Imajinasi Seni, Manusia Telanjang dan Antonio Blanco

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Wisata
dipublikasikan 30 Maret 2018
Imajinasi Seni, Manusia Telanjang dan Antonio Blanco

Imajinasi Seni, Manusia Telanjang dan Antonio Blanco

Denny JA

Suatu ketika, sastrawan legenda Goethe berkata. Mereka yang tak pernah melihat sistine chapel, tak akan pernah menduga pencapaian yang bisa dicapai oleh manusia.

Sekitar tujuh tahun lalu, berjam- jam saya menikmati, merenung dan terdiam memandang dinding dan plafon sistine Chapel. Serial lukisan Michael Angelo seolah hidup dan bercerita. Saat itu saya tak hanya bertatap muka namun bertatap batin dengan salah satu pelukis dan pematung terbesar sepanjang sejarah.

Yang membuat saya terkesima, bukan saja keindahan lukisannya. Bukan pula kedalaman filosofi yang ingin ia kisahkan dalam lukisan itu. Saya lebih terkesima oleh satu pertanyaan.

Apa yang dikatakan Michael Angelo kepada para petinggi gereja di Roma sana saat itu? Ketika seruan menutup aurat itu sangat fundamental dalam ajaran agama, di sini, di salah pusat gereja, justru asesori gereja penuh dengan lukisan telanjang?

Apa yang diyakinkankan oleh Michael Anggelo sehingga aneka lukisan manusia telanjang bukan saja dibolehkan menghiasi gereja namun justru dibanggakan?

-000-

Memori Sistine Chapel datang kembali ketika saya mengunjungi Museum Antonio Blanco di Bali. Bersama teman teman Kelompok Studi Proklamasi, merayakan 35 tahun persahabatan, bersama kami Ke Bali. Keindahan seni di Bali salah satu yang ingin dinikmati bersama.

Museum Antonio Blanco menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi turis di Ubud.

Antonio sendiri berdarah spanyol dan lahir di Filipina. Namun akhirnya, ia jatuh cinta pada Bali. Ia tak hanya menikah dengan penari Bali. Tapi keindahan panorama dan gadis Bali menjadi sentral dalam lukisannya.

Selama 47 tahun, Blanco tinggal di Bali. Tanah yang kini menjadi tempat museum diberikan oleh bangsawan Ubud. Secara bertahap tanah itu ia bangun. Museum itu menyimpan tak hanya ratusan lukisannya.

Ikut didisplay pula ruangan tempat ia melukis. Pemandu tur itu bercerita. “Di sini bapak (Antonio Blanco) melukis. Wanita telanjang itu berpose di sana. Tapi istri bapak selalu hadir mendampingi bapak melukis. Lebih banyak istri bapak sendiri yang menjadi obyek lukisan wanita telanjang.”

Begitu banyak memang lukisan soal wanita telanjang dipamerkan di sini. Ada pose tunggal wanita telanjang yang sedang kesepian. Ada pula yang sedang bermesraan.

Pigura lukisannya tergolong unik. Pigura tak hanya menjadi tempat untuk merangkai kanvas lukisan. Tapi di tangan Antonio, pigura ternyata bagian dari lukisan itu sendiri.

Kreativitasnya dalam membuat pigura lukisan sangat terasa. Ada pigura yang dihiasi oleh aneka bentuk dan warna sabun balok masa itu. Tak semua merek sabun di sana saya ingat. Ada pigura dengan kombinasi botol kecil. Ada pula pigura seperti pintu yang perlu kita buka untuk melihat lukisannya.

Pigura itu menambah aura wanita telanjang yang menjadi tema utama lukusan. Khusus pigura yang seperti pintu, ketika dibuka, wow, di dalamnya lukisan pose wanita telanjang yang lebih privat.

Dalam sejarah seni lukisan, patung atau photography, manusia telanjang itu sudah menjadi bagian dari tradisi seni. Ia tak bisa dihilangkan oleh doktrin agama ataupun aturan hukum. Seni seolah wilayah imajinasi manusia yang tak bisa dikrangkeng oleh formalisme agama atau formalitas hukum.

Namun memang ada perbedaan. Walau sama obyeknya soal manusia telanjang, tapi ada seni yang lebih terasa sisi spiritualitas. Ada pula seni yang lebih menonjol sisi estetis, erotis bahkan sampai ke pornografi.

Di satu area museum, ada lukisan Michael Jackson. Ujar pemandu, lukisan itu dibuat bapak (Antonio Blanco) ketika berjumpa Michael Jackson. Bapak jumpa Michael Jackson ketika kulitnya masih hitam dan juga ketika kulitnya sudah putih.

Di akhir cerita ia memberikan quiz. Ini pertanyaannya: apa warna penis Michael Jackson akhirnya: hitam atau putih? Saya terkaget mendengar pertanyaannya. Susah pula saya memastikannya. Michael Jackson pernah berkulit hitam dan putih. Tak ada berita apa warna kulit penisnya ikut berubah.

Lalu saya tersenyum. Saya menyadari ini sebagai bumbu sebuah museum belaka. Saya melihat sang pemandu menanyakan hal yang sama kepada banyak pengunjung lain. Saya berani bertaruh bahkan mungkin Antonio Blanco sendiri tak tahu jawabannya.

Keluar dari museum Antonio Blanco, kembali saya teringat Sistine Chapel. Manusia telanjang di museum Antonio Blanco memberikan saya keindahan estetika. Tapi manusia telanjang lukisan Michael Angelo di Sistine Chapel memberikan saya renungan spiritual

Begitulah ragam imajinasi yang bisa diberikan oleh keindahan seni.***

Maret 2018

  • view 276