Ikhtiar Membangun Karakter Siswa di Sekolah Melalui Puisi Esai

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 31 Maret 2018
Ikhtiar Membangun Karakter Siswa di Sekolah Melalui Puisi Esai

Ikhtiar Membangun Karakter Siswa di Sekolah Melalui Puisi Esai

Denny JA

Suatu ketika, George Clemenceau, berseru. Ia perdana menteri Perancis di era perang dunia pertama. Ujarnya, perang telalu penting untuk diserahkan kepada para jenderal. Perang hanya bisa dimenangkan jika semakin banyak elemen masyarakat terlibat, bahu membahu, meletakkan hatinya di sana.

Apa yang dikatakan Clemenceau juga dapat diterapkan untuk hal lain. Upaya mencerdaskan bangsa terlalu penting jika hanya diserahkan kepada pemerintah. Semakin banyak elemen masyarakat mencari ikhtiar untuk terlibat, semakin kokoh jalan mencapainya.

Sekelompok penyair, guru, pendidik, ingin ikut sumbang saran. Mereka datang ke Bali atas inisiatif pribadi, tanpa menggunakan dana pemerintah sedikitpun. Mereka datang tanpa menumpang lembaga pemerintah manapun.

Mereka disatukan oleh harapan yang sama. Para siswa harus lebih diperkaya wawasan, diperkuat karakter, disentuh rasa peduli sosial, diberi simulasi untuk berkarya: membaca, merenung dan menulis.

Memang sudah ada pelajaran agama di sekolah. Sudah pula ada pengajaran soal pendidikan kewarga negaraan. Sudah pula ada pelajaran sastra dengan contoh puisi Chairil Anwar dan lain lain.

Namun zaman sudah berubah dibanding era Chairil Anwar. Ini era ketika siswa sibuk dengan handphone. Era ketika sekelompok pelajar menjajal narkoba dan lem Aica Aibon. Era ketika pelajar tawuran. Era budaya Zaman Now yang tak terbayang oleh penyair Chair Anwar sekalipun.

Mereka ingin kembali mengenalkan sastra namun melalui puisi yang banyak bicara mengenai kisah masa kini, kisah yang dialami oleh siswa. Puisi esai membuka kemungkinan itu. Dalam puisi esai ada drama, ada catatan kaki, ada riset, bahasanya mudah.

Aha!!!! Mengapa kita tak coba membawa puisi esai ke sekolah? Ini ikhtiar justru membantu pemerintah tapi tanpa menggunakan dana pemerintah. Gerakan literasi nasional, membangun moral pancasila, pendidikan karakter dan disiplin, yang dicanangkan pemerintah, lebih dibantu dan lebih mudah disampaikan lewat puisi esai.

-000-

Maka berkumpulah para guru dari lima pulau besar. Dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Sumatera, mereka kumpul di Bali, tanpa menggunakan dana pemerintah. Mereka sharing informasi. Mereka mencari solusi. Mereka melakukan riset.

Tiga tahapan kerja disepakati. Tahap pertama, mereka rumuskan dulu buku putih soal puisi esai. Apa itu puisi esai? Mengapa puisi esai bisa ikut membangun karakter di sekolah? Mengapa melalui puisi esai, the golden rules atau nilai manusiawi yang sentral dapat disemai?

Tahap kedua, membimbing para siswa SMP, SMA dan universtitas mengekspresikan masalah yang mereka alami melalui puisi esai. Ada riset di sana. Ada pendalaman emosi dalam proses penulisan itu. Bahasa puisinya mudah.

Akan terbit kumpulan puisi esai yang ditulis oleh anak SMP, anak SMA dan Universitas di lima pulau. Buku ini akan membuka mata kita semua tentang dunia batin dan sosial yang mereka alami. Juga membuka mata sesama siswa sendiri untuk memahami dunia mereka melalui kaca mata teman satu generasi.

Tahap ketiga, setelah buku pengajaran puisi esai selesai, setelah buku puisi esai yang ditulis anak anak SMP, SMA dan Universitas tuntas, pengajaran mulai dilakukan sebagai tambahan materi.

Dibuatkan pula lomba puisi esai di kalangan anak anak sekolah.

-000-

Jika ini berhasil, inisiatif para guru itu akan memberikan pengayaan tak hanya soal sastra. Lebih jauh dan lebih mendasar, sastra dan puisi esai itu hanya medium untuk untuk menyentuh hati dan wawasan siswa.

Pemerintah dan Menteri Pendidikan justru harus menyambut gembira. Para guru dan mereka yang peduli bangkit bahu membahu ikut mencerdaskan bangsa.

Bangsa terlalu besar jika hanya dikelola pemerintah. Upaya mencerdaskan siswa terlalu penting jika hanya diserahkan kepada pak Menteri.

Semoga ikhtiar anak bangsa dan para guru ini menjadi spirit yang membangkitkan kesadaran serupa komponen bangsa lain.

Puisi esai memasuki satu tahapan penting: masuk ke sekolah!

Bali, Maret 2018

  • view 136