus dijelaskan. Berjumpalah saya dengan cuplikan pidato Bung Karno di atas. Salah satu penyebab datangnya rasa marah kepada Malaysia itu sisa konflik Indonesia- Malaysia era Soekarno.

 

Namun pergesekan Indonesia versus Malaysia terus terjadi, untuk beberapa isu.

 

Pertama, isu perebutan budaya. Publik Indonesia marah ketika batik sempat diklaim sebagai milik Malaysia. Juga lagu rasa sayange. Bahkan lagu resmi Malaysia, Negaraku, disinyalir berasal dari lagu Indonesia: Terang Bulan.

 

Kedua, isu perebutan teritori. Hal yang lazim untuk dua negara yang bertetangga, berujung pada klaim: pulau yang disebelah sana miliki negara mana? Termasuk dalam kasus itu Pulau Sipadan, Pulau Ligata, dan Perairan Sambas.

 

Bertambah panas lagi ketika Malaysia dianggap mencuri blok Ambalat milik Indonesia. Ambalat diketahui memiliki potensi kekayaan melimpah, dengan luas area sebesar 15.235 KM persegi.

 

Ketiga, isu TKI yang disiksa. Banyak rakyat Indonesia yang bekerja di Malaysia. Di antara begitu banyak TKI, ada beberapa kasus TKI yang disiksa. Ketika menjadi berita, segera hal ini menyulut sentimen kebangsaan.

 

Masih banyak lagi kasus lain. Tapi contoh di atas cukup memberi penjelasan, mengapa hasil survei LSI, 2016, Malaysia termasuk satu dari tiga negara yang dibenci penduduk Indonesia.

 

-000-

 

Namun  Indonesia- Malysia itu negara serumpun. Batin kedua negara perlu diikatkan kembali. Apa untungnya merawat permusuhan? Banyak faedahnya mengikat kembali persahabatan.

 

Jokowi selaku Presiden Indonesia sudah berjumpa PM Malaysia Najib Razak, di bulan November 2017. Kembali dibina hubungan dua negara bidang politik dan ekonomi. 

 

Namun hubungan batin Indonesia dan Malaysia terlalu luas dan penting jika hanya diserahkan kepada pemerintah. Terlalu luas dan penting pula hubungan dua negara serumpun itu jika hanya soal politik dan perdagangan.

 

Oleh karena itu, saya menyambut baik upaya mengikatkan kembali batin Indonesia- Malaysia melalui sastra, khusunya puisi esai. Ini program yang sekali mendayung, dua pulau terlampaui.

 

Program ini memperkaya upaya menjalin hubungan dua negara, tapi oleh civil society. Juga kerja sama dibina di arena budaya. Hidup tak hanya soal tabel ekonomi, soal dagang atau konflik politik. Soal budaya dilupakan jangan.

 

Yang lain, yang tak kalah penting untuk dunia sastra, dinamika hubungan dua negara itu kini dilukiskan dalam 10 puisi esai.

 

Jika tak salah memori saya, ini pertama kalinya, 10 penyair, 5 dari Indonesia dan 5 dari Malaysia, menjadikan puisi sebagai medium mengkisahkan batin hubungan kedua negara. Karakter puisi esai memang punya fasilitas itu. Puisinya panjang, ada drama di dalammya. Ada pula catatan kaki untuk memasukkan aneka data, atau sumber informasi yang diperlukan.

 

Beberapa draft puisi esai yang sempat saya baca, persis mengkisahkan isu yang dituliskan di atas. Ada kisah tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Ada kisah soal klaim budaya Indonesia yang diakui milik Malaysia. Ada pula refleksi hubungan Indonesia Malaysia sejak konfrontasi era Soekarno.

 

Puisi esai membawa puisi melampaui peran tradisionalnya. Puisipun berfungsi sebagai  esai, sebagai  opini ketika ia merekam dan memberikan perspektif jejak batin hubungan dua negara.

 

Jika dulu slogan Bung Karno: Ganyang Malysia. Puisi Esai lahir di era berbeda. Ia dapat ikut memberikan versi lain: Kita ikatkan kembali batin Indonesia- Malaysia. Why Not?

 

April 2018Attachment.png

 

  • view 133