Pondok Paman Tom dan Sejarah yang Didramatisasi

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 19 Maret 2018
Pondok Paman Tom dan Sejarah yang Didramatisasi

Pondok Paman Tom dan Sejarah yang Didramatisasi

(Pengantar Buku: Ceritakan Lewat Puisi Esai: Opini Soal Puisi di Ruang Publik)

Denny JA

Anak muda di zaman now mungkin akan terpana. Ada jenis pekerjaan di satu masa yang sangat jauh di masa silam. Ialah pekerjaan sejenis pialang saham. Tapi di era itu saham belum dikenal.

Dalam bahasa Inggris, profesi yang mirip pialang saham di zaman itu disebut “Slave Catcher” dan “Slave Trader.” Ini istilah untuk pialang, jual beli manusia. Tepatnya bisnis jual beli budak sekaligus menyediakan jasa mencari dan memburu pada budak yang melarikan diri.

Uncle Tom’s Cabin sebuah novel yang ditulis Harriet Beecher Stowe kuat sekali merekam era itu. Yaitu era ketika peradaban masih diwarnai perbudakan. Dalam novel itu, Mr Haley adalah slave trader dan slave catcher.

Peradaban berhutang budi pada penulis novel di atas. Ia bukan saja berhasil merekam dengan sangat menyentuh sebuah kisah di sebuah zaman. Berbeda dengan dokumen sejarah biasa, novel itu mendramatisasi, melakukan framing, memfiksikan kisah sejarah, memasukkan nilai untuk menggerakkan hati.

Dramatisasi kisah sejarah itu bukan saja membuat Harriet berhasil merekam sisi batin dari sepotong sejarah. Namun ia juga berhasil ikut menyentuh hati pembaca, menggerakkan kesadaran pembaca, hingga akhirnya ikut mengubah jalan sejarah.

Novel itu dibuka dengan kisah Mr Haley, yang bergerak dalam jasa jual beli budak, dan pula menyediakan jasa melacak budak yang kabur dari rumah tuannya. Drama dimulai ketika Mr Haley berjumpa dengan Mr Shelby, yang punya banyak budak namun sedang terlilit hutang.

Dua budak terbaik akan dijual. Dibanding budak lain, harga mereka potensial paling mahal. Budak yang satu bernama Tom. Ia tahan penderitaan karena keyakinan agama Kristen. Yang satu anak lelaki dari seorang budak perempuan Eliza. Berbeda dengan Tom, Eliza lebih berani berontak secara frontal melawan ketidak adilan.

Novel ini merekam perjalanan yang berbeda antara dua karakter budak itu: Tom dan Eliza, dari satu penjualan budak kepada penjualan budak lainnya. Dimanapun berada, betapapun berat siksaan, Tom sang budak selalu menyampaikan ajaran agama tentang cinta dan persamaan harkat manusia. Sementara Eliza, mengambil resiko kabur mencari kebebasan dengan caranya sendiri.

Begitu kuat penggambaran drama dan batin manusia, sehingga novel ini dipandang ikut berjasa menghapus bisnis perbudakan dalam peradaban.

Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat, selalu dikenang sebagai pemimpin yang berani mengambil resiko untuk pembebasan manusia. Ia memimpin sebuah keputusan politik menghapus dan melarang perbudakan. Akibat keputusannya, meletus perang sipil yang panjang dan sangat membelah Amerika.

Suatu ketika Abraham Lincoln berjumpa dengan Harriet, sang penulis novel Uncle Tom’s Cabin. Lincoln berkata bahwa Harrietlah sang pemula yang menggugah opini pentingnya perbudakan dihapus. Para ahli sejarah berbeda pandangan apakah memang pernyataan itu pernah dibuat Lincoln. Namun meluasnya kisah pertemuan Lincoln dan Harriet cukup menggambarkan betapa kuatkan pengaruh sejarah yang difiksikan oleh Harriet.

-000-

Ya, sejarag yang difiksikan. Ya, sejarah yang tambahkan kekuatan imajinasi. Sejarah yang didramatisasi melalui imajinasi tentu dilarang dalam penulisan ilmu sejarah. Namun untuk sastra, tiada yang terlarang karena sastra memang dunia imajinasi.

