Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Enterpreneurship 20 Maret 2018   10:13 WIB
Dan Kreativitas Pun Menular

DAN KREATIVITAS PUN MENULAR

Denny JA

- Lima dosen/guru dari lima pulau (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua), berkomunikasi melalui WA, bersepakat membuat panduan buku puisi esai untuk diajarkan di sekolah (SMP, SMA, Universitas)

- 10 Penyair Malaysia dan Indonesia akan berjumpa di Malaysia, bersama menyusun isu, merekam batin hubungan dua negara (Malaysia dan Indonesia) dalam Puisi Esai

Sebuah tweet dari @ThisBeKenny saya baca, di sela minum kopi pagi: “Creativity is also an infectious spirit that can pass between two people.” Kreativitas itu sejenis virus yang menular. Mereka yang kreatif dan berkarya sesungguhnya melepaskan virus positif ke ruang publik. Virus itu segera menular untuk melahirkan kreativitas lainnya.

Inilah yang terjadi pada kisah kreativitas di dunia puisi esai. Sudah heboh di ruang publik, 170-175 penyair dan penulis puisi esai dari seluruh provinsi di Indonesia akan membuat karya bersama. Tak diduga gegap gempita pro dan kontra puisi esai ternyata menjadi virus yang menular.

Maka tertularlah penyair, dosen, aktivis dan penulis lain. Virusnya meluas hingga ke negeri seberang.

Segera lahir lima buku penting lainnya, yang semakin mengukuhkan puisi esai sebagai tonggak baru dunia puisi Indonesia. Setelah gegap gempita lahirnya 34 buku puisi esai yang memotet batin Indonesia di 34 provinsi, ini lima buku berikutnya.

Buku Pertama: Panduan Puisi Esai untuk Siswa/Mahasiswa.

Survei LSI Denny JA (Nov 2017) menyimpulkan mereka yang membaca sastra lebih berempati. Namun pembaca sastra di Indonesia semakin berkurang. Di tahun 2017, berdasarkan data survei LSI, jumlah mereka tinggal 6 persen saja.

Sastra perlu kembali digalakkan. Ruang yang paling efektif untuk itu adalah pengajaran di sekolah. Puisi esai memasuki fase penting berikutnya. Ia perlu dan akan diajarkan di ruang kelas.

Lima dosen dan guru yang memang mengajar di sekolah serta kampus mengambil inisiatif. Mereka datang dari lima pulau berbeda.

Dari Papua, guru bernama Anggia Budiarti. Dari sulawesi, akademisi bernama Dr Rasiah, M Hum. Dari Kalimantan, dosen dan penyair bernama: Muhammad Thobroni. Tak tertinggal guru dari Jawa.

Mereka bersepakat perlunya tambahan buku soal puisi untuk sosialisasi di sekolah. Puisi esai yang sarat dengan kisah sosial, sejarah dan moral, ada drama di dalamnya, ada catatan kaki untuk dieksplorasi, dinilai sangat cocok untuk menambah wawasan siswa melalui puisi.


Buku Kedua: The Tales of Two Countries

Hal yang istimewa dari puisi esai, ia punya fasilitas mengkisahkan drama dan sisi batin sebuah isu sosial. Hubungan dua negara serumpun: Malaysia dan Indonesia banyak pula sisi human interest di balik soal ekonomi, bisnis dan budaya.

Jika 170 penyair bisa mengekspresikan batin Indonesia, maka 10 penyair dari Malaysia dan Indonesia akan merekam the tales of 2 countries dalam puisi esai.

Direncanakan, lima penyair Malaysia yang terlibat adalah:

1. Datuk Jasni Matlani
2. Hasyuda Abadi
3. Siti Rahmah G Ibrahim
4. Jasni Yakob
5. Abdul Karim Gullam

Fatin Hamama bersama Datuk Jasni Matlani menjadi penggagas buku ini. Lima penyair dari Indonesia sudah pula menyusun isu yang akan dieskspresikan.

Buku ini menjadi penanda tahapan puisi esai berikutnya. Hubungan dua negara kini tak hanya bisa kita dalami melalui buku hubungan internasional, tapi juga melalui puisi esai.

Mereka yang ingin tahu masalah dagang dan politik antara Indonesia dan Malaysia bisa membaca aneka buku ekonomi dan politik. Namun jika ingin tahu sisi batin hubungan dua negara, sebuah buku puisi esai segera dihidangkan.

Buku ketiga, 50 Opini Publik Luas Mengenai Puisi Esai.

