Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 10 April 2018   08:37 WIB
Kutunggu di Setiap Kamisan: Sebuah Puisi Esai

Politik Orang Hilang, Aksi Kamisan dan Perpustakaan Puisi Esai di Facebook

Denny JA

Jangan pernah mengabaikan efek politik air mata para ibu. Apalagi para ibu yang mencari anak mereka yang hilang. Tak kita duga daya tahan dan pengorbanan yang para ibu ikhlas lakukan. Karena air mata para ibu itu, bahkan sebuah rezim politik dapat tumbang.

Itulah kesan pertama saya dengan gerakan para ibu dalam kasus legendaris “The Mothers of Plaza de Mayo.” Hari itu, sekitar tahun 1997, berjam-jam saya duduk di perpustakaan di Ohio State University, Amerika Serikat.

Dalam tugas membuat makalah, saya sebagai mahasiswa Ph.D saat itu, bidang Comparative Politics, tengah kecanduan belajar teori dan kasus Transisi Demokrasi dan Konsolidasi Demokrasi. Begitu banyak buku yang saya lahap. Kadang begitu lelah, sayapun acapkali tertidur di perpustakaan.

Untuk kasus Amerika Latin, khususnya Argentina, sayapun berjumpa dengan gerakan para ibu di Plaza de Mayo.

Awalnya tanggal 30 April, 1977. Seorang ibu bernama Azucena Villaflor De Vincenti ditemani oleh belasan ibu lainnya. Mereka mencari cara untuk protes akibat para anak mereka yang hilang. Terdengar kabar, anak mereka diculik, disiksa dan dibunuh oleh rezim militer yang tengah berkuasa akibat aktivitas politik yang beroposisi.

Mereka pun memilih tempat protes di Plaza de Mayo. Ini sebuah lokasi yang yang historik. Dalam sejarah Argentina, lokasi ini acapkali menjadi tempat pertemuan politik. Para ibu memutuskan demo di seberang istana penguasa. Aksipun dipilih kamis sore hari.

Tak diduga, pelan pelan begitu banyak para ibu yang bergabung. Mereka mendata ada sekitar 3000 anak mereka yang hilang paksa karena oposisi politik.

Pada tahun yang sama, di bulan desember, delapan bulan kemudian, bahkan Azucena Vilaflor sendiri hilang. Isu beredar iapun diculik paksa dan dibunuh rezim militer yang berkuasa.

Teman temannya sibuk mencari. Dimanakah bersembunyi atau disembunyikannya Vilaflor, inspirator mereka.

Sekitar 26 tahun kemudian, di tahun 2003, Team Forensik Argentina dari rezim baru mengidentifikasi lima tubuh wanita yang sudah tak berbentuk. Tubuh itu dapat dikenali mengalami kekerasan yang sangat sebelum mati. Satu dari tubuh itu adalah Azucena Vilaflor.

Untuk anaknya yang hilang, Vilaflor mengambil resiko nyawapun hilang. Tapi air matanya ikut membawa Argentina memasuki era baru: demokrasi. Dan gerakan para ibu yang ia awali ikut menginspirasi dunia.

Lama saya merenung dan terdiam membaca kisah ini. Saya ingat di tahun itu, di tahun 1997, ketika membayangkan Vilaflor saya teringat ibu saya sendiri. Saya membayangkan jika saya yang hilang, dan ibu sayapun mencari saya hingga ia dibunuh. Sore itu, di taman itu, air mata saya menetes.

Hari itu, sore itu, di taman itu, di tahun 1997, saya niatkan akan menulis sesuatu soal mencari keluarga yang hilang akibat politik. Tapi saat itu saya belum tahu, kapan, dan dalam bentuk apa. Yang ada baru janji pada diri sendiri dan gelora yang terus tersimpan.

-000-

Kamis 11 Juni 2015, di Indonesia, adalah kamis ke 400 dari aksi kamisan. Para ibu dan aktivis lain, di Jakarta juga melakukan aksi kamisan di seberang istana. Mereka juga mencari anak, suami, ayah, ibu mereka yang hilang karena politik.

