Persahabatan, Politik Mahasiswa, dan Keindahan Indonesia dalam Tarian

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 29 Maret 2018
Persahabatan, Politik Mahasiswa, dan Keindahan Indonesia dalam Tarian

Persahabatan, Kisah Politik Mahasiswa dan Keindahan Indonesia dalam tarian

Denny JA

Malam itu di Bali saya menikmati dua keindahan sekaligus: persahabatan dan seni Indonesia.

Tiga puluh lima tahun lalu, di tahun 80-an, kami menjadi aktivis mahasiswa. Pak Harto sebagai  Presiden kala itu begitu kuatnya. Kampus direpresi. Namun selalu ada celah untuk tetap kritis walau lebih banyak di wilayah pemikiran.

Kami bersama mendirikan Kelompok Studi Proklamasi, semacam alternatif kegiatan mahasiswa yang tak hanya ingin belajar di kampus namun ingin terlibat di masyarakat.

Saya ingat saat itu masa saya menjadi mahsiswa yang penuh kesulitan ekonomi. Begitu sering saya bulak balik ke perpustakan Idayu agar dapat membaca buku secara gratis. Atau berlama lama berdiri di depan jajaran buku Gunung Agung: berlagak sedang menimbang membeli buku baru. Padahal saya membaca cepat pengantar dan penutupnya secara gratis pula.

Era itu belum ada handphone, apalagi Om Google. Tak bisa saya mendapatkan info gratisan kecuali membaca buku di perpustakaan atau membaca cepat di toko buku.

Saya ingat di tahun 1986, usia saya 23 tahun. Saat itu saya kuliah semester tujuh di UI, dan semester tiga di Filsafat STF Driyarkara. Saya menulis di Kompas artikel berjudul: Kelompok Studi Mahasiswa, Masyarakat dan Negara.

Saya ceritakan tentang kisah kelompok studi mahasiswa yang muncul di tahun 20an. Soetomo, mohammad Hatta juga Soekarno, mendirikan aneka kelompok studi. Kala ini kolonial represi Belanda sedang di puncaknya. Menyusun rencana Indonesia merdeka, mereka justru memulai dengan mempelajari aneka konsep mengenai nasionalisme dan perjuangan politik.

Dalam tulisan di Kompas itu, saya menyamakan kondisi tahun 80-an dengan era tahun 20-an. Saya usulkan agar kelompok Studi Mahasiswa menjadi alternatif kegiatan mahasiswa untuk tetap memelihara dan mengembangkan spirit kritis mahasiswa.

Setelah tulisan itu, kisah Kelompok Studi Mahasiswa menjadi trend. Saya ingat Kompas kemudian menurunkan tulisan tiga seri dalam waktu tiga hari di halaman pertama. Betapa senangnya saya. Saat itu wajah saya muncul di halaman pertama Harian Kompas.

Tak lama kemudian, majalah Tempo menjadi isu mahasiswa dalam cover story. Kesenangan saya bertambah. Isu kelompok Studi Mahasiswa semakin menjadi.

Tak semua aktivis mahasiswa dan tokoh opisisi bersetuju dengan kehadiran kelompok studi mahasiswa. Yang tak setuju beranggapan saya melemahkan perlawaban mahasiswa kepada pak Harto, dengan mengalihkan sikap kritis mahasiswa dari demonstrasi jalanan ke dunia pemikiran.

Saya ingat beberapa kali saya diundang ke luar kota. Saya mengira diajak berdiskusi dan dipuji. Namun lebih sering saya diadili.

Kelompok Studi Proklamasi terus berjalan. kami menerbitkan banyak buku hasil diskusi dan wawancara kami dengan banyak tokoh.

Tiga puluh lima tahun berlalu. Kami yang aktif di kelompok studi proklamasi tetap berteman. Jalan hidup mulai berbeda. Ada yang tetap menjadi aktivis abadi. Ada yang sempat menjadi jurnalis.

Saya termasuk yang agak menyimpang, mencoba juga dunia bisnis karena terkesan dengan konsep Finansial Freedom.

-000-

Merayakan 35 tahun perjalanan bersama sebagai teman, Akhir Maret 2018, kami bersama ke Bali. kebetulan satu dari anggota Kelompok Studi Proklamasi menetap di sana. Suaminya orang Perancis yang cinta Indonesia dan mendalami seni.

Jika mantan aktivis mahasiswa berjumpa, apa yang dilakukan? Dari pikiran dan sikap hidup yang relatif sama di tahun 80an, setelah melewati 35 tahun perjalan hidup masing masing, sikap politik dan pemahaman agama sudah tak lagi sama.

Ada kesamaan yang tetap bisa dilakukan bersama. Ketika politik atau paham agama memisahkan, seni menyatukan.

Kamipun mencari keindahan seni di Bali untuk dinikmati bersama. Merayakan persahabatan melalui apresiasi seni.

Sudah lama saya terkesima dengan teater. Setiap kali melancong ke luar negri, saya selalu menyempatkan diri ingin menikmati pertunjukan teater di kota itu.

Saya menikmati Miss Saigon di Broadway Amerika Serikat. Saya menyukai pula Lion King Musical dan Mama Mia di London. Juga saya dilezatkan oleh Les Miseables di Paris. Begitu dahsyat teater itu dimainkan setiap hari sudah bertahun-tahun.

Miss Saigon sebagai misal sudah dipentaskan di sana sejak tahun 1991. Hingga kini, selama 27 tahun, teater itu masih dipentaskan setiap hari. Lion King dipentaskan sejak tahun 1997. Setiap hari sampai hari ini juga masih dipentaskan.

Bagaimana dengan teater di Indoesia? Umumnya teater yang dipentaskan di TIM hanya bertahan 1-3 hari. Pentas itu paling lama sebulan jika yang memainkannya Teater Koma.

Tapi teater di Bali mulai berbeda.

-000-

Malam itu bersama teman teman Kelompok Studi Proklamasi, kami menonton Devdan. Teater ini mencampurkan drama yang didominasi tarian.

Itu kali ketiga saya menontonnya. Devdan mungkin akan dikenang sebagai industri teater pertama di Indonesia yang dipentaskan empat hari dalam seminggu, dan sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.

Ia berkisah soal dua remaja yang bosan dengan perjalanan tour rombongan. Berdua mereka terpesona oleh cahaya di gunung yang dikenal suci. Mereka memisahkan diri dari rombongan, menggapai puncak itu.

Sesampainya di sana, mereka menemukan kotak ajaib. Setiap kali mereka membuka isinya, mereka pun seolah terbang ke lain waktu dan ruang. Yang mereka alami adalah keindahan Indonesia dari Aceh hingga Papua.

Pertunjukan selama 90 menit Itu cukup menyajikan keindahan Indonesia dalam tarian. Kadang tarian itu sudah pula diramu dengan unsur modern dan musik zaman Now.

Kisahnya sederhana. Namun sudah cukup bagi turis asing untuk melihat keberagaman dan keindahaan Indonesia dalam ruangan ber- AC, dan nyaman.

Saya mensyukuri akhirnya di Indonesia bisa ditemukan teater modern yang bertahan untuk pentas lebih dari tiga tahun setiap empat hari dalam seminggu.

Keindahan seni dalam teater itu menjadi lengkap karena kami nikmati bersama dengan merayakan keindahan persahabatan kami selama 35 tahun.


Bali, Maret 2018

  • view 186