Loving Van Gogh dan Potret Penyair Yang Menguning

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 15 Maret 2018
Loving Van Gogh dan Potret Penyair Yang Menguning

Loving Van Gogh dan Potret Penyair yang Menguning

- Catatan atas forum diskusi kontra puisi esai di Bandung

Denny JA

Selama 95 menit saya terpaku, menonton film Loving Vincent (2017). Ini film tentang salah satu pelukis yang dianggap terbesar sepanjang sejarah. Ada lukisannya yang kini dibeli di atas satu trilyun rupiah.

Bukan kisah film itu benar yang memukau saya. Walau film ini mencoba membuat jalan cerita yang tak biasa. Sudah lazim dimengerti bahwa Van Gogh yang kini legendaris, dulu mati dalam kondisi miskin dan menderita. Ia memotong kupingnya sendiri. Iapun diberitakan mati bunuh diri.

Namun film ini memilih interpretasi yang berbeda. Dibuat aneka kisah sehingga penonton memcari kesimpulan sendiri. Oh, ternyata Van Gogh bukan bunuh diri, tapi dibunuh atau dibiarkan mati.

Bukan pula penghargaan atas film ini yang memukau. Memang film ini memenangkan European Film Award yang ke 30 di Berlin. Ia dinominasikan pula sebagai the best animated film dalam Academy Award ke 90.

Yang memukau saya adalah inside the story: kisah dibalik pembuatan film itu. Ini film pertama dalam sejarah yang semua animasinya terdiri dari lukisan.

Menonton film ini, lalu mendengar ulasan kaum yang kontra puisi esai di Bandung, saya semakin terpana. Di bandung, di Gedung Indonesia Menggugat, dibuat diskusi berjudul Membongkar Skandal Proyek Puisi Esai.”

Membaca opini para pembicara yang dimuat di Pikiran Rakyat.Com, 13 Maret 2018, saya seolah melihat potret yang menguning. Ialah potret sebuah zaman yang kini terasa begitu tua, begitu tertinggal. Apalagi jika dibandingkan dengan inside story dari Film Loving Vincent di atas.

-000-

Sejarah selalu menyajikan hal baru, hal untuk pertama kali. Bagi para entrpreneur hal yang menggugah jika bisa menghadirkan sesuatu untuk pertama kalinya, memperkaya peradaban.

Film Loving Vincent adalah karya pertama sepanjang sejarah film untuk jenis itu. Pertama kalinya hadir film animasi yang semua animasinya adalah lukisan. Dalam satu detik, film ini memerlukan setidaknya dua lukisan. Selama 95 menit film berlangsung, dibutuhkan 65 ribu lukisan yang dirangkai menjadi animasi yang hidup.

Apa yang dilakukan para kreator dalam pembuatan film inovatif Loving Vincent? Mereka mencari 125 pelukis untuk membuat 65 ribu lukisan. Semua pelukis diberi arahan hanya melukis dengan gaya Post Impresionism saja.

Apa yang dilukis? Kesan apa yang perlu ditimbulkan? Bagaimana agar satu lukisan menyatu dengan lukisan lainnya?

Semua pelukis dibriefing. Karena ini kisah pelukis Van Gogh, semua 65 ribu lukisan itu harus dilukis dengan gaya, teknik atau genre yang sama: Post Impresionism. Warna, sapuan kuas, apa yang dilukis, tentu diarahkan.

Dalam seni lukis, Post Impresionism ini genre yang berkembang di tahun 1886-1905, sebagai reaksi atas genre sebelumnya: Impresionism. Gerakan Post Impresionism ini selalu dikaitkan dengan tiga pelukis raksasa: Paul Gaugin, Vincent Van Gogh dan George Seurat.