Hari itu, sebuah karangan bunga dikirim kepada Presiden Jokowi dengan ucapan menagih janji. Mereka aktivis yang keluarganya hilang meminta Jokowi menepati janji kampanye. Banyak poster dipasang: Jokowi, tuntaskan janji. Dimana keluarga kami yang hilang?

Luar biasa. Hari ini adalah kamis ke 400, para aktivis ini bergerak. Di ujung tahun 2006, Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) bersama Kontras, lembaga hak asasi manusia, merumuskan perjuangan mencari aktivis politik yang dihilangkan secara paksa.

Mereka yang hilang, tak hanya kasus politik di tahun 1998. Widji Tukul, sang penyair, termasuk korban yang hilang. Termasuk diperingati di sana Tragedi Trisakti dan Semanggi I dan II. Namun korban yang hilang juga mencakup kasus politik tahun 1960an.

Mereka juga demo di depan istana. Mereka juga demo di hari kamis sore. Gerakan para ibu di Plaza de Mayo ikut menginspirasi. Namun mereka menambahkan identitas dengan simbol payung hitam. Juga aksi diam.

Gerakan ini terus bertahan. Tanggal 18 Januari 2017, bahkan mereka merayakan 10 tahun usia gerakan.

Di tahun 2015, datanglah momen. Saya tersentuh untuk ikut mengabadikan kisah aksi kamisan seberang istana. Momen saat itu adalah 400 aksi kamisan. Saya mengabadikannya dalam puisi esai. Saya teringat janji saya pada diri sendiri di tahun 1997, 28 tahun sebelumnya.

Tanggal 30 April 2018, adalah peringatan 41 tahun gerakan para Ibu mencari anak yang hilang di Plaza de Mayo. Sekali lagi saya revisi puisi esai itu dan siap dipublikasi untuk publik secara luas.

Saya memilih kisah cinta yang terselip dalam aksi kamisan ke 400 di seberang istana. Kisahnya bermula dari sepasang keluarga muda di Jogjakarta. Sang istri baru saja hamil. Suaminya bukan aktivis politik. Sang suami seorang seniman, penjual jasa kreatif memvideokan apapun peristiwa.

Suatu ketika datang order agar ia meliput demonstrasi menentang dan meminta Soeharto diganti. Itu tahun 1998. Hal yang biasa suami pergi ke luar kota mencari nafkah. Entah mengapa, kali itu, sang istri punya firasat beda.

Ia antar suami di stasiun kereta. Entah mengapa, tiba tiba, ia minta suami membatalkan pergi. Sang suami hanya senyum dan meyakinkan istri. Semua baik baik saja.

Kapan kembali, tanya istri. Kamis, jawab suami. Kamis kapan? Tanya istri lagi. Sang suami berkelakar menggoda istri. Ujar suami: mungkin kamis depan, atau kamis depannya lagi, atau kamis tahun depannya lagi. Suami tertawa melihat istrinya bertambah cemas, lalu memeluk menenangkannya.

Jakarta rusuh, bulan Mei 1998. Sejak kerusuhan, suami tak lagi berkabar. Setiap hari kamis Lina, nama sang istri, menunggu di stasiun kereta. Siapa tahu suami pulang di hari kamis, sesuai janji. Ia menunggu hingga kereta terakhir.

Namun di kamis itu suami tak kunjung pulang. Ia tunggu lagi di kamis depan, kamis bulan depan, kamis tahun depan. Suami tak kunjung pulang. Kereta terakhir juga sudah lewat, tanpa ada suami di dalamnya.

Bertahun kemudian, sang istri dan anaknya yang membesar pindah ke Jakarta. Ia ingin lebih dekat dengan kota yang telah membuat suami hilang. Di kota ini, ia berkenalan dan akhirnya bergabung dengan aksi kamisan seberang istana.

Puisi esai memang tepat untuk menggambarkan kisah ini. Ada drama di dalam puisi panjang itu. Namun ada pula kisah nyata, yang memang terjadi dalam sejarah soal aksi kamisan dan orang hilang. Kisah nyata itu bisa diselipkan dalam catatan kaki puisi esai. Bagi yang ingin tahu fakta sosialnya, dapat mengeksplor lebih jauh lewat catatan kaki.

