Raksasa Pemikir: Riwayatmu Dulu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 14 April 2018
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

71.9 K Wilayah Umum
Raksasa Pemikir: Riwayatmu Dulu

Raksasa Pemikir: Riwayatmu Dulu
Review Film: The Young Karl Marx (2017)

Denny JA

“Jika anda hidup di Brazil,” ujar Jose Padilha, “dan hidup di bawah tekanan pemerintahan diktaktor kapitalisme, anda akan berpikir Marxisme adalah pembebasan. Namun jika anda tumbuh di Czekoslowakia atau Uni Sovyet, pemerintahan komunisme yang mengontrol apa saja dan mudah membunuh siapa saja, anda akan bepikir, kapitalisme adalah pembebasan.”

“Percayalah, lanjut Padilha, “dua dua harapan itu salah. Tak perlu seorang cerdas untuk tahu harapan itu palsu.”

Padilha menyatakan secara puitis realitas dari dunia pemikiran atau ideologi. Ketika ideologi itu baru hadir sebagai cita cita, dan kritik atas kondisi status quo, ideologi itu begitu bersinar. Namun ketika ideologi yang bersinar itu diterapkan dalam dunia nyata, akan terlihat aneka kelemahannya.

Pernyatan Padilha ini saya ingat sebelum saya menonton film the Young Karl Marx. Film ini memotret persahabatan Karl Marx dan Friedrich Engels di masa muda, ketika akhirnya mereka menyusun “Manifesto Komunis” yang mengubah wajah dunia.

Marx dan Engels membangun persahabatan dua pemikir, dua penulis, dua aktivis, dua ideolog, dua pejuang yang sangat jarang. Terlahir dari keluarga kaya, Engles membantu Karl Marx yang hidup miskin, bersama mereka menyusun “kitab suci” bagi gerakan revolusioner.

Adegan dan kutipan Engels itu dikenang ketika ia berpidato mengantarkan Karl Marx beristirahat di pemakaman.

Ujar Engles: “Hari ini pemikir terbesar dunia berhenti berpikir. Ia sejenak tertidur dalam damai di kursinya. Namun ia tidur untuk selamanya.”

Setelah kepergian Karl Marx, Engels tetap meneruskan dan menerbitkan aneka manuskrip Marx yang tersisa. Engels tetap pula membantu ekonomi keluarga Marx yang ada. Bahkan ketika wafat, Engels juga menyisihkan warisan harta untuk anak anak Marx. Dua keluarga tetap bersahabat bahkan ketika keduanya, Marx dan Engels, tiada.

Ketika Karl Marx dimakam, yang hadir hanya belasan orang. Namun puluhan tahun kemudian, Marx menjelma menjadi pemikir yang mungkin paling berpengaruh dalam sejarah. Pengaruhnya meluas kepada aneka dimensi kehidupan.

Di bidang politik, Marx mempengaruhi dua revolusi yang melahirkan dua negara super power: Uni Sovyet, RRC, dan kemudian meluas ke separuh dunia. Politisi besar dunia terpengaruh olehnya: Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, Fidel Castro dan Che Guvara.

Di bidang ekonomi, Marx dikenang sebagai raksasa ekonom di samping Adam Smith. Di dunia sosiologi, Marx dianggap founding fathers bersama Max Weber dan Emile Durkeim.

Di bidang ilmu sosial, Marxisme menjadi kerangka atau paradigma besar untuk memahami dan menjelaskan perkembangan masyarakat. Untuk Anthropology, Feminisme, bahkan ilmu sejarah, Karl Marx masuk dalam list pemikir utama.

Bagaimana bisa? Apa yang membuat raksasa di banyak bidang: politik, ekonomi, ilmu sosial, feminisme, anthropologi, dan lain lain berkumpul pada satu pribadi: Karl Marx?

Bagaimana pula menjelaskan, raksasa terbesar masa silam itu, yang dulu nampak brilian, jenius, kini nampak kuno, usang dan banyak salahnya. Alangkah hebatnya perubahan zaman yang membuat raksasa masa silam kini nampak kehilangan relevansi.

Adegan di atas tak ada di film. Ia hanya kita baca dalam buku biografi dan sejarah.

Namun awal mula bertemunya dua pemikir, Marx dan Engels, persahabatan, kisah cinta, pertarungan mereka melawan sesama pemikir dan aktivis di zamannya, terpotret indah di film itu, the Young Karl Marx.

-000-

Film dibuka dengan kondisi masyarakat Eropa abad 19. Ketika revolusi industri dimulai, betapa kemiskinan meluas. Para pekerja siang malam mencari upah. Mereka terus hidup susah dan semakin bergantung. Sementara pada pemilik modal dan industrialis semakin jaya.