Sebanyak 125 pelukis itu berkarya kurang lebih selama dua tahun. Tentu saja semua pelukis membuat kontrak tertulis mengenai hak dan kewajiban. Tentu saja ada pembayaran awal yang diterima oleh para pelukis itu. Tentu saja ada arahan apa yang dilukis dan bagaimana cara melukisnya.

Apa hasilnya? Hasilnya sebuah film yang utuh. Kita menikmati 65 ribu lukisan, dalam genre Post Impresionism yang sama. Walau ini karya bersama 125 pelukis yang dikontrak, tapi terasa ada nada dasar yang sama.

-000-

Program puisi esai nasional melakukan hal yang kurang lebih sama dengan pembuatan film Loving Vincent. Ada narasi besar yang akan dibuat: memotret batin Indonesia di 34 provinsi. Walaupun program ini berbentuk 34 buku tapi ia ada dalam rangkai Seri Puisi Esai Indonesia yang sama. Ada nada dasar sama yang merekat keseluruhan.

Jika narasi besarnya memotret batin indonesia melalui puisi esai, apa yang harus dilakukan? Kita ajak penyair atau penulis ikut serta, untuk menulis puisi esai. Agak aneh juga jika narasinya 34 buku seri puisi esai, isinya malah jenis puisi lain, bukan puisi esai.

Karena 34 provinsi itu besar, dan satu provinsi menyimpan banyak isi, wajar pula, satu provinsi dipilih lima atau enam isu. Total penyair/ penulis yang dibutuhkan sekitar 170-175 tokoh karena satu penyair cukup menulis satu puisi panjang.

Karena puisi esai punya ciri, sebagaimana Post Impresionism dalam lukisan, tentu saja semua ciri itu harus dihadirkan. Tentu saja perlu arahan, perlu kisi kisi agar 34 seri buku sah disebut buku puisi esai.

Karena ini kerja besar, dan melibatkan dana besar untuk ukuran puisi, hal wajar saja ada kontrak antar penyair/ penulis dengan kreator. Karena menulis puisi esai perlu riset, wajar pula para penyair dan penulis yang ingin terlibat diberi dana awal untuk melalukan riset, sejauh sudah bersetuju untuk menulis.

Itu semua tahapan logis belaka dalam kerja seni skala nasional. Kini 90 persen 34 buku seri puisi esai indonesia itu hampir rampung. Batin Indonesia yang terpotret dalam 34 buku itu luar biasa. Ada 170-175 isu sosial yang membuat kita terpana akan kayanya batin Indonesia.

Namun proses kerja di atas yang logis saja, kini dipotret dan diframing secara lain oleh pihak yang kontra puisi esai. Yang paling ketara, dan agaknya menjadi opini utama adalah tulisan Ahda Imron: Ketika Sastra diijon.

Mari kita lihat bagaimana ia memframing proses menulis program 34 buku puisi esai. Saya cuplik saja itu sebagai kutipan langsung.

“Ijon puisi artinya puisi esai yang di­tulis oleh 170 penulis itu bukan lahir dari proses keinginan mereka menulis puisi esai. Melainkan ditulis karena konsekuensi menerima ajakan menulis satu bentuk puisi, dengan segala atur­an dan arahannya, dengan honor lima juta rupiah. Kesediaan itu dituangkan dalam bentuk kontrak meski puisi esai itu belum ditulis, yang kelak hak cipta puisi esai itu ada di tangan DJA. “

Lalu, Ahda Imran melanjutkan:

“Bagaimana mungkin seorang penulis yang menulis dengan sejumlah arahan dan aturan yang telah ditentukan, tema, bentuk, tengat waktu, dan segala pasal dalam kontrak, tulisannya bisa dibaca sebagai suara batin? Bisakah suara batin manusia diijon? Lalu potret apa yang sebenarnya lebih hadir dari mekanisme ijon batin ­seperti itu, atau jangan-jangan se­betulnya lebih mencerminkan potret hasrat DJA di tengah gelanggang ­sastra Indonesia? “

-000-

Tulisan Ahda Imran itu bukan saja menggambarkan seorang penulis yang asing atau tak pernah terlibat dalam kerja bersama untuk membuat sebuah karya atau serial karya yang koheren. Lebih celaka lagi ia menggambarkan sebuah zaman yang sangat tertinggal. Ibarat potret, ia sudah menguning di makan zaman.