Namun dalam puisi esai, drama yang dilukiskan tetaplah sebuah fiksi belaka. Justru dengan fiksi, kisah yang dituangkan lebih bisa didramatisasi agar lebih menyentuh. Opini lebih mudah menyelinap lewat imajinasi yang fiktif dalam puisi esai itu.

Berbeda dengan puisi esai lain, saya tuangkan kisah “Kutunggu di Setiap Kamisan,” dalam kisah bergambar. Ini medium lain dari puisi esai: puisi berikut gambar atau lukisan.

-000-

Judul puisi esai saya sudah pas: Kutunggu di Setiap Kamisan: Kisah Cinta Yang Terselip di 400 Kamis Seberang Istana. Puisi esai ini didedikasikan kepada para ibu dan siapa saja yang mencari. Hilang tanpa kabar seseorang yang kita cintai membawa ruang hampa yang menganga di hati.

Namun dimana sebaiknya buku ini saya publikasikan agar mudah diakses? Ini era media sosial. Di era ini, negara dengan penduduk terbesar bukan lagi Cina. “Penduduk negara” Facebook sudah melampaui Cina.

Ternyata sudah banyak public library di Amerika, Inggris dan negara lain yang juga bisa diakses lewat facebook.

Sejak tanggal 30 April 2018, dibantu teman yang ahli IT, sayapun membuat perpustakaan puisi esai di Facebook. Buku “Kutunggu di setiap Kamisan” diletakan dalam katalog PUISI ESAI Terbaru.

Dalam perpustakaan Puisi Esai di Facebook bisa dinikmati sekitar lebih dari 40 buku puisi esai yang ditulis ratusan penyair dan penulis dari Aceh hingga Papua (Katalog 2 dan 3). Ada pula katalog video animasi, yang mengekspresikan puisi esai dalam video (Katalog 4).

Ada pula puisi esai yang sudah dipentaskan dalam teater (Katalog 5). Termasuk dalam katalog 5 adalah poetry reading puisi esai oleh Sutardji Calzoum Bachry, Putu Wijaya, Niniek L Karim, Sudjiwo Tejo, Fatin Hamama. juga ada teater Sapu Tangan Fang Ying yang dipentaskan di Jogjakarta oleh Isti Nugroho dan Indra Trenggono.

Ada pula puisi esai yang sudah difilmkan oleh Hanung Bramantyo (Katalog 6).

Saya sedang menunggu selesainya 34 buku puisi esai. Ini seri buku puisi esai Indonesia dari 34 provinsi yang melibatkan 175 penyair dan penulis. Terlibat pula 34 akademisi pemberi kata pengantar dari Aceh hingga Papua. Mereka melukiskan batin Indonesia dalam puisi esai.

Saya juga sedang menunggu para guru dan dosen menuntaskan buku panduan puisi esai untuk sekolah. Lalu ada anak SMP, SMA, dan Universitas menuliskan dunia mereka dalam puisi esai.

Saya juga sedang menunggu kisah hubungan dua negara Indonesia- Malaysia. Sebanyak 10 penyair dari Indonesia dan Malaysia mengekspresikan suasana batin hubungan dua negara itu dalam puisi esai.

Semua buku puisi esai itu nanti juga bisa diakses, dibaca dan dishare lewat facebook. Yang ingin mencetaknya juga bisa mencetak setelah dishare ke email masing masing.

Teknologi sudah sampai di tahap itu. Perpustakaan Puisi Esaipun tersedia di facebook.

Dimana alamatnya? Cukup ke facebook, di bagian searching, ketik saja “Perpustakaan Puisi Esai.” Andapun secepat kilat diantar oleh internet sampai di beranda perpustakaan puisi esai. Enam katalog tersaji di sana.

Jumpa pertama di perpustakaan itu dengan puisi esai saya yang terbaru, selesai revisi 30 April 2018, 41 tahun peringatan gerakan para Ibu Plaza de Mayo. Buku itu sekaligus penanda dilaunchingnya perpustakaan puisi esai di Facebook: Kutunggu di Setiap Kamisan: Kisah Cinta yang Terselip di 400 Kamis Seberang Istana.

Selamat datang di perpustakaan puisi esai di facebook.

April 2018

Karya : Denny JA