Virus puisi esai berikutnya menyerang publik luas. Tak hanya penyair karir, namun penulis, dosen, aktivis, jurnalis, dan kini publik luas ingin pula menyampaikan gagasannya tentang puisi esai dalam hubungannya dengan masyarakat.

Sudah lama puisi terasing dari masyarakat. Sudah lama puisi hanya berhenti menjadi kegiatan kesenian yang berputar di kalangan penyair dan peminat. Prosentase jumlah mereka semakin lama semakin sedikit. Puisi esai potensial membawa kembali puisi ke tengah gelanggang.

Penyair, Kritikus dan Aktivis Sastra asal NTT: Yohanes Sehandi bersama Narudin Pituin dari Jawa Barat, akan menampung aneka opini publik luas. Ragam opini itu akan pula bisa dibaca dalam satu buku.

Buku keempat: Kredo Puisi Esai.

Namun apakah sebenarnya kredo atau platform puisi esai? Apa yang membedakan puisi esai dan puisi lainnya? Rezim sastra yang bagaimana yang berada dibalik pro dan kontra puisi esai.

Ahmad Gaus termasuk orang orang pertama yang bersentuhan dengan puisi esai. Ia mengamati secara sangat dekat, sejak era kelahiran puisi esai hingga evolusinya enam tahun kemudian.

Berdasarkan wawancara imajiner dengan Denny JA, Ahmad Gaus akan menuliskan sebuah buku: Pergolakan Puisi Esai. Membaca buku Ahmad Gaus ini, kita seperti membaca album sejak halaman pertama puisi esai hingga bab akhir perkembangannya.

Buku Kelima: Ceritakan Lewat Puisi Esai: Opini Puisi di Ruang Publik.

Ini kumpulan opini saya sendiri selama enam tahun mengembara. Dimulai dengan kisah saya yang kembali dari dunia bisnis ingin masuk, pulang ke rumah asal ke dunia tulis menulis.

Asal saya adalah penulis. Kampung halaman saya adalah menulis. Sejauh apapun saya mengembara. Sejauh apapun bisnis saya geluti. Sejauh apapun petarungan politik saya hadapi. Ternyata ujung semua adalah rindu kampung halaman. Rindu menulis kembali.

Saya pun ingin “Kembali ke khittah.”

Kepada banyak teman, saya katakan saya sedang hamil tua. Harus ada sesuatu yang saya sumbangkan. Saya belum tahu apa yang akan saya buat ketika memutuskan pulang ke kampung halaman, dunia tulis menulis. Ternyata anak batin saya yang lahir bernama puisi esai.

Astaga! Ternyata tak hanya lahir bayi puisi esai. Lahir pula gempa sosial yang menyambutnya. Pro dan kontra menghebat. Opini demi opini, esai demi esai, bahkan riset nasional LSI saya lakukan untuk menyelami opini publik soal puisi.

Tak terasa lebih dari 30 esai sudah saya tulis soal itu. Kini semua esai itu bisa dibaca dalam satu buku.

-000-

Wow!!! Itulah ekspresi saya ketika merenungkan kembali kisah puisi esai. Saya teringat satu malam ketika rindu ingin menulis kembali. Sejak tahun 2003-2011, praktis saya absen dari dunia tulis menulis.

Tahun 2001, saya kembali dari sekolah di Amerika Serikat. Sekolah S2, lalu S3, praktis tujuh tahun saya tinggal di negeri Paman Sam iru.

Tahun 2003, Itu era saya hijrah dari penulis menjadi pengusaha dan konsultan politik. Asam garam mengenai batin manusia dalam pertarungan politik dan bisnis memberi banyak hal baru. Termasuk yang diberikan olehnya adalah rasa sepi.

Sayapun mengidam dan hamil. Ketika hamil menua, terasa yang akan saya lahirkan adalah puisi. Dan ternyata yang saya lahirkan tak hanya puisi, namun juga kehebohan.

Dari satu puisi pertama: Sapu Tangan Fang Yin, lahirlah buku puisi esai pertama Atas Nama Cinta. Kini saya pribadi sudah menulis 25 buku puisi .

Total buku puisi esai berkembang menjadi 40 buku, lalu bertambah lagi dengan 34 buku puisi esai dari 34 provinsi. Total yang terlibat dalam puisi esai kini 250 penyair dan penulis.

Virus puisi esai itu terus meluas. Kini akan lahir kembali 5 buku puisi esai tambahan.

Begitulah virus menyebar. Begitulah kreativitas menular.

Maret 2018
(Di Bandara Soekarno Hatta sambil menunggu datangnya pesawat)

 

 

Karya : Denny JA