Kini kisah sejarah yang difiksikan, kisah sosial nyata yang difiksikan, atau lebih luas lagi fakta yang dicampur dengan fiksi juga ditemukan dalam satu jenis puisi, yang disebut puisi esai.

Generasi intelektual, penulis dan penyair Indonesia di era reformasi membuat eksperimen sebuah genre baru: Puisi Esai. Genre itu tentu tetap berinduk pada puisi atau prosa lirik.

Namun berbeda dengan pendahulu, puisi esai menambahkan satu dimensi yang justru di sana letak kekuatannya. Inilah puisi panjang yang di dalamnya ada drama layaknya cerpen, dan ada setting isu sosial nyata, lalu ada catatan kaki layaknya makalah ilmiah, menjelaskan fakta yang melahirkan kisah puisi itu.

Generasi ini bersama melahirkan apa yang belum pernah dibuat: 170-175 penyair, penulis, aktivis, dosen, jurnalis, merekam batin Indonesia di semua provinsi dalam format puisi esai. Satu provinsi satu buku. Satu buku terdiri lima atau enam isu sosial. Lahirlah 34 buku seri puisi esai Indonesia.

Peran saya hanya di awal saja, untuk mengerjakan aneka hal ihwal sekaligus. Saya merumuskan dulu konsep intelektual sebagai kredo puisi esai. Saya juga menuliskan dan menerbitkan dulu contoh buku puisi esainya. Saya juga memarketingkan dan berdebat di ruang publik soal eksperimen puisi esai. Sekaligus saya juga mencarikan dana, dan menyentuh para penulis lain untuk ikut serta.

Namun kerja saya tak akan bergema tanpa dukungan para founding fathers and mothers yang kini terlibat dalam eksperimen puisi esai. Kini saya hanya salah satu saja dari lebih 200 intelektual, penyair, penulis, dosen, aktivis, ibu rumah tangga, politisi, pembuat film, pengusaha yang terlibat dalam eksperimen sebuah generasi.

Inilah kumpulan para inovator puisi esai. Mereka sedang berjibaku dengan sebuah ijtihad budaya. Kita hidup di era yang besar ketika sejarah ditulis ulang. Aneka perubahan terjadi di segala bidang akibat datangnya revolusi industri keempat. Apa salahnya dunia puisi ikut pula cawe-cawe menyampaikan sesuatu yang baru, ikut memperkaya dunia puisi.

Maka lahirlah 40 buku yang kemudian menjadi lebih dari 70 buku puisi esai. Total yang menulis puisi esai lebih dari 250 penulis dari seluruh provinsi Indonesia. Tak ada satu sen pun dana pemerintah atau pihak asing atau pabrik rokok yang digunakan. Tak ada sedikitpun instansi atau lembaga pemerintah ditumpangi. ini murni gerakan civil society.

Untuk sosialisasi, berdebat di ruang publik, konseptualisasi puisi esai, tak terasa sudah lebih dari 30 esai saya tuliskan. Saatnya 30 esai itu disatukan dalam buku.

Maka terhidanglah buku ini dihadapan para sahabat, publik luas, termasuk pendukung ataupun kontra puisi esai. Semua gagasan saya menggerakkan opini dan merespon situasi terekam di buku ini.

Tapi apakah benar sebuah genre baru sudah lahir: genre puisi esai? Apakah benar telah datang angkatan baru: angkatan puisi esai? Apakah benar puisi kini punya nilai lebih, bisa merekam sepotong sejarah, bersama catatan kakinya? Apakah benar puisi esai dapat dikembangkan menjadi film layar lebar? Apakah benar penulis puisi esai pada waktunya dicatat paling kaya raya dibanding penulis puisi jenis lain karena drama di puisi itu dapat menjadi film layar lebar yang sangat laris?

Jawabnya tegas: Yes dan Ya dan Yessss!!! Sebuah klaim memang sengaja dibuat untuk menyentak. Tercapai atau tidak, itu adalah perjuangan.***


Maret 2018

  • view 177