Anak anak dipekerjakan hingga terkuras tenaga. Anak anak seringkali dipilih karena upah lebih murah. Akibat waktunya habis untuk mencari nafkah, masa depan anak anak miskin ini justru semakin tertinggal. Sementara anak anak orang kaya, semakin terdidik, semakin kuat.

Sudah lahir banyak pemikir yang memprotes situasi. Sudah ada pula cita cita sosial untuk membangun sistem lebih baik.

Karl Marx lahir dan tumbuh dalam suasana itu. Sejak awal jiwanya memberontak. Siapa duga, awalnya Karl Marx adalah penyair. Ia menulis puisi dan novel. Ia juga menjadi jurnalis.

Namun ia tak puas dengan gerakan perlawanan yang ada. Dari sisi pemikiran, Marx menginginkan gagasan yang lebih membumi. Marx yang awalnya belajar filsafat, akhirnya juga mempelajari ilmu ekonomi. Ia memaksa diri harus paham kelemahan ekonomi kapitalisme.

Di ujung sana, hidup Frederich Engels, anak orang kaya dan bekerja pada Ayahnya. Namun kondisi buruk para pekerja, termasuk di pabriknya sendiri, membuat ia melawan sang ayah.

Seorang pekerja wanita di pabrik itu keras sekali mengkritik. Ayahnya marah dan memecat pekerja itu. Sebaliknya Engels jatuh hati dan mencari dimana tinggalnya sang pekerja. Mereka terlibat tak hanya dalam asmara. Pasangan ini bersama pula dalam gerakan politik. Engels dibantu sang kekasih menulis dan mempublikasikan buku mengenai kondisi kelas pekerja di Inggris.

Buku ini melambungkan Engels di antara para pemikir zamannya. Buku ini pula yang akhirnya mempertemukan Engels dengan Karl Marx.

Baik Engels ataupun Marx tumbuh sebagai dua pribadi yang arogan. Susah bagi keduanya kerja sama dengan pihak lain. Namun ada magnet antar keduanya. Ketika pertama berjumpa, mereka justru saling memuji.

Persahabatan mereka berdua didukung pula oleh persahabatan kekasih dan istri masing masing. Istri Karl Marx dan kekasih Engels, dua duanya juga aktivis yang sangat sepaham.

Ujar Marx suatu ketika: para filsuf umumnya hanya sibuk menginterpretasi dunia. Padahal yang penting adalah merubah dunia. Menjadi pemikir bagi Karl Marx harusnya juga menjadi aktivis dan pejuang. Dunia berubah tak hanya karena gagasan, tapi juga oleh aksi politik nyata. Namun aksi politik harus dipandu oleh ideologi yang ilmiah.

Karl Marx mendalami antropologi pula. Ia terkesima oleh kehidupan suku tradisional: semua untuk semua. Tak ada pemilikan pribadi sana. Aneka sarana produksi dimiliki bersama untuk kepentingan bersama. Lalu dibangun sistem “from each according to his capability, to each according to his needs.”

Kehidupan komunal masa silam itu perlu dicapai lagi secara modern. Private property harus dimiliki bersama. Lahirlah pamflet: Manifesto Komunisme.

Acapkali berempat: Marx dan Istri, Engels dan kekasih, bersama mereka menyebarkan gagasan, membangun organisasi, bermanuver merebut kekuasan jaringan yang ada.

-000-

Filmpun berakhir di sana. Tapi sejarah terus berlanjut. Seratus tahun lebih sejak kematian Karl Marx, kita tahu betapa banyak kesalahan dan kelemahan Marxisme.

Komunisme atau Sosialisme yang ia cita citakan tidak tumbuh di jantung pusat kapitalisme, tapi justru di wilayah yang kapitalisme belum matang. Ini berbeda dengan prediksi Karl Marx yang mengangap ketegangan internal kapitalisme yang sudah matang akan berubah menjadi komunisme.

Ketika Jerman dan Korea terbelah, satu menerapkan kapitalisme (Jerman Barat, Korea Selatan), satu menerapkan Komunisme (Jerman Timur, Korea Utara), betapa justu Jerman Barat dan Korea Selatan yang maju pesat.

Betapa pula ternyata kebebasan individu dan private property itu justru menjadi mesin penggerak peradaban. Ketika komunisme mengekang itu, komunismepun mandek dan berdarah.

Walau secara ideologi, Marxisme, apalagi Komunisme sudah usang, tapi persahabatan pendiri ideologi itu, Marx dan Engels tetap menyentuh. Film The Young Karl Marx tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton untuk tema persahabatan yang terjadi di kalangan pemikir dan ideolog.

Di makam Karl Marx yang sudah diperbaharui, ditulis ucapannya yang sangat terkenal: Para Buruh sedunia, bersatulah. Namun yang kini bersatu, tak hanya para buruh, tapi juga para pengusaha besar, para pimpinan negara, para agamawan, dan para pemain media sosial. Dunia berkembang lebih warna warni.***

April 2018

  • view 323