Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 12 April 2018   09:32 WIB
Apakah Kitab Suci Itu Fiksi?

Apakah Kitab Suci itu Fiksi?
- Kisah ILC TV One dan Rocky Gerung

Denny JA

Bagaimana kita memahami diskusi di acara talk show ILC TV One, yang dipandu Karni Ilyas? Pembicara di acara itu, Rocky Gerung, kini resmi dilaporkan ke polisi oleh ketua Cyber Indonesia, Permadi Arya. Tuduhannya tak tanggung-tanggung: penistaan agama!

Akankah Rocky Gerung akhirnya meringkuk di penjara karena opininya dalam sebuah acara talk show yang disiarkan langsung? Ataukah kasus ini akan menguap saja ditelan waktu? Apa yang terjadi dengan kultur Indonesia? Mengapa begitu banyak perdebatan dan opini yang kini dilaporkan ke polisi?

Kultur Indonesia memang belum sebebas di Inggris misalnya. TV One bukan BBC one. ILC bukan the Big Question. Karni Ilyas bukan Nicky Campbel atau Keye Adams. Rocky Gerung memang bukan Richard Dawkins.

Di acara BBC One, Talk Show the Big Questin bebas saja menggelar pro kontra dengan tema apakah kitab suci (Bible) fiksi atau fakta (fiction or fact)? Apakah kitab suci (Bible) masih relevan atau tidak? Apakah Tuhan ada atau tidak? Richard Dawkins, arkeolog atau ilmuwan lain santai pula menyatakan kitab suci itu fiksi atau fakta, dengan argumennya masing masing.

Berkali kali saya menonton Talk Show di BBC one itu. Betapa argumen dan bukti aneka kubu yang percaya atau tidak, yang pro dan kontra kadang meyakinkan, kadang tidak, kadang brilian, kadang biasa saja, kadang mengejutkan, kadang terduga dan datar saja.

Sepulang dari acara debat, para pembicara juga santai pula. Tak ada ancaman dilaporkan ke polisi atau masuk penjara karena opininya. Setelah acara, publik di Inggris juga santai pula. Yang percaya pada agama, kitab suci, Tuhan terus saja melakukan aktivitas keyakinannya. Yang tak percaya bebas pula terus beropini.

Bagi sebagaian acara itu menambah pengetahuan. Bagi yang lain hanya hiburan. Bagi yang satu, itu pencerahan. Bagi lainnya, itu kritik. Tapi live is going on. Semua kembali pada kegiatan rutin masing masing.

-000-

Berdiskusi secara santai, bebas pro dan kontra di Inggris, juga di peradaban barat umumnya, tentu buah yang panjang. Di abad pertengahan, Eropa justru tercatat sebagai wilayah paling berdarah untuk urusan opini soal agama. Beda pandangan dengan doktrin resmi gereja dapat membuat seseorang dibakar hidup hidup.

Dalam sejarah Eropa dikenal istilah Death by burning. Hukum mati dengan cara pelaku di salip. Di bawah kakinya penuh tumpukan kayu untuk dibakar. Publik
bahkan terbiasa menonton hukuman itu. Api dinyalakan. Sang pelaku menjerit terbakar hingga mati dan badannya hangus.

Jangankan menyatakan kitab suci itu hanya fiksi. Menyatakan sesuatu yang berbeda dengan keyakinan resmi gereja saja, yang komentarnya dianggap menyimpang, pelaku bisa dipanggang.

Sengaja pula hukuman mati dengan dibakar itu dipertontonkan untuk menimbulkan efek jera. Bahkan ada pula yang meyakini. Walau fisik pelaku menderita, namun jika ia menjerit penuh penyesalan, panasnya api itu akan menyelamatkan jiwanya.

Mengapa di Eropa tradisi hukuman bagi beda opini soal agama akhirnya dihapuskan? Terbukti pandangan resmi otoritas keagamaan bisa juga salah.

Dulu itu gereja meyakini bumi adalah pusat semesta. Galileo melalui teleskop membuktikan ucapan Copernicus bahwa bumi hanya planet biasa yang justru mengelilingi matahari. Gereja meminta Galileo mencabut teorinya dan ia dikenakan tahanan rumah.

Waktu membuktikan Galileo benar dan pihak gereja yang merupakan pemangku agama tertinggi bisa salah.

Dulu itu menyempal soal agama bisa berujung pada kematian. Menjadi katolik atau menjadi protestan dengan seluruh keyakinannya terancam musnahnya satu keluarga. Tahun 1522-1700, selama hampir dua ratus tahun, terjadi konflik besar soal agama yang disebut The European Wars of Religions atau The Wars of the Reformation.

Manusia menderita akibat tiada toleransi pada perbedaan. Peradaban rusak, hancur dan berdarah karena tak memberi ruang untuk berbeda pandangan secara damai.

Ratusan tahun kemudian, Eropa berubah. Sebuah opini yang dulu kala bisa membuat pelaku dibakar mati, kini dapat dinyatakan dengan senyum dan santai saja dalam acara live show televisi. Toh semua hanya opini. Tak ada paksaan kepada siapapun untuk meyakini opini itu.

-000-

Saya pribadi secara sadar di usia lima puluhan meyakini adanya wahyu. Namun pernah pula dalam pencarian diri, ketika belajar filsafat, saya meragukannya. Di usia lima puluhan, kadang dalam hening, hati saya berzikir: La Ilaha Illallah. Dan kadang air mata menetes syahdu.

Pernah pula saya lukiskan pengalaman batin dalam puisi. Kutipan puisi saya oleh teman dibuatkan kaos team puisi ketika berangkat ke Malaysia: “Tuhan, aku mencintaiMU dengan seluruh ketidak tahuanku. Namun kalbuku padaMU kalahkan segala.”

Saya begitu terpesona dengan pencapaian gagasan soal kesetaraan dan kebebasan manusia dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia yang terus dilengkapi. Namun saya membuat tulisan yang sudah diterbitkan dalam buku. Judulnya: Hak Asasi Manusia dengan spirit La Ilaha Illalah.

Pengalaman batin individu atas agama boleh berbeda. Bagi saya pribadi, sungguhpun kitab suci itu wahyu, dan memancar kebenaran, ada bagian dalam kitab suci yang lebih bagus dipahami dalam kacamata sastra. Kisah penciptaan Adam dan Hawa misalnya, saya ambil kandungan moral layaknya saya membaca sastra.

Saya tak memandang secara tekstual bagaimana Adam dan Hawa diciptakan dan turun ke bumi. Saya memahami kisah itu sebagai puisi untuk kandungan moral yang suci.

Yang membuat kitab suci bertahan panjang justru karena bahasa puitiknya. Banyak metafor, yang membuatnya dapat diterjemahkan secara beragam sesuai dengan zaman dan level kesadaran individu.

Apakah kitab suci adalah fiksi? Jawaban subyektif dalam pengalaman batin saya: Kitab suci adalah wahyu dan kebenaran yang banyak elemennya ditulis dalam bentuk puisi.

-000-

Saya menonton versi Youtube pernyataan Rocky Gerung di ILC TV one. Ia mengatakan kitab suci itu membangkitkan imajinasi seperti fiksi. Tone dan spirit Rocky ketika menyatakan itu justru positif pada kitab suci. Sama sekali tak terasa menista.

Tentu pihak lain dapat memberikan tafsir berbeda. Namun lihatlah spiritnya. Rocky justru mengembalikan fiksi pada khittahnya. Fiksi itu bukan buruk, tapi justru powerful dan memperkaya manusia.

Tapi mengapa Rocky Gerung tetap dipolisikan? Itu renungkan Indonesia hari ini. Kemana Indonesia menuju? Mengapa pengelompokan politik, mengapa distrust antar warga, mengapa kebebasan opini dengan argumen, acapkali berujung bully di media sosial. Mengapa semakin banyak opini harus berakhir di kantor polisi?

Saya teringat lagu ketika masih bocah. Lagu itu terdengar kembali: “ Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang....***

April 2018

 

 

Karya : Denny JA