Coba kita ikuti alur pikirannya. Ahda imran menyatakan bahwa penulis itu tidak menulis karena keinginannya sendiri. Tentu saja karena ini program dari seorang kreator untuk mengajak membuat karya bersama. Ide awal dari kreator itu.

Sebanyak 125 pelukis dalam film Loving Vincent juga tidak ujug ujug melukis karena keinginan sendiri. Mereka diajak seorang kreator untuk melukis bersama. Sebanyak 170 penyair/penulis puisi esai tidak tiba tiba bangun tidur lalu serentak punya keinginan mandiri menulis 34 buku besama. Pastilah ada yang mengajak.

Ada ide awal yang selalu dimulai oleh satu orang atau sedikit orang. Ia mengajak yang lain.

Kita lihat lagi argumen Ahda Imran berikutnya. Bagaimana mungkin penyair atau penulis menulis dengan sejumlah arahan, tema, tenggat waktu tertentu, ujarnya.

Nah ini yang membuat kita tambah bingung. Apa jadinya jika 125 pelukis film Loving Vincent dibiarkan berkreasi sendiri sendiri, terserah apa yang dilukis sesuai dengan situasi batin sang pelukis? Lalu teknik dan genre lukisan dibiarkan sesuai imajinasi masing masing? Akan jadikah film yang utuh terdiri dari 65 ribu lukisan dengan koherensi Post Impresionism?

Hal yang sama dengan puisi esai? Apa jadinya jika 34 buku seri puisi esai Indonesia, semua penulis dibiarkan menulis sesuai dengan pilihan puisinya, lalu topiknya sesuai dengan pilihan pribadi penulis? Akan jadikah serial 34 buku puisi esai yang utuh dan koheren, yang tujuannya memotret batin Indonesia?

Ahda Imranpun menamakan pembayaran awal untuk riset puisi esai sebagi ijon? Lho? Apakah ahda berharap biar saja penulis membiayai sendiri risetnya walau sudah dikontrak? Bukankah lebih bagus bagi penulis jika dana risetndisediakan? Bukankah down payment hal yang lazim, bahkan disediakan oleh industri seni.

Bahkan dalam industri penulisan buku zaman Now dikenal apa yang disebut “book advance.” Penulis bahkan meminta dana di awal yang agak besar setelah kontrak, walau detail buku yang akan ditulis belum selesai.

-000-

Membaca respon Ahda Imran sungguh membuat kita urut dada melihat mindset dan visi sebagian penyair. Begitu tertinggalnya mereka oleh peradaban. Yang membuat kita tambah prihatin respon mereka negatif pula terhadap hal baru. Mereka seolah menjaga status quo mindset kultur seni zaman lama yang sudah tertinggal, dengan segala argumen kemurnian sastra versi mereka sendiri.

Tulisan lain dalam diskusi kontra puisi esai bernada sama. Terasa mereka datang dari masa silam yang gagap dengan zaman yang tengah berubah. Jika opini utama diskusi kontra itu saja terasa sebagai potret yang menguning, apalagi tulisan lainnya.

Namun tentu saja kita tetap memberi apresiasi atas ikhtiar sebuah diskusi.

Saya membaca aneka tulisan kontra itu beberapa kali melihat almanak. Di almanak tertera hari ini tahun 2018. Tapi kok ketika membaca aneka opini pihak yang kontra puisi esai, saya kok berasa di abad 19, sebuah zaman yang sudah jauh tertinggal. Ya, sebuah potret yang sudah menguning.***


Maret 2018

 

  